BANDA ACEH,
Proses pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) ke berbagai daerah yang terdampak banjir di Aceh mengalami kendala akibat akses jalan yang terputus akibat banjir dan longsoran. Jembatan-jembatan penting di jalur utama seperti Bireuen–Takengon, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, hingga Gayo Lues telah putus, sehingga menghambat pergerakan mobil tangki. Di beberapa titik bahkan tidak bisa dilalui sama sekali.
“Kondisi ini menyebabkan keterlambatan suplai BBM ke sejumlah SPBU dan SPBE,” ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, Fahrougi Andriani Sumampouw, saat dikonfirmasi, Selasa (2/11/2025).
Fahrougi menjelaskan, dari sisi operasional lembaga penyalur, wilayah Aceh memiliki 156 SPBU dan 26 SPBU yang terdampak akibat akses jalan yang belum pulih sepenuhnya. Untuk LPG, terdapat 133 agen di Aceh dan 94 agen yang terkena dampak, serta 11 SPBE dengan 9 SPBE yang mengalami kendala operasional.
“Situasi ini paling banyak terjadi di jalur distribusi yang berada pada koridor banjir dan longsor,” ujarnya.
Kondisi serupa dalam tingkatan lebih ringan juga terjadi di wilayah lain di Sumbagut, yaitu Sumatera Utara dengan 406 SPBU (23 terdampak) dan 383 agen LPG (15 terdampak), serta Sumatera Barat yang memiliki 147 SPBU (11 terdampak) dan 172 agen LPG (23 terdampak).
“Data ini menunjukkan bagaimana cuaca ekstrem memengaruhi operasional distribusi energi di tiga provinsi tersebut, terutama Aceh,” ucapnya.
Akibat dari kondisi akses yang belum pulih sepenuhnya, beberapa SPBU sempat kosong secara sementara. Hal ini terjadi terutama di wilayah yang terisolasi dan berada pada rute yang belum aman untuk dilalui kendaraan berat.
“Kekosongan tersebut tidak terkait dengan ketersediaan stok di terminal, melainkan karena mobil tangki tidak dapat mencapai lokasi,” tambahnya.
Meskipun begitu, Fahrougi memastikan bahwa ketika akses sudah aman atau rute alternatif tersedia, suplai akan langsung diprioritaskan dan kini telah berlangsung kembali secara bertahap.
Selain BBM, penyaluran LPG juga terganggu akibat kendala akses menuju beberapa SPBE dan agen di Aceh. Meskipun stok LPG di terminal terpantau aman, hambatan jalur distribusi membuat suplai tidak dapat dilakukan dengan ritme normal.
Untuk mengantisipasi hal ini, Pertamina telah menyiapkan langkah-langkah darurat. Termasuk pengiriman LPG melalui jalur laut menggunakan Skid Tank dari Terminal LPG Arun menuju Banda Aceh atau Aceh Barat apabila jalur darat belum dapat dilalui. Opsi bantuan suplai melalui IT Dumai juga disiapkan apabila kondisi akses menuju SPBE tertentu belum sepenuhnya pulih.
Seluruh langkah operasional ini diperkuat dengan penambahan armada mobil tangki dan Awak Mobil Tangki (AMT). Selain itu, Pertamina juga melakukan pengalihan suplai dari IT Lhokseumawe ke FT Krueng Raya guna mempercepat distribusi ke wilayah terdampak.
Pertamina juga memberikan dukungan BBM bagi alat berat milik BPBD dan Pemerintah Daerah untuk membantu pembukaan jalan dan percepatan normalisasi jalur distribusi.
“Seiring membaiknya cuaca, suplai BBM dan LPG ke berbagai titik yang sebelumnya terhambat kini mulai kembali berjalan. Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan SPBU, agen LPG, dan SPBE yang berada pada jalur yang telah aman dilalui,” ujarnya.
Dalam rangka mempermudah akses masyarakat terhadap BBM di tengah kondisi darurat, Pertamina menerapkan keringanan dari BPH Migas berupa peniadaan sementara kewajiban penggunaan barcode MyPertamina untuk pembelian BBM subsidi di Aceh. Kebijakan ini berlaku selama masa Status Tanggap Darurat Banjir Aceh dan diberlakukan agar pelayanan lebih cepat serta mengurangi antrean di wilayah terdampak.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk membeli BBM dan LPG secukupnya sesuai kebutuhan. Tim operasional Pertamina terus bekerja tanpa henti untuk memastikan energi tetap tersedia bagi masyarakat Aceh di tengah kondisi yang sangat dinamis.












