Gubernur Jawa Barat Kaget dengan Pengakuan Pedagang Es Gabus
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali dibuat heran oleh pengakuan Ajat Suderajat, seorang pedagang es gabus yang viral beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan mereka yang tayang di YouTube Dedi Mulyadi, Dedi sampai menepuk pahanya sendiri karena tak habis pikir mendengar uang bantuan senilai Rp 5 juta dari dirinya justru akan digunakan untuk menikahkan anaknya.
Awalnya, Dedi menanyakan rencana Suderajat setelah menerima uang untuk modal usaha dari Dedi. “Jadi, sekarang Babe mau ke mana?” tanya Dedi. “Mau dagang es kue lagi,” jawab Suderajat singkat. Dedi kemudian menekankan lagi soal modal. Ia menegaskan kepada Suderajat agar uang yang diberikannya untuk bekal usaha. Akan tetapi, Suderajat justru mengaku uang itu tidak dipakai untuk berdagang. “Buat anak. Buat dia kawin,” katanya.
Mendengar jawaban Suderajat, Dedi Mulyadi sampai menepuk pahanya dengan ekspresi kaget. “Beh, saya ngasih itu buat bekel Babe, bukan buat anak. Orang simpati sama Babe, bukan sama anak. Itu buat kehidupan Babe,” katanya. Ia kemudian mengingatkan agar bantuan tersebut semestinya dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, bukan dialihkan untuk mengawinkan anak. “Yaudah dipikirkan aja nanti mau usaha apa. Babe manfaatkan uang yang diterima untuk masa depan Babe, istri dan anak,” katanya.
Berharap Babe Manfaatkan Uang Bantuan
Di dalam postingan di Instagramnya, Dedi Mulyadi juga berharap agar Ajat Suderajat dapat benar-benar memanfaatkan seluruh bantuan untuk mengubah kehidupannya. Sebab, Dedi mengaku masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan jawaban Suderajat. “Semoga Babe Ajat dapat memanfaatkan seluruh bantuan untuk mengubah kehidupannya. Di bagian-bagian akhir ini terlihat masih belum memiliki visi hidup,” tulisnya.
Perasaan Dedi Tak Enak
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menemui langsung Ajat Suderajat, penjual es gabus yang sempat menjadi korban dugaan penganiayaan aparat setelah dituduh menjual es berbahan spons. Dedi Mulyadi membagikan momen pertemuan itu melalui akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, Dedi terlihat memberikan uang segepok kepada Suderajat. Namun, setelah memberikan uang itu, Dedi mengambil sebagian lantaran dikhawatirkan uang itu malah dipakai sendiri oleh Suderajat tanpa membayar kewajibannya.
“Mau buat apa itu?” tanya Dedi Mulyadi. “Buat bayar sekolah pak,” kata Suderajat. Mendengar jawaban itu, Dedi Mulyadi justru mengambil kembali uang tersebut. Ia lalu mengatur sendiri peruntukkan bantuan itu agar benar-benar digunakan tepat sasaran. “Bayar kontrakan setahun, nih saya aturin biar bapak beres. Nih buat kontrakan setahun, setahun kali 800 berapa? Rp 9,6 juta. Bayar sekolah dua ratus (ribu), bayar ke warung dua ratus (ribu), pas Rp 10 juta. Awas dibayarin ya. Bayar kontrakan. Atau saya uangnya ambil deh,” kata Dedi seraya mengambil kembali uang itu.
Dedi pun akan membayar kontrakan Suderajat sendiri. Ia khawatir bantuan yang diberikan disalahgunakan. “Aku langsung bayarin kontrakannya sama saya, takut enggak dibayarin. Ini saya kasih untuk bayaran sekolah sambil ngecek ke sekolahnya. Bayaran sekolahnya saya cek dulu, kontrakannya akan saya bayar satu tahun.” “Saya enggak percaya ama bapak bayar kontrakan sama sekolah. Sama bayar ke warungnya nanti staf saya yang bayarin. Ini aja buat modal bapak Rp 5 juta buat modal dagang. Buat beli beras segala macam sampai sebulan,” jelasnya.
Koreksi Tunggakan Suderajat
Dalam percakapan di mobil itu, Dedi juga sempat mengoreksi keterangan Suderajat soal tunggakan biaya sekolah anaknya. Ia menilai ada kejanggalan antara jumlah yang disebutkan dengan biaya sekolah negeri pada umumnya. Pasalnya, Suderajat mengaku belum membayar biaya sekolah anaknya sebesar Rp 1,5 juta karena sudah empat bulan menunggak. Menurut Dedi Mulyadi, jumlah tersebut terlalu besar untuk bayaran sekolah negeri. “Enggak mungkin sekolah SD bayar Rp 200 ribu. Enggak mungkin pak. Nanti saya cek sekolahnya,” katanya. “Udah sebulan pak,” jawab Suderajat. Mendengar itu, Dedi Mulyadi merasa heran dan bertanya kembali. “Loh, sebulan atau empat bulan (nunggak)? Jangan ngarang. Gimana,” cecar Dedi. “Sebulan pak,” jawabnya. “Kalau mau hidup maju harus jujur. Kalau kita tidak jujur, nanti hidupnya susah,” kata Dedi mengingatkan.











