Kekerasan di Kampus UIN Suska Riau
Sebuah kejadian tragis terjadi di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau, yang menimpa seorang mahasiswi bernama Farradhila Ayu Pramesti (23). Farra menjadi korban penyerangan brutal oleh rekan kampusnya sendiri, yaitu Raihan Muzaffar (21), yang menggunakan kapak sebagai senjata. Kejadian ini terjadi pada hari Kamis (26/2/2026) pagi dan memicu kehebohan di kalangan mahasiswa serta warga sekitar kampus.
Sebelum insiden tersebut, Farra sempat mengirim pesan terakhir kepada ayahnya, memohon doa dan perlindungan. Pesan itu kini menjadi saksi bisu rasa takut dan harapan korban, yang kemudian berubah menjadi kenyataan pahit. Pesan tersebut menyebutkan bahwa Farra akan mengikuti sidang skripsi pertamanya di pagi hari. Namun, tragedi yang tidak terduga terjadi sebelum ia bisa melanjutkan proses akademiknya.
Motif Penyerangan
Motif penyerangan yang dilakukan oleh Raihan mulai terungkap setelah penyidikan oleh pihak kepolisian. Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa Raihan memiliki dendam asmara terhadap korban. Kedua belah pihak awalnya terlibat dalam hubungan tanpa status (HTS), dengan Raihan merasa sudah menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih. Namun, Farra tidak merasakan hal yang sama.
Kondisi semakin memanas ketika Raihan merasa hanya dimanfaatkan sebagai joki tugas kuliah dan sopir antar-jemput. Selain itu, diketahui bahwa Farra telah memiliki kekasih bernama Ferdi. Rasa sakit hati yang dirasakan oleh Raihan mendorongnya untuk mengasah kapak di rumahnya, lalu mendatangi gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum untuk menyerang korban di lantai dua.
Kondisi Korban dan Respons Kampus
Meski kondisi Farra saat ini mulai stabil setelah menjalani operasi, situasi pasca-pemulihan tetap memerlukan perhatian khusus. Keluarga korban dalam keadaan terpukul, sementara pihak kampus bergegas memberikan bantuan medis dan konseling untuk mahasiswa.
Peristiwa ini juga memicu perdebatan mengenai keamanan mahasiswa di lingkungan kampus dan langkah-langkah pencegahan kekerasan di sekitar kampus. Pihak kampus kini lebih meningkatkan pengawasan dan memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga hubungan interpersonal secara sehat.
Pesan Terakhir Farra ke Ayah
Pesan terakhir Farra kepada ayahnya kini tersebar luas di media sosial, menjadi simbol ketegaran dan harapan dalam menghadapi tragedi yang menimpa dirinya. Dalam pesan singkat di grup WhatsApp keluarga, Farra sempat membocorkan rencana penting yang akan ia lalui di kampus. Tanpa disangka, pesan itu menjadi komunikasi terakhir sebelum dirinya dilarikan ke rumah sakit akibat luka bacokan dari tersangka, Raihan Muzaffar.
Adik korban melalui akun TikTok @dekcinn2 sempat memberikan kabar mengenai kondisi kakaknya yang sudah keluar dari ruang operasi dan kini berada di ruang rawat inap. Namun, akun tersebut kini dikunci setelah video-video kemesraan Farra dan Raihan viral di jagat maya, yang memicu spekulasi mengenai kehidupan pribadi korban.
Peran Polisi dalam Penyelidikan
Penyidikan kepolisian kini sedang mendalami motif penyerangan yang dilakukan secara tiba-tiba. Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, menjelaskan bahwa sifat Raihan yang tertutup menjadi faktor pemicu ledakan emosi yang tidak terdeteksi. “Sejak KKN merasa dekat kemudian merasa ada perasaan suka, cuma memang pelaku introvert agak sedikit tertutup jadi setiap emosionalnya apa yang dirasakan itu tidak muncul,” ujar Kombes Pandra.
Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, AKP Anggi Rian Diansyah, memaparkan bahwa Raihan dan Farra terjebak dalam Hubungan Tanpa Status (HTS). “Sakit hati saja kepada korban menurut pelaku menyudahi hubungan yang sudah mereka jalani beberapa bulan ke belakang,” ujar AKP Anggi.
Tindakan Lanjutan
Pihak kepolisian kini sedang mempercepat proses penyelidikan untuk mengetahui seluruh fakta yang terkait dengan kasus ini. Sementara itu, masyarakat dan kalangan kampus terus memberikan dukungan moril dan materi bagi keluarga korban. Di samping itu, pihak kampus juga berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga hubungan interpersonal dan menghindari konflik yang berujung pada kekerasan.












