Lance Armstrong, Nama Besar yang Didirikan di Atas Palsu dan Tipu Daya



Lance Armstrong adalah salah satu atlet balap sepeda paling terkenal di dunia. Namun, kasus penggunaan zat terlarang yang terungkap pada 2012 menghancurkan seluruh prestasinya.

Artikel ini pernah diterbitkan dalam Majalah INTISARI edisi EXTRA BUGAR 2013 dengan judul “Lance Armstrong Mencoba Hidup Setelah ‘Dihukum Mati’ | Penulis: Mayong Suryo Laksono”

Intisari hadir di whatsapp channel, ikuti dan dapatkan berita terbaru kami di sini

Intisari-Online.com –

Dianggap sebagai perusak semangat olahraga, dibenci oleh banyak orang, diminta mengembalikan uang hadiah, dan kontrak-kontrak iklannya dibatalkan. Nama besar yang ia bangun ternyata dibangun di atas kebohongan dan penipuan. Sebuah jaringan toko buku Australia bahkan mengolok-oloknya dengan memindahkan buku-buku tentang dirinya ke bagian fiksi.



Inilah Lance Edward Gunderson, atau lebih dikenal sebagai Lance Armstrong, pembalap sepeda kelahiran Plano, Texas, 18 September 1971. Kejayaannya lenyap setelah ketahuan menggunakan obat terlarang untuk meningkatkan prestasinya.

Situs Celebritynetworth.com pada Oktober 2012 melaporkan bahwa setelah penyelidikan badan anti-doping AS (United States Anti-Doping Agency, USADA) menemukan penggunaan zat dan obat-obatan terlarang oleh Lance Armstrong, tidak hanya gelar juara lomba balap sepeda yang dicopot. Dia juga harus mengembalikan uang hadiah dan bonus sebesar AS$ 12,5 juta serta kehilangan kontrak senilai AS$ 30 juta.

Jumlah tersebut sebenarnya tidak begitu berpengaruh bagi kekayaannya yang mencapai AS$ 125 juta. Tapi kenyataannya, uang telah banyak dikeluarkan untuk upaya damage control sejak pengumuman USADA pada Agustus 2012 — dan diikuti larangan bertanding dalam kompetisi balap sepeda seumur hidup — itu.

Vonis itu kemudian dikuatkan oleh organisasi balap sepeda internasional (Union Cycliste Internationale, UCI), yang pada 22 Oktober 2012 mencabut tujuh gelar juara Tour De France (1999 – 2005) dan medali perunggu Olimpiade Sydney 2000. Lance Armstrong tidak naik banding ke Court of Arbitration of Sport, dan memilih media televisi untuk mengakui kesalahan. Secara teknis dia bangkrut.

Tidak merasa bersalah

Oprah Winfrey berhasil meyakinkan Armstrong untuk mengakui kesalahan secara terbuka lewat siaran dialog di televisi. Dalam posisi tersudut, di depan tudingan dan kecaman seluruh dunia, dia tak bisa berbuat lain kecuali menerima tawaran Winfrey.

Apalagi sebelum itu, anak-anaknya juga mendesak agar dia segera mengakhiri keterkucilan akibat kebohongan yang terkuak. Hati mereka telah luka, dan kebanggaan kepada ayah mereka terancam hilang.

“Anak-anak adalah pendorong utama saya untuk berbicara kepada Anda,” kata Lance Armstrong kepada Winfrey sebelum wawancara – yang kemudian ditayangkan televisi pada 17 Januari itu. “Saya tidak ingin mereka dibayangi rasa malu memiliki ayah yang curang, penipu, dan pengecut.”

Dari perkawinannya dengan Kristi Richard (sejak 1998 namun cerai tahun 2003), Armstrong memiliki Luke (lahir pada 1999, hasil pembuahan tabung dari sperma dia yang dibekukan sebelum menjalani kemoterapi karena menderita kanker, 1996-1997), serta gadis kembar kelahiran 2001, Isabelle dan Grace. Dari pacarnya sejak 2008, Anna Hansen, dia juga memiliki Maxwell Edward “Max” Armstrong yang lahir pada 4 Juni 2009.

Wawancara dengan Winfrey diawali dengan pertanyaan, “Apakah Anda menggunakan EPO (Erythropoietin, untuk meningkatkan produksi darah yang berdampak pada pemerataan penyebaran oksigen di dalam tubuh)?”

“Ya,” jawab Armstong.

“Apakah Anda juga melakukan doping darah?” tanya Winfrey.

“Ya.”

“Apakah Anda menggunakan steroid?”

“Ya.”

“Apakah Anda menggunakan hormon pertumbuhan?”

“Ya.”

“Apakah Anda juga melakukan proses diuretik agar tak terlacak ketika diperiksa?”

“Ya.”

“Apakah Anda melakukan itu selama tujuh kali memenangi Tour de France?”

“Ya.”

“Kalau tidak melakukan itu semua, Anda tidak bisa memenangi Tour de France?”

“Ya.”

Memang tak semua fakta temuan penyidik USADA dibenarkan Armstrong dalam wawancara itu. Misalnya mengenai peran dr. Michele Ferrari terhadap penggunaan doping, sementara sang dokter yang menjadi pengawas kesehatannya selama bertahun-tahun itu juga terlibat dalam penggunaan zat terlarang sejumlah atlet lain balap sepeda. Juga upaya menyuap dengan menawarkan bantuan AS$ 4 juta kepada USADA – yang kemudian ditolak.

Hal lain, “dosa” dengan menyingkirkan teman-teman yang melaporkan indikasi penggunaan doping seperti Filippo Simeone, atau rekan yang menolak doping, Frankie Andreu, juga tak terungkap karena Armstrong membatasi pembicaraan seputar dirinya saja.

Tapi setidaknya wawancara itu merupakan afirmasi yang sangat berharga baik bagi kemuliaan dan nama baik seorang atlet, khususnya atlet balap sepeda, maupun upaya pembersihan dunia olahraga dari penggunaan zat-zat terlarang.

Dengar kembali jawaban Armstrong atas pertanyaan Winfrey soal apakah dia merasa bersalah bertahun-tahun menggunakan sesuatu yang dilarang.

“Tidak. Mengerikan ya?”

Mengenai kerasnya persaingan menyebabkan penggunaan zat-zat terlarang begitu merata di kalangan pembalap sepeda, jawab Armstrong.

“Saya tidak mengatakan bahwa penggunaan zat-zat terlarang itu sudah merata di kalangan para atlet, khususnya balap sepeda profesional. Saya juga tidak ingin menyebut pembalap mana yang menggunakannya. Yang bisa saya katakan, di antara seratus pembalap, hanya ada lima-sepuluh orang yang tidak menggunakannya dan kami bisa mengenali mereka.”

Sebuah fakta yang juga mengerikan.

Takut kalah

Awalnya Lance Armstrong tertarik pada triathlon: renang, lari, dan balap sepeda. Lantas mencoba ambil bagian dalam kejuaraan balap sepeda amatir. Dia bergabung dengan Tim AS dan pada nomor Road Race Kejuaraan Dunia 1990, menempati posisi ke-11 dengan catatan waktu yang lebih baik dari semua pembalap sepeda AS sejak tahun 1976.

Di Olimpiade Barcelona 1992, dia dan rekan-rekannya merebut medali perak pada nomor Team Time Trial. Di nomor jalan raya (Road Race), orang menaruh harapan kepadanya untuk merebut emas. Tapi ternyata di final dia malah melorot ke nomor 14. Setelah Barcelona, dia pindah ke pro.

“Saya takut pada dua hal. Yang pertama adalah sakit hati. Tapi itu tidak semenakutkan yang kedua, yaitu takut kalah,” katanya saat dia memutuskan pindah ke ajang balap sepeda bayaran.

Tahun 1993 dia memenangi lomba sejauh 220 km World Road Race Championship di Oslo, Norwegia. Pada tahun itu juga dia ikut Tour de France untuk pertama kali. Sempat menang di etape ke-8, namun belakangan melorot ke posisi ke-62 dan mengundurkan diri. Pada Tour 1995 dia memenangi etape ke-18.

Pada Tour 1996 dia mundur dari lomba karena terindikasi menderita kanker. Benar, pada 2 Oktober 1996 dokter memberitahu bahwa dia menderita kanker testis (embryonal carcinoma) stadium ke-3.

Dikhawatirkan kanker bisa menjalar ke perut, hati, bahkan ke otak. Maka dia segera berobat dan menjalani serangkaian kemoterapi. Februari 1997 dia dinyatakan sembuh. Keberadaan sebagai survivor kanker memotivasi banyak penderita untuk juga berjuang melawan penyakit itu.

Apalagi kemudian atlet bertinggi-berat 177 cm/75 kg itu berhasil menjuarai Tour de France. Berawal pada 1999, berturut-turut hingga 2005. Ajakannya untuk membentuk gerakan anti-kanker LiveStrong disambut gempita. Armstrong mampu menghimpun dana jutaan dolar bagi penelitian dan pengobatan kanker di seluruh dunia.

Di antara kemenangan Tour de France dia juga menang di banyak lomba profesional. Bahkan saat mewakili AS dalam Olimpiade Sydney 2000, dia merebut medali perunggu nomor jalan raya.

Pada 24 Juli 2005 Armstrong menyatakan pensiun dan ingin aktif membesarkan LiveStrong. Tapi pada 2009 dia kembali ke Tour de France dan menjadi juara 3 setelah Alberto Contador dan Andy Schleck. Dia juga ikut maraton dan triathlon lagi.

Catatan prestasi yang diakui dunia dan menginspirasi jutaan orang dituliskan dalam banyak buku dan dokumentasi audio-visual. Dari It’s Not about the Bike: My Journey Back to Life (2001) yang dia tulis sendiri, Lance Armstrong: The Race of His Life (2000) yang ditulis Kristi Armstrong, Every Second Counts: Learning about Resilience from the Life of Lance Armstrong (2004), Lance Armstrong: Images of a Champion (2006), Comeback 2.0: Up Close and Personal Lance Armstrong (2009), film dokumenter Road to Paris (2001), dan banyak lagi. Dia bagai contoh sempurna semangat seorang olahragawan.

Tak berhenti menelisik

Kesimpulan USADA sebetulnya tak terlalu mengejutkan bagi orang yang sejak awal menemukan kecurigaan dalam prestasi Armstrong. Para ahli tak henti menelisik hasil-hasil laboratorium sejak bertahun-tahun lalu, bahkan jauh sesudah Armstrong menyatakan pensiun.

Berbekal dugaan serupa, wartawan olahraga asal Irlandia David Walsh juga mengumpulkan sederet bukti dan mewawancarai banyak orang, termasuk bekas rekan tim Armstrong, bekas teknisi sepeda, dan para anggota tim.

Maka tak lama setelah vonis larangan seumur hidup dijatuhkan USADA pada Agustus 2012, Walsh menurunkan artikel di The Times berjudul “Lanced: The Shaming of Lance Armstrong.” Tulisan itu berupa laporan komprehensif mengenai penyelidikan Walsh selama bertahun-tahun, dan hasilnya tak jauh beda dengan kesimpulan USADA.

Pada Desember 2012 Walsh melengkapi laporannya menjadi buku berjudul Seven Deadly Sins: My Pursuit of Lance Armstrong. Kemudian, bekerja sama dengan wartawan Prancis Pierre Ballester, buku itu disunting ulang dan diterbitkan dalam bahasa Prancis berjudul L.A. Confidentiel: Les Secrets de Lance Armstrong.

Terbukti bahwa tak semua pihak berhasil disilaukan oleh sinar terang sang juara. Lembaga semacam USADA benar-benar bekerja dengan kualitas dan profesionalitas tinggi, sebab tak sekali dua kali datang tawaran atau bahkan rayuan dari pihak-pihak yang dicurigai.

Bahkan untuk sampai pada kesimpulan menyangkut kecurangan yang dilakukan atlet sebesar Lance Armstrong, bukanlah pekerjaan yang ringan dan tanpa risiko. Kalau kesimpulan keliru, seluruh dunia akan mengecam, dan Armstrong dengan segenap kekuatan dan pengaruhnya bisa menantang USADA.

Nyatanya, kerja keras itu membuahkan hasil. Kesimpulan dikeluarkan dan Lance Armstrong tidak membantah, pun berupaya naik banding. Dia bahkan keluar dari LiveStrong, gerakan sosial yang dia prakarsai pendiriannya dan dibesarkannya — dan bahkan sudah memberikan hasil nyata bagi upaya pengobatan penyakit kanker.

“Inilah hukuman mati”

Pengakuan Armstrong kepada Oprah Winfrey membuka pintu bagi kembalinya sportivitas balap sepeda. Paling tidak itu harapan banyak orang, mengingat mewabahnya penggunaan obat dan cara-cara terlarang dalam olahraga itu. Travis Tygart, CEO USADA, menyatakan, “Itu adalah langkah kecil menuju arah yang lebih benar untuk mengembalikan sportivitas.”

Bagaimana dengan Lance Armstrong sendiri?

Dia yang telah kehilangan semua kesempatan, memang memasrahkan “nasib”-nya kepada khalayak. Ada nada tidak terima dengan keputusan yang memang tidak bisa dia hindari dan dia tolak itu. Kepada Winfrey ia bilang, “Larangan seumur hidup ini bagaikan hukuman mati bagi saya.”

Bagaimanapun dia seorang atlet, dan olahraga adalah panggilan jiwanya. “Bagaimana kalau suatu hari saya ingin ikut maraton?” sambung Armstrong yang mengaku bersih ketika comeback pada 2009.

Kekhawatiran yang wajar sebenarnya. Lagipula Armstrong tak perlu cemas karena sekalipun sudah cacat, dia masih memiliki nama. Kisah hidupnya masih laku sebagai pembicaraan, bahkan untuk diceritakan lewat buku atau film misalnya. Artinya, kecuali rasa malu yang selalu menghantui, kehidupannya tidak akan terlalu sulit.

Belum lagi “warisan”-nya dalam gerakan sosial melawan kanker. Kalaupun kelak nama Lance Armstrong sebagai atlet terhapus dari peta olahraga dunia, jasanya sebagai tokoh penggerak dan pengumpul dana bagi kegiatan melawan kanker tak akan dilupakan orang.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *