Analisis: Perang dengan Iran Jadi Bencana bagi Industri Senjata Washington

Perang yang Tidak Terkendali: Kekuatan yang Tidak Lagi Dominan

Perang yang dimulai dengan serangan rudal Iran terhadap Pangkalan Militer Diego Garcia, jauh dari Teheran, mengungkapkan sebuah kenyataan yang selama ini hanya diucapkan secara diam-diam: Iran bukanlah lawan yang bisa dikalahkan dengan logika sederhana kekuatan udara yang superior. Dan perang yang oleh Donald Trump digambarkan “hampir selesai” justru baru saja menunjukkan wajahnya yang sesungguhnya.

Lima sudut pandang berbeda memberikan gambaran tentang konflik yang kini melampaui batas-batas Timur Tengah dan mulai mengancam tatanan global. Seorang jurnalis investigatif Amerika, seorang analis geopolitik Inggris, seorang komentator Turki, seorang kolumnis Fox News, dan seorang analis Rusia, semuanya membentuk satu gambaran yang utuh dan mengkhawatirkan.

Kronologi Awal Perang: Dari Keputusan Personel Hingga Kooptasi Sistematis

Matt Wolfson dari Al Mayadeen memulai penelusurannya dengan mengungkap kronologi yang dimulai bukan dari keputusan militer, melainkan dari keputusan personel yang tampaknya tak berbahaya. November dan Desember 2024 menjadi titik awal ketika Trump menunjuk Howard Lutnick sebagai Menteri Perdagangan dan Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan, sekaligus mengabaikan Robert Lighthizer, arsitek utama kebijakan “America First”.

Lighthizer, yang percaya pada penggunaan tarif untuk melindungi produksi dalam negeri Amerika, tersingkir. Posisinya diisi oleh dua figur yang, menurut Wolfson, adalah “produk Wall Street dan jaringan Zionis Yahudi yang sejak tahun 1980-an telah membenarkan dan menerapkan ‘perdagangan bebas’.” Intuisi Lighthizer terbukti tepat. Yang terjadi berikutnya adalah kooptasi sistematis. Trump, yang terpilih dengan platform mengakhiri perang asing dan membongkar “negara bayangan,” secara bertahap mengelilingi dirinya dengan figur-figur yang memiliki agenda berbeda.

Mekanismenya bukan paksaan, melainkan bujukan. “Zionis tidak mencapai kesuksesan politik mereka dengan kekerasan,” tulis Wolfson. “Mereka melakukannya dengan memberikan bantuan keuangan yang besar, kemudian menawarkan insentif sumber daya dan investasi kepada para penggerak Kekaisaran.” Trump, yang terobsesi dengan angka investasi asing dan potensi ekstraksi sumber daya, adalah “sasaran yang sempurna untuk kebijakan luar negeri yang menjanjikan keuntungan cepat.”

Hasilnya sudah terlihat: seorang presiden yang berkampanye sebagai kandidat perdamaian kini memimpin perang yang, menurut Scott McConnell dari The American Conservative, merupakan “pengkhianatan terhadap prinsip dasar Trumpisme” dengan “skala penipuan yang sangat mencengangkan.”

Selat Hormuz yang Tertutup dan Fondasi Industri yang Retak

Sementara Wolfson membedah arsitektur politik di balik perang, Kit Klarenberg di Al Mayadeen menunjukkan konsekuensi material yang paling konkret dan paling sering diabaikan dalam perang ini: tertutupnya Selat Hormuz. “Sejak perang kriminal Zionis-Amerika terhadap Iran meletus, Selat Hormuz tetap tertutup rapat,” tulis Klarenberg. Upaya Amerika untuk membangun koalisi internasional guna membuka kembali selat itu selalu ditolak. Dan akibatnya bukan sekadar naiknya harga minyak.

Sekitar 11 persen perdagangan maritim global melewati Selat setiap tahun, menyumbang 20 persen dari total pasokan minyak dunia. Namun Klarenberg menyoroti dimensi yang lebih jarang dibahas: sekitar sepertiga dari pasokan pupuk dunia yang diangkut melalui laut melewati Selat yang sama. Hingga 43 persen perdagangan urea global, komponen fundamental produksi pangan, berasal dari kawasan Teluk. Dengan musim tanam yang sedang berlangsung di seluruh Barat, urea mendadak menjadi komoditas yang langka.

Namun krisis yang paling melemahkan justru menyentuh kemampuan militer Amerika itu sendiri. Klarenberg mengutip esai dari akademi militer elit AS, West Point, yang diterbitkan 13 Maret lalu, yang memperingatkan bahwa harga sulfur telah melonjak 25 persen, “menekan salah satu input paling penting bagi kekuatan industri modern.”

Sulfur dibutuhkan untuk tembaga dalam jaringan listrik, untuk semikonduktor dalam amunisi berpemandu presisi, untuk baterai drone. “Bagi perencana dan ahli strategi militer,” kutip Klarenberg dari West Point, “hilangnya sulfur yang akan datang merupakan krisis pra-logistik.”

Gambaran yang muncul adalah sebuah ironi yang menyakitkan: blokade Selat Hormuz kini melumpuhkan industri pertahanan Washington, tepat ketika Amerika membutuhkan kapasitas produksi amunisi yang lebih besar untuk melanjutkan konflik. Basis industri pertahanan Kekaisaran, simpul Klarenberg, “terikat pada kondisi yang tidak dapat dikendalikan oleh Washington sendiri, tetapi sekarang dapat dikendalikan oleh Teheran.”



Orang-orang melewati papan reklame yang menampilkan mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri), Ayatollah Ali Khamenei (tengah), dan pemimpin tertinggi baru Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei (kanan) di Lapangan Valiasr di Teheran, Iran, 10 Maret 2026. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Kepercayaan yang Runtuh: Dari Teluk ke Eropa

Dimensi ketiga dari krisis ini, yang dalam jangka panjang mungkin paling menentukan, adalah runtuhnya kepercayaan sekutu terhadap Amerika Serikat. M. Yasin Bozkus dari TRT World merumuskannya dengan tajam: “Sebuah payung keamanan hanya dapat dipercaya selama mereka yang berada di bawahnya percaya bahwa perlindungan akan benar-benar datang ketika bahaya datang.”

Di Teluk, kepercayaan itu kini dalam ujian yang paling keras. Negara-negara yang kemakmurannya bergantung pada stabilitas regional mendapati diri mereka menanggung biaya ekonomi dan keamanan dari perang yang, seperti ditegaskan UEA, “bukan konflik mereka.” Penasihat Diplomatik Presiden UEA, Anwar Gargash, berkata langsung kepada Iran, “Perang Anda bukanlah dengan negara tetangga Anda.”

Sementara itu, Arab Saudi secara diam-diam menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Pakistan dan mulai membahas perjanjian trilateral dengan Pakistan dan Turki, sebuah langkah yang mencerminkan kebutuhan untuk membangun jaminan keamanan alternatif.

Di Eropa, gambarannya tidak lebih meyakinkan. Spanyol menolak mengizinkan pangkalan bersama digunakan untuk menyerang Iran. Inggris ragu-ragu sebelum akhirnya mengizinkan tindakan “defensif” terbatas, lalu dicemooh publik karena keraguannya. Jerman, yang menyadari dirinya berada dalam jangkauan rudal Iran, diam-diam marah kepada Amerika dan tidak berencana menyelamatkan siapa pun. “Eropa sedang memperdebatkan otonomi strategis yang lebih besar seiring dengan menurunnya kepercayaan terhadap jaminan Amerika,” catat Bozkus. “Prancis dan Jerman telah bergerak menuju pengaturan pencegahan bersama yang baru.”

Bozkus menarik kesimpulan yang paling mendasar dari keseluruhan dinamika ini: di bawah Trump, Washington tidak hanya keras terhadap musuh, tetapi juga “menjadi jauh kurang dapat diprediksi, meyakinkan, dan dapat diandalkan bagi sekutu-sekutunya.” Dan ketika sekutu mulai percaya bahwa Washington dapat mengekspos mereka pada pembalasan tanpa konsultasi, “payung keamanan berhenti menyerupai perlindungan. Hal itu mulai terlihat seperti sebuah risiko.”

Dua Pandangan tentang Jalan Keluar: Antara Dana Kongres dan Perdamaian yang Dinegosiasikan

Di tengah semua keruwetan strategis itu, dua suara menawarkan “jalan keluar” yang mencerminkan kesenjangan persepsi yang dalam antara Washington dan dunia di luar Washington. Hugh Hewitt di Fox News berbicara dari dalam logika kekuasaan Amerika. Argumennya sederhana: militer Amerika butuh uang, dan Kongres harus menyediakannya. Ia mengusulkan “rekonsiliasi kedua,” sebuah mekanisme anggaran yang memungkinkan mayoritas sederhana mengesahkan pendanaan tambahan tanpa hambatan prosedural biasa.

Target ambisius yang ia sebut: tambahan 500 miliar dolar untuk pertahanan, mencakup program Golden Dome, Golden Fleet, dan generasi baru persenjataan. “Rekonsiliasi 2.0 adalah jalan yang tepat,” tulisnya. “Mari kita lihat apakah Partai Republik akan memanfaatkan kesempatan ini.”

Pandangan itu bertentangan secara diametral dengan analisis Victoria Nikiforova dari Ria Novosti, yang melihat Amerika bukan sebagai kekuatan yang kekurangan dana, melainkan sebagai kekuatan yang telah kehilangan arah strategis. “Kebenaran pahit kini terungkap sepenuhnya kepada para sekutu AS,” tulisnya. “Amerika Serikat tidak berjuang untuk mengubah kepemimpinan Iran, mencuri minyak, atau menekan Tiongkok. Tujuan utama Amerika adalah menciptakan masalah bagi semua orang: baik teman maupun musuh.”

Nikiforova mencatat bahwa presiden Finlandia, Alexander Stubb, terpaksa mengakui bahwa Amerika Serikat “telah berhenti menjadi hegemon yang dermawan” dan menjadi “mitra yang tidak dapat diprediksi.” Bagi Nikiforova, satu-satunya jalan keluar yang realistis dari spiral ini adalah negosiasi, dan satu-satunya aktor yang memiliki kapasitas untuk memfasilitasinya adalah Moskow.

Satu Perang, Lima Cermin

Lima analisis ini tidak sepenuhnya sepakat satu sama lain dalam pembacaan mereka tentang konflik Iran. Wolfson melihat perang ini sebagai produk kooptasi jaringan Zionis terhadap agenda Trump. Klarenberg membacanya sebagai krisis sistemik yang mengungkap kelemahan struktural Kekaisaran Amerika. Bozkus melihatnya sebagai titik balik dalam tatanan aliansi global. Hewitt percaya Amerika hanya butuh lebih banyak uang dan tekad. Nikiforova melihatnya sebagai bukti kemunduran hegemoni yang tidak dapat dibendung.

Namun di balik perbedaan-perbedaan itu, kelima suara ini berbagi satu pengamatan yang sama: bahwa konflik ini telah melampaui kendali aktor mana pun yang memulainya. Selat Hormuz tetap tertutup. Rudal-rudal terus terbang. Sekutu-sekutu mulai berhitung ulang. Dan fondasi logistik perang itu sendiri sedang digerogahi oleh blokade yang tidak dapat ditembus oleh kekuatan udara.

Seperti yang ditulis Klarenberg dalam kalimat yang mungkin paling mengena di antara semuanya: kapan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz dilonggarkan, dan dengan syarat apa, “sepenuhnya terserah Republik Islam untuk memutuskan.”

Itulah, barangkali, pernyataan paling jujur tentang di mana sesungguhnya kekuatan berada dalam perang ini.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *