Foto Menteri Pertahanan dan Panglima Tercoret Tinta Merah, Aksi Andrie di Mabes TNI

Aksi Unjuk Rasa Mahasiswa Terkait Kasus Penyerangan Andrie Yunus

Massa dari elemen Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Besar (Mabes) TNI, Jakarta Timur, pada Kamis (13/3/2026). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pengusutan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Mereka menuntut TNI untuk transparan dalam proses penyelidikan.

Dalam aksi tersebut, para mahasiswa menunjukkan kekecewaan mereka terhadap tindakan yang dianggap tidak manusiawi terhadap Andrie Yunus. Mereka juga meminta agar pihak TNI tidak melakukan intervensi dalam penyelidikan kasus yang seharusnya menjadi tanggung jawab kepolisian.

Massa BEM SI tiba di lokasi aksi sekira pukul 17.27 WIB sore. Mereka mengenakan atribut almamater berbagai warna dan membawa beberapa foto bergambar pejabat tinggi TNI seperti Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsoedin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto serta dua kepala staf TNI. Foto-foto tersebut tampak dicoret menyilang dengan menggunakan tinta berwarna merah. Selain itu, mereka juga membawa poster bergambar Andrie Yunus dan poster berisikan seruan protes atas kasus yang menimpa aktivis KontraS tersebut.

Selama aksi berlangsung, massa BEM SI sempat adu mulut dengan aparat berpakaian bebas yang berjaga di lokasi. Aparat tersebut mengimbau agar massa tidak mendekat ke depan gerbang Mabes TNI karena merupakan objek vital negara. Meski awalnya mahasiswa bersikeras untuk bergerak lebih dekat, akhirnya setelah musyawarah, mereka sepakat untuk tidak mendekat dan menggelar aksi dengan jarak sekira belasan meter dari depan gerbang Mabes TNI.

Aksi tersebut berjalan cukup kondusif tanpa terjadi gesekan berarti antara aparat maupun mahasiswa. Mahasiswa menyampaikan bahwa tujuan mereka hanya sekadar menyuarakan dan protes kepada jajaran TNI akibat kasus yang menimpa Andrie Yunus. Setelah berlangsung kurang lebih 30 menit, para mahasiswa menutup aksinya dengan memberikan pernyataan sikap di hadapan aparat dan awak media.

Kejanggalan Pengusutan Kasus oleh TNI

Pengusutan kasus penyerangan air keras terhadap Andrie Yunus ditandai dengan penahanan 4 oknum TNI yang diduga terlibat. Namun, pengusutan oleh TNI diwarnai kejanggalan. Kepolisian yang sejak awal memegang kendali penyelidikan, TNI tiba-tiba turun tangan dan mengamankan empat prajuritnya. Langkah instan militer ini memunculkan rentetan kejanggalan, mengundang tanya mengapa institusi yang seharusnya menangani tindak pidana umum, yakni Polri, justru terkesan lamban dan membiarkan kasus ini diambil alih.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, secara gamblang menyebut masuknya TNI dalam penyelidikan kasus ini membuat situasi menjadi “ambyar”. Menurutnya, secara kacamata hukum, tidak ada dasar yang kuat bagi TNI untuk melakukan penyelidikan. Dua pelaku yang terekam CCTV itu jelas-jelas tidak memakai atribut militer, melainkan sipil. Peristiwanya juga terjadi di jalan umum (Jalan Salemba), jauh dari wilayah militer. Lalu berdasar apa tiba-tiba TNI melakukan penyelidikan?

Tim kuasa hukum Andrie, M. Fadhil Alfathan, turut mempertanyakan dasar penangkapan yang dilakukan Polisi Militer (Pomdam Jaya). Seluruh bukti rekaman CCTV dan pemeriksaan saksi saat ini berada di tangan Polda Metro Jaya. “Pertanyaannya, berdasarkan apa penangkapan terhadap empat orang tersebut? Kami khawatir empat orang ini ternyata bukan pelaku yang sebenarnya,” ujar Fadhil.

Kejanggalan semakin mencolok ketika ada perbedaan data yang signifikan antara hasil penyelidikan Polri dan TNI. Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, mengungkapkan bahwa pihak kepolisian sebelumnya merilis dua terduga pelaku dengan inisial BHC dan MAK. Namun, dalam konferensi pers di Mabes TNI pada Rabu (18/3/2026), Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto justru mengumumkan empat inisial prajurit yang berbeda sama sekali, yakni NDP, SL, BWH, dan ES.

Perbedaan identitas terduga pelaku ini memunculkan kecurigaan publik mengenai siapa sebenarnya yang ditangkap oleh TNI, dan apakah masih ada pelaku lain di luar sana yang dibiarkan bebas oleh kepolisian.

Polda Metro Jaya sebenarnya telah memetakan pelarian pelaku dengan sangat detail. Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin memaparkan bahwa pihaknya telah menganalisis 2.610 gambar video dari 86 titik CCTV. Polisi tahu persis pergerakan pelaku dari Gambir, membuntuti Andrie di YLBHI, hingga berpencar melarikan diri ke Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Bogor. Namun, dengan bukti yang begitu terang benderang, mulai dari nomor polisi kendaraan hingga wajah pelaku, kepolisian tak kunjung melakukan penangkapan.

“Hal yang semestinya mudah jadi sulit. Dugaan saya bukan polisi tidak bisa, tapi tidak mau. Cara berpikirnya politik, bukan aparat penegak hukum. Mestinya malu urusan pidana jelas seperti ini harus menunggu perintah presiden baru bergerak,” kritik Ray Rangkuti.

Di sisi lain, TNI saat ini menyatakan masih mendalami motif keempat prajuritnya. Namun, Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, mencium adanya potensi lokalisir kasus. Operasi Terencana Isnur menduga serangan mematikan ini bukanlah inisiatif pribadi prajurit di lapangan, melainkan sebuah operasi terencana yang melibatkan prajurit Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Hal ini diduga kuat berkaitan dengan rekam jejak Andrie Yunus sebagai tim pencari fakta dalam kerusuhan Agustus 2025 yang menemukan dugaan keterlibatan militer.

“Kami khawatir kerancuan informasi antara kepolisian dengan TNI menyebabkan pengungkapan kasus hanya berhenti di level eksekutor, bukan auktor intelektualnya. Operasi seperti ini tidak mungkin dijalankan tanpa ada perintah atasan,” sebut Isnur.

Oleh karena itu, koalisi masyarakat sipil mendesak pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang independen melibatkan Komnas HAM. Mereka juga menuntut agar para pelaku, meskipun berstatus prajurit aktif, diadili di peradilan umum, mengingat korban adalah masyarakat sipil dan tindak pidana murni berstatus pidana umum.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *