Sejarah dan Keunikan Lamang Bakujuik di Batipuh, Sumatera Barat
Lamang bakujuik merupakan hidangan khas yang berasal dari Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Hidangan ini menjadi varian dari lemang, yaitu makanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang biasanya dimasak dalam bambu. Namun, lamang bakujuik memiliki ciri khas yang membedakannya dari lemang pada umumnya.
Momen Spesial untuk Menyantap Lamang Bakujuik
Lamang bakujuik hanya hadir pada momen tertentu, yakni saat Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha. Karena tidak tersedia setiap hari, hidangan ini menjadi sangat spesial dan dinantikan oleh masyarakat Batipuh. Istilah “bakujuik” berasal dari kata dasar “kujuik” dalam bahasa Minangkabau yang berarti kerut atau mengerut. Hal ini sesuai dengan bentuk lamang yang tampak mengkerut akibat isiannya yang dipadatkan. Selain itu, ukurannya juga lebih kecil dibandingkan lemang biasa.
Proses Pembuatan yang Berbeda
Proses pembuatan lamang bakujuik berbeda dari lemang biasa. Salah seorang warga Batipuah Baruh, Uni Lis, menjelaskan bahwa lamang bakujuik dimasak dengan cara direbus menggunakan santan. Beras ketan yang sudah direndam lama dimasukkan ke dalam daun pisang yang telah dibentuk bulat menggunakan kayu atau bambu kecil. Bagian ujung dalam cetakan diikat terlebih dahulu agar tidak tumpah. Setelah beras ketan dimasukkan, bahan tersebut disiram santan hingga padat, kemudian bagian luar diikat menggunakan tali plastik sebelum dikeluarkan dari cetakan. Setelah dikeluarkan, bagian tengah kembali diikat agar adonan lebih padat, lalu direbus menggunakan santan hingga matang.

Penyajian yang Unik
Dalam penyajiannya, lamang bakujuik umumnya disantap bersama pisang, tape, atau campuran kelapa parut dan gula merah. Menurut Lis, lamang bakujuik tidak hanya dikenal karena rasanya, tetapi juga karena menjadi bagian penting dari tradisi dan kebudayaan masyarakat Batipuh yang diwariskan secara turun-temurun.
Langkah-Langkah Membuat Lamang Bakujuik
Berikut adalah langkah-langkah pembuatan lamang bakujuik:
- Persiapan Cetakan dan Daun Pisang: Cetakan dan daun pisang yang digunakan harus dipilih dengan hati-hati, yakni yang memiliki rongga besar dan cukup kuat untuk menahan ketan. Daun yang dipilih pun merupakan bagian dekat ke pohon atau pangkal daun karena memiliki tekstur lebih kuat.
- Proses Memasak Ketan: Ketan yang telah direndam selama beberapa jam dimasukkan ke dalam cetakan yang telah dilapisi daun pisang. Ketan kemudian dimasak hingga matang sempurna, baik dengan cara dikukus atau direbus sehingga menyerap aroma daun pisang.
- Pembungkusan Menggunakan Daun Pisang dan Tali Rapia: Setelah dimasukkan ke dalam cetakan, ketan dibungkus rapat dan diikat menggunakan tali rapia untuk menjaga bentuk dan kepadatannya selama proses pemasakan.
- Proses Pengukusan: Ketan yang telah dibungkus dikukus atau direbus selama beberapa jam hingga matang sempurna dan memiliki tekstur padat.
- Penyajian: Setelah matang, lamang bakujuik dipotong-potong dan disajikan bersama pelengkap seperti tape, pisang, atau kelapa parut yang telah disangrai dengan tambahan gula merah, sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dan gurih.
Makna Budaya dan Kebersamaan
Uni Lis juga mengatakan bahwa lamang bakujuik memiliki sejumlah keistimewaan yang membuatnya selalu dicari saat Lebaran dan Idul Adha. Selain karena hanya tersedia pada momen tertentu, proses pembuatannya yang masih tradisional menjadi nilai lebih yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Batipuh.
Di sisi lain, tradisi pembuatan lamang bakujuik juga menjadi simbol kebersamaan. Masyarakat Batipuh biasanya saling berbagi hidangan ini dengan keluarga, tetangga, dan kerabat saat Lebaran, sehingga mempererat tali persaudaraan.
Lamang bakujuik tidak sekadar makanan, melainkan bagian dari warisan budaya Minangkabau yang perlu dilestarikan. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga kearifan lokal sekaligus merayakan kebersamaan dalam momen-momen spesial. Bagi masyarakat yang belum pernah mencicipinya, Batipuh menjadi tempat yang tepat untuk menikmati lamang bakujuik saat Lebaran atau Idul Adha. Kehadirannya yang terbatas menjadikan hidangan ini semakin istimewa. Dengan bahan sederhana seperti beras ketan, daun pisang serta melalui proses pembuatan yang penuh ketelitian dan kebersamaan, lamang bakujuik menjadi simbol kekayaan budaya dan cita rasa khas Minangkabau.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












