Bisnis  

Andra Bersemangat Jual Kopi dan Belajar di PKBM untuk Hidup Mandiri

Kehidupan Andra Julianto: Dari Anak Jalanan ke Penjual Kopi Keliling

Andra Julianto, seorang pemuda berusia 18 tahun, kini menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari masa lalunya. Di atas jok motor Honda Revo-nya, ia membawa seperangkat alat seduh kopi sederhana dan berkeliling Kota Purwokerto mencari tempat strategis untuk membuka lapak. Pukul 09.00 WIB, ia mulai melaju dan berhenti di sebelah Rumah Sakit TNI, namun sayangnya diusir petugas karena tak boleh berjualan disitu.

Setelah berkeliling di sejumlah ruas jalan, akhirnya Andra memilih berhenti di tepi trotoar depan sebuah ruko kosong, Jalan Dr Angka dengan pohon rindang kanan-kiri, yang membuatnya teduh. Andra mulai bongkar muat dan dipasangnya papan nama bertuliskan “Kopi Rakyat Sipil: Arabika Robusta Manual Brew mulai dari Rp 5000”. Selesai menata peralatan seduh kopi, tiba-tiba seorang ojek online yang mangkal di depan ruko kosong itu datang menghampiri. Inilah disebut rezeki. Pembeli pertama datang, hendak membeli kopi hitam. Andra pun semringah, mulai meracik pesanan kopi hitam.

Caranya buat sederhana, nyaris tak mencolok. Tapi aroma kopinya buat pengendara motor yang melintas menoleh dan penasaran dengan si penjual kopi dengan style casual kaus hitam dan berkacamata itu. Namun sulit membayangkan, ternyata dibalik kesederhanaan itu, beberapa tahun silam hidup Andra dikenal sebagai seorang anak punk dengan rambut gondrong hidup di jalanan dan berpindah-pindah kota.

Memilih Jalanan

Andra tinggal di Desa Karangsalam, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Cerita itu bermula pada 2016, kala ia menamatkan pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD). Setelah kelulusan itu, hidupnya justru berbelok arah, bukan menuju bangku SMP sebagaimana anak pada umumnya, melainkan jalanan jadi wadah baginya berekspresi. Modalnya hanya satu, yaitu nekat.

“Setelah lulus SD langsung di jalan,” ujarnya. Awal terjun di dunia jalanan, ia bahkan tidak benar-benar memahami apa itu komunitas punk. Ia tidak punya gambaran ideologi atau identitas tertentu. Namun alasannya nekat jadi anak jalanan sangat berdasar. Apabila diungkapkan secara kasar, ia merasa sudah muak dengan keadaan rumah. Ia merasa tak punya harapan dari lingkungan keluarganya sendiri.

Alasannya adalah perhatian yang ia tunggu-tunggu dari orangtuanya seolah tak pernah datang. Ia mengatakan dirinya sendiri mengalami krisis eksistensi. “Waktu kecil saya sering bertanya, Saya ini sebenarnya ngapain? Saya di sini buat apa? Di sekolah saya dituntut menjadi ini dan itu, sementara kenyataannya terasa berbeda. Saya merasa kurang apresiasi dan tidak menemukan diri sendiri,” ucapnya.

Akhirnya ia memilih mencari lingkungan baru, mencoba hal-hal baru, demi satu perasaan sederhana yaitu bebas dan diapresiasi. Meski baru lulus SD, jarak emosional membuatnya merasa sendirian dan kurang perhatian sebagai anak pertama. Dari situlah ia terseret ke kehidupan anak jalanan.

Sekitar 2016 sampai akhir 2018, hampir dua tahun lamanya ia hidup berpindah-pindah kota. Berubah penampilan dengan rambut gondrong. Bergaul dengan komunitas punk, tidur di mana saja, mengikuti arus kemana hatinya itu melangkah.

Perjalanannya dimulai dari wilayah kecil di Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas yang saat itu Andra mencoba menginap semalam dan tidak pulang. Ia lalu melanjutkan perjalanannya lanjut ke Bumiayu, Brebes, lalu bergerak makin jauh hingga akhirnya bersama komunitasnya berhenti di Jogja. Dari sana perjalanan sempat berlanjut lagi ke Tangerang dan Bandung. Ia bahkan tak pernah pulang balik ke rumah selama masa pelariannya itu. Padahal kedua orangtuanya resah dan mencoba mencari keberadaanya.

“Orangtua tidak tahu saya kemana. Tiba-tiba hilang begitu saja. Biasanya kalau tidak pulang, saya hanya menginap di rumah saudara. Tapi kali ini benar-benar lenyap. Saat akhirnya pulang sekian lama, orang tuanya menangis, menanyakan saya selama ini di mana,” ungkapnya.

Titik Balik di Yogyakarta

Di Jogja, ia bertemu anak-anak punk dari kampus seni di Yogyakarta, khususnya dari lingkungan kampus ISI. Di sana, ia justru menemukan hal yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia melihat buku-buku, diskusi, dan literasi. Dari situ pemahamannya tentang punk berubah total. Menurutnya, apa yang ia lihat sebelumnya di jalanan hanya sebatas slogan. Terutama soal slogan anti-penindasan, tapi praktiknya justru menindas.

Sementara di lingkungan baru itu, ideologi dan tindakan terasa selaras. Ia mengenal seorang sosok bernama Rendra, mahasiswa ISI, yang banyak membukakan pandangannya. Pertemuan itu terjadi begitu saja, di jalan. Karena memang hidupnya saat itu benar-benar di jalan. Kalau sekarang ia mengingat masa itu, ia hanya bisa menggeleng. “Kamu terlalu nekat,” katanya pada dirinya yang dulu.

Namun saat itu, rasa takut seolah tidak ada. Ia mudah percaya pada orang yang baru dikenal, lalu ikut pergi begitu saja. Dari lingkungan ISI itulah pandangannya berubah. Ia baru tahu, punk tidak melulu mabuk-mabukan atau urakan. Banyak dari mereka justru mengoleksi buku, membaca, dan berkarya. Mereka punya literasi yang kuat. Dari situ Andra mulai gemar membaca. Ia juga belajar banyak tentang kesenian. Ia pun menyadari, punk yang ia lihat di jalanan hanya sebatas omongan.

Kesempatan Kedua

Saat pengambilan rapor di MTs, semuanya sudah selesai begitu saja tanpa penjelasan. Setelah itu, pilihannya jatuh pada PKBM. Di sanalah ia kembali melanjutkan pendidikan. Langkah Andra Julianto menuju bangku pendidikan di PKBM bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Ada peran ayah di baliknya. Ayahnya lah yang pertama kali menyarankan ia masuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai jalan terakhir agar tetap bisa melanjutkan sekolah dan pendidikan. Bersamaan dengan itu, Andra juga mulai merintis usaha kopi keliling. Konsepnya street coffee.

“Kalau usaha kopi, saya baru menekuninya sekitar satu tahun terakhir. Awalnya saya sudah cukup akrab dengan kopi karena sering membaca buku di kafe. Dari situ saya punya relasi dengan beberapa barista, lalu muncul rasa penasaran tentang bagaimana cara meracik kopi,” ucapnya.

Kesempatan menjadi pengusaha Street Coffe makin terbuka saat ia masuk PKBM. Di pertengahan semester akhir, ia mendapat pelatihan kopi. Dari situlah semuanya berubah. Pelatihan tersebut menjadi titik balik, dan ia memutuskan serius menekuni dunia kopi. Namun, sebelum sampai di titik ini, perjalanan hidup Andra cukup panjang.

“Saya ikut PKBM, ikut pelatihan, dan bertemu dunia kopi. Dari situlah saya menemukan jalan baru. Kalau dipikir-pikir, dari jalanan, buku, seni, sampai kopi, semuanya seperti rangkaian proses untuk menemukan diri saya sendiri. Dan hari ini, saya memilih menekuni di bidang kopi, bukan lagi di jalanan,” ucapnya.

Kehidupan Sekarang

Memasuki masa sekolah di PKBM, Andra juga membawa cerita lain. Ia sempat dikenal dengan rambut gondrong. Bukan sekadar gaya, ada alasan di baliknya. Kala itu ia masih terikat kontrak dengan label musik. Apabila sewaktu-waktu dipanggil untuk manggung, ia harus kembali dengan penampilan yang sama demi menjaga personal branding, sebagaimana tertulis di kontrak. Sebenarnya ia ingin mengikuti aturan sekolah untuk memotong rambut, namun kondisi itu membuatnya tak bisa. Beruntung, pihak sekolah memberi toleransi. Rambut gondrong itu akhirnya dipotong setelah bandnya benar-benar bubar.

Di PKBM, Andra menemukan sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya: kopi. Saat kelas dua, ada mata pelajaran keterampilan. Tahun pertama ia belajar anyaman. Tahun berikutnya, siswa diberi pilihan barista atau make up. “Karena laki-laki, saya memilih barista. Ia belajar teknik dasar meracik kopi, memahami proses seduh, hingga mengenal karakter rasa. Dari yang awalnya sekadar coba-coba, lama-lama tumbuh minat serius,” paparnya.

Setelah merasa cukup belajar, Andra mulai berjualan. Dunia seni dan kreatif sebenarnya tidak jauh dari kehidupan Andra. Ia sebenarnya sudah lebih dulu menekuni dunia kreatif. Sebelum maraknya kecerdasan buatan, ia mengisi waktunya luang dengan desain digital. Ia membuat outwork, scribble, hingga lukis potret secara digital menggunakan aplikasi Ibis Paint. Pasarnya bukan Indonesia.

“Kalau di sini banyak yang menawar, kadang minta gratis,” ujarnya. Karena itu ia memilih mengambil pasar luar negeri. Di saat yang sama, sekolah di PKBM tetap berjalan lancar.

Awalnya ia mangkal di area Kampus Unwiku. Lalu pindah ke Monumen Jenderal Sudirman, sempat juga di depan Balai Kemambang. Ke depan, ia berencana kembali ke sekitar kampus karena merasa pasarnya lebih jelas. Hasilnya memang belum menentu. Usahanya memang baru berjalan kurang dari setahun. Namun ia mulai membaca pola pasar. Hari Minggu biasanya paling ramai. Jika ingin bertahan setiap hari, ia menyasar mahasiswa karena yang paham soal kopi dan memang suka nongkrong.

Soal mimpi, Andra punya cara pandang berbeda. Ia mengaku tidak punya cita-cita besar. “Saya jalani saja yang bisa saya jalani. Yang belum bisa ya dipelajari. Kalau punya mimpi tinggi terus nggak tercapai, saya takut down,” katanya. Baginya, hidup tanpa ekspektasi besar justru menghadirkan kejutan-kejutan menyenangkan. Termasuk berjualan kopi sesuatu yang tak pernah ia rencanakan sebelumnya.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *