Bisnis  

Harapan Kilau Hartadinata Abadi (HRTA) Semakin Cerah Saat Emas Diburu

Prospek Emas Jangka Panjang Masih Positif

PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) melihat prospek emas secara fundamental tetap positif meskipun dalam dua pekan terakhir harga emas mengalami penurunan. Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, menjelaskan bahwa konsensus analis global masih memperkirakan kenaikan harga emas pada tahun 2026. Hal ini didukung oleh beberapa faktor seperti tren pembelian emas oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, serta potensi penurunan suku bunga di masa depan.

Harga emas global sempat berfluktuasi dalam dua pekan terakhir bulan Maret 2026, dengan level mencapai US$4.100 per ons. Dinamika tersebut disebabkan oleh kombinasi tekanan makroekonomi dan dinamika likuiditas jangka pendek. Menurut Sandra, ketegangan geopolitik, terutama gangguan pasokan minyak, mendorong negara pengimpor energi untuk menggunakan cadangan devisa guna membiayai impor dibandingkan mengakumulasi aset seperti emas.

Di sisi lain, tekanan fiskal pada negara eksportir energi juga berpotensi mendorong penjualan emas dalam jangka pendek. Hal ini menciptakan tekanan sementara terhadap permintaan emas dari bank sentral, sementara investor ritel di pasar seperti India dan China juga cenderung melakukan likuidasi untuk menutupi peningkatan biaya hidup imbas dari inflasi bahan pokok.

Meski demikian, secara fundamental prospek jangka panjang emas tetap positif. Konsensus analis global masih memperkirakan kenaikan harga emas pada tahun 2026, didukung oleh tren pembelian emas oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, serta potensi penurunan suku bunga ke depan.

Survei Reuters memperkirakan estimasi rata-rata harga emas global tahun ini berada di kisaran US$4.700 per ons. Sedangkan ramalan yang lebih bullish mencapai US$5.000 oleh JP Morgan, bahkan bisa melebihi level US$6.000 seperti yang diprediksi oleh UBS AG.

Langkah Strategis HRTA

Menyambut peluang tersebut, Sandra menjelaskan bahwa saat ini HRTA sedang dalam tahap finalisasi proses sertifikasi LBMA atau London Bullion Market Association. Ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memenuhi standar kualitas dan tata kelola yang diakui secara global.

“Kami akan terus fokus pada penguatan ekosistem emas terintegrasi, penguatan ekuitas merek, optimalisasi jaringan distribusi, serta inovasi produk untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan sebagai salah satu pelaku utama di Industri Emas Nasional dan Bullion Bank,” tandasnya.

Analis BCA Sekuritas, Jesselyn Kristanto, menilai risiko kunci yang akan mempengaruhi kinerja HRTA di 2026 antara lain pelemahan daya beli masyarakat, keterlambatan sertifikasi LBMA, volatilitas harga emas global, serta faktor regulasi dan kebijakan pemerintah.

Untuk outlook 2026, BCA Sekuritas meramal volume penjualan emas pada 2026 mencapai 20,6 ton atau naik 5% YoY. Estimasi tersebut didukung oleh ekspansi kapasitas produksi hingga 60 ton, serta posisi HRTA yang dinilai strategis untuk dapat memenuhi tambahan permintaan domestik tanpa kendala operasional.

“Dengan demikian, kami memproyeksikan pendapatan dan laba bersih 2026 masing-masing mencapai Rp56,6 triliun dan Rp1,4 triliun,” jelas Jesselyn.

Jesselyn mengatakan, meski pendapatan dan laba bersih HRTA ditaksir melanjutkan penguatan tahun ini, margin profitabilitas perseroan dirasa akan tetap terbatas karena bauran penjualan HRTA masih didominasi oleh produk bullion dengan margin lebih rendah, dibandingkan segmen perhiasan yang menawarkan margin lebih tinggi.

Rekomendasi dan Outlook Pasar

Untuk rekomendasi, BCA Sekuritas menyematkan buy dengan target harga di Rp3.830. Pada penutupan pasar Senin (30/3), HRTA melemah 7,11% ke Rp2.220, mencerminkan penguatan 2,33% secara YtD. BCA Sekuritas me-rerating target harga HRTA dari Rp1.210. Pertimbangannya adalah HRTA dinilai berada pada posisi yang baik untuk mendapatkan manfaat dari siklus emas berbasis investasi yang berkelanjutan, di mana harga yang tinggi dan pergeseran permintaan terus menguntungkan bullion dibandingkan perhiasan.

Laporan World Gold Council

Sementara itu, laporan World Gold Council bertajuk Gold Outlook 2026 menjelaskan bahwa tahun ini prospek emas dibentuk oleh ketidakpastian geoekonomi yang berkelanjutan. Jika pertumbuhan ekonomi melambat dan suku bunga turun lebih lanjut, emas dapat mencatat kenaikan moderat.

Dalam kondisi penurunan yang lebih parah yang ditandai dengan meningkatnya risiko global, emas dapat berkinerja lebih kuat. Laporan menganalisa harga emas global dapat tumbuh 5% sampai 15% di tahun ini.

Sebaliknya, apabila kebijakan yang diambil Donald Trump berhasil dan mempercepat pertumbuhan ekonomi AS dan mengurangi risiko geopolitik, lalu suku bunga meningkat dan dolar AS menguat, diperkirakan kondisi ini justru akan menekan harga emas.

“Faktor tambahannya adalah permintaan bank sentral dan tren daur ulang emas juga dapat mempengaruhi pasar. Yang paling penting, peran emas sebagai diversifikator portofolio dan sumber stabilitas tetap menjadi kunci di tengah volatilitas pasar yang berlanjut,” tulis riset tersebut.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *