Hukum  

Hakim Kaget, Mengapa Videografer Amsal Sitepu Ditahan?

Kasus Videografer Amsal Sitepu: Kehadiran Hakim yang Bingung dan Intimidasi Jaksa

Amsal Sitepu, seorang videografer yang kini menjadi terdakwa dalam kasus dugaan korupsi proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mengungkapkan bahwa hakim yang menangani kasusnya merasa bingung dan heran kenapa dirinya bisa dipenjara. Hal ini disampaikan Amsal saat menghadiri rapat bersama Komisi III DPR melalui platform Zoom pada Senin (30/3/2026).

Hakim Bingung dengan Kasus Amsal

Dalam kesempatan tersebut, Amsal menjelaskan bahwa hakim ketua pada persidangan pernah bertanya, “Kenapa dia bisa dipenjara?” Ia juga menyebut bahwa hakim itu menanyakan hal serupa kepada kepala desa. Menurut Amsal, kepala desa menjawab bahwa mereka tidak tahu alasan pihak berwenang memperkarakan dirinya.

“Ada proposal yang dia tawarkan?” tanya hakim. Kepala desa menjawab ada. “Berapa nilai proposal yang dia tawarkan?” jawaban dari kepala desa adalah Rp 30 juta. “Berapa yang kalian bayarkan?” jawaban yang sama yaitu Rp 30 juta. Lalu, hakim bertanya lagi, “Terus kenapa dia bisa dipenjara?” Kepala desa menjawab, “Enggak tahu Yang Mulia.”

Harga yang Murah untuk Proyek Video Profil Desa

Amsal mengatakan bahwa harga Rp 30 juta per desa untuk pembuatan video profil dinilai sangat murah. Ia menjelaskan bahwa saat itu, ia dan rekan-rekannya kehilangan pekerjaan akibat lockdown selama pandemi Covid-19. Mereka hanya ingin bertahan hidup.

Selain itu, tantangan dalam membuat video di desa-desa di Karo cukup besar. Drone milik Amsal bahkan pernah disambar burung elang dan terjatuh ketika sedang syuting.

Proposal yang Disetujui oleh Beberapa Kades

Amsal menceritakan bahwa ketika dirinya mengajukan proposal ke beberapa kepala desa di Karo, ada yang menolak, tapi juga ada yang menyetujui tawarannya. Ia menegaskan bahwa semua proyek dilakukan dengan alat dan keahlian profesional.

“Semua kami adalah profesional videografer yang mengerjakan ini,” ujar Amsal. Ia juga menyatakan bahwa pembayaran senilai Rp 30 juta diterima sesuai dengan proposal dan SPJ yang ditandatangani. Uang tersebut sudah dipotong pajak dan langsung diberikan oleh desa.

Pengakuan Diintimidasi oleh Jaksa

Kasus Amsal Sitepu masih menjadi sorotan hingga saat ini. Terbaru, Amsal mengadukan nasibnya sebagai terdakwa dugaan mark up anggaran yang merugikan negara hingga Rp 202 juta. Dalam rapat virtual tersebut, Amsal mengaku diintimidasi oleh jaksa secara langsung di rumah tahanan (rutan).

Ia menyebut bahwa jaksa memberikan sekotak brownies cokelat dan menyampaikan pesan agar tidak aneh-aneh. “Dia (jaksa) ngomong langsung dengan saya di rutan ini, ‘Udah ikutin aja alurnya, nggak usah ribut-ribut tutup konten-konten itu, ada yang terganggu,’” kata Amsal.

Namun, Amsal menolak permintaan tersebut. Ia mengklaim tetap melawan karena merasa tidak bersalah. “Nggak ada lagi anak-anak muda yang harus dikriminalisasi di Indonesia,” tegasnya.

Ancaman dan Keberanian Amsal

Amsal bahkan menyatakan siap menjadi satu-satunya pekerja ekonomi kreatif yang dikriminalisasi. Ia juga mengaku mendapat ancaman akan “dibenamkan” jika terus melawan. Namun, ia menegaskan bahwa tidak takut karena merasa tidak salah.

“Saya bangga dengan pekerjaan saya, seorang videografer, seorang pekerja ekonomi kreatif,” tambahnya. Ia juga menyebut bahwa dugaan intimidasi tersebut telah ia tuangkan dalam nota pembelaan atau pleidoi di persidangan.

Harapan Amsal untuk Keadilan Hukum

Amsal berharap hukum di Indonesia bisa ditegakkan secara adil, termasuk bagi para pekerja di sektor ekonomi kreatif. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah seorang profesional videografer yang hanya melakukan penawaran sesuai proposal.

“Saya didakwa melakukan mark up anggaran. Bagaimana mungkin seorang penyedia jasa bisa melakukan mark up anggaran?” tanya Amsal. Ia menambahkan, “Kalau ada mark up anggaran, tentu saja proposalnya ditolak.”


Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *