Bisnis  

Industri keramik terpuruk akibat kenaikan biaya energi 35%



Industri keramik nasional sedang menghadapi tantangan besar akibat kenaikan biaya energi yang signifikan. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyatakan bahwa biaya energi industri keramik meningkat hingga 35% dari total biaya produksi, terutama karena gangguan pasokan gas dan kenaikan harga gas industri. Hal ini semakin memperberat daya saing industri dalam negeri di tengah persaingan dengan produk impor.

Ketua ASAKI Edy Suyanto menjelaskan bahwa tingkat utilisasi produksi keramik pada kuartal I 2026 berada di kisaran 70%-72%, jauh dari target 80% dan sedikit di bawah realisasi tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh gangguan pasokan gas dari PGN di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Bahkan, beberapa pabrik di Jawa Timur sempat menghentikan operasional produksi selama sekitar satu minggu pada Januari 2026.

Dampak Kenaikan Harga Gas dan Gangguan Pasokan

Menurut Edy, gangguan pasokan gas yang disertai penurunan alokasi gas industri tertentu (AGIT), serta kenaikan biaya tambahan alias surcharge gas, sangat berdampak besar terhadap kinerja industri keramik. Hal ini juga menggerus daya saing secara terus-menerus.

Di Jawa Barat, rata-rata alokasi gas pada 2025 hanya sekitar 67%, turun dari 79% pada 2024. Bahkan pada Februari 2026, alokasi gas merosot hingga 49%. Kondisi ini membuat industri kekurangan pasokan gas murah, sehingga harus mencari tambahan gas dengan harga lebih mahal, yang akhirnya mendorong harga gas naik ke kisaran US$10–10,5 per MMBTU.

Sementara itu di Jawa Timur, alokasi gas pada Februari 2026 sekitar 51% dengan harga gas mencapai sekitar US$8 per MMBTU. Kondisi darurat gas ini menyebabkan biaya energi naik ke 33%-35% dari total biaya produksi. Padahal, pada awal kebijakan HGBT 2021, biaya energi sempat berada di level 25%-27%.

Tambahan Beban Akibat Pelemahan Rupiah

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga memperburuk beban biaya energi karena pembayaran gas menggunakan kurs dolar. Hal ini semakin memberatkan industri keramik yang sudah kesulitan menghadapi kenaikan biaya produksi.

ASAKI meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk menjamin pasokan gas bagi industri nasional, termasuk melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) gas bumi. “Kami mengharapkan pemerintah dapat memprioritaskan gas bumi untuk kebutuhan industri nasional karena memberikan multiplier effect besar seperti penyerapan tenaga kerja dan investasi,” ujar Edy.

Ancaman Impor dari Cina dan India

Di sisi lain, ASAKI juga menyoroti dampak konflik Timur Tengah yang berpotensi memperburuk kondisi industri dalam negeri. Selain meningkatkan tekanan biaya energi, konflik tersebut juga berisiko memicu lonjakan impor keramik.

“Kondisi industri keramik nasional saat ini seperti peribahasa ‘sudah jatuh tertimpa tangga’ karena di tengah tekanan biaya produksi, kami juga menghadapi potensi banjir produk impor dari Cina dan India,” kata Edy.

Menurutnya, industri keramik Cina dan India saat ini tengah mengalami oversupply dan overcapacity, sehingga berpotensi mengalihkan ekspor ke Indonesia setelah pasar Timur Tengah terganggu. Ini menjadi ancaman serius bagi industri keramik nasional yang sedang berjuang melawan kenaikan biaya dan ketidakstabilan pasokan.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *