Siapa Penemu Tenaga Nuklir? Ini Jawabannya!

Asal-usul Tenaga Nuklir

Tenaga nuklir memiliki asal-usul yang sangat kompleks karena tidak hanya ditemukan oleh satu orang. Tenaga nuklir merupakan hasil dari kerja sama banyak ilmuwan dan insinyur yang bekerja lintas generasi serta negara. Energi nuklir muncul secara perlahan melalui teori, uji coba, kesalahan, serta ketekunan. Setiap kontribusi berbeda pada teka-teki besar tenaga nuklir datang dari negara, sistem politik, dan untuk tujuan yang berbeda.

Nuklir Pertama Kali Dikembangkan untuk Tujuan Perang

Apa yang sekarang kita sebut sebagai tenaga nuklir bukanlah satu penemuan. Ini merupakan rangkaian penemuan yang secara bertahap mengungkapkan bagaimana energi tersimpan di dalam atom dan bagaimana energi tersebut dapat dilepaskan serta dikendalikan. Namun, reaksi fisi nuklir terkontrol pertama bukanlah tentang produksi listrik. Reaksi tersebut dilakukan sebagai bagian dari Proyek Manhattan dan terkait langsung dengan Perang Dunia II. Sejak saat itu, ambisi umat manusia untuk mengendalikan sumber daya yang baru ditemukan ini menuju arah yang jauh lebih gelap.

Perang dan politik membentuk arah ilmu pengetahuan. Lantas, bom atom pertama tercipta. Energi nuklir juga memberi daya pada kapal induk dan kapal selam Amerika. Namun, tanpa penggunaan dan penelitian militer, kita mungkin tidak akan pernah belajar bagaimana memanfaatkan tenaga nuklir serta menggunakannya untuk keperluan sipil.

Asal-usul Tenaga Nuklir Dimulai dari Era Yunani Kuno

Tidak mungkin kita bisa menunjuk satu tokoh sejarah dan berkata, “inilah orang yang menemukan tenaga nuklir.” Sebab, energi nuklir bukanlah produk dari satu momen genius atau satu momen “aha!”. Ini merupakan hasil dari penemuan ilmiah selama beberapa dekade yang dilakukan oleh puluhan individu di berbagai negara.

Dikutip dari Britannica, semuanya dimulai dengan penemuan para filsuf Yunani Kuno pada abad ke-5 SM, yakni Democritus dan gurunya, Leucippus. Mereka menyimpulkan bahwa unit materi terkecil, tak terlihat, dan tak bisa dibagi lagi disebut sebagai atomos. Lantas, diyakinilah bahwa atom itu ada. Namun, para ilmuwan abad ke-19 dan ke-20 justru yang pertama kali menemukan sifat atom. Atom dari unsur-unsur tertentu tidak stabil dan akan melepaskan energi ketika mengalami proses peluruhan radioaktif.

Ditemukannya Fisi Nuklir dan Reaksi Berantai Terkontrol Pertama

Pada akhir 1930-an, ditemukan fisi nuklir, sebagaimana dilansir Science Daily. Kimiawan Jerman Otto Hahn dan Fritz Strassmann menginterpretasi teoritis dari fisikawan Lise Meitner serta Otto Frisch, yang menemukan bahwa inti atom dapat terbelah maupun melepaskan sejumlah besar energi. Ini merupakan tonggak penting, tetapi belum cukup untuk mencapai tujuan pencarian energi tanpa batas.

Namun, fisi saja tidak menghasilkan energi yang dapat dimanfaatkan dan diubah menjadi listrik. Itu karena konsep reaksi berantai belum dikonfirmasi. Reaksi berantai terkontrol pertama dicapai pada 1942 oleh peraih Nobel Enrico Fermi. Fisikawan Italia-Amerika ini sekarang disebut sebagai “Bapak Zaman Nuklir”.

Reaktor pertama Enrico Fermi, yang dikenal sebagai Chicago Pile-1, murni bersifat eksperimental. Reaktor ini hampir tidak menghasilkan daya dan tidak memerlukan pendinginan. Ia mengubah panas fisi menjadi sumber daya listrik yang andal. Penemuan ini pun menyelesaikan banyak masalah ilmiah dan teknik.

Namun, desain reaktor, pengayaan uranium, pendinginan reaktor, dan pemisahan isotop bukanlah penemuan yang dilakukan satu orang saja. Para ahli di bidang metalurgi, fisika, kimia, serta teknik mesin bekerja sama untuk menciptakan reaktor nuklir stabil pertama yang mampu menghasilkan listrik. Jadi penemuannya saling terkait dan dikembangkan.

Perang dan Politik Menjadikan Nuklir Dimanfaatkan untuk Kepentingan Umat Manusia

Sepanjang sejarah, perang sering kali menjadi katalis bagi penemuan ilmiah dan perkembangan serta penerapan teknologi baru yang pesat. Tenaga nuklir bukanlah pengecualian. Kebutuhan militer yang mendesak selama Perang Dunia II dan pendanaan pemerintah yang besar mengubah fisi nuklir menjadi senjata.

Uji coba rahasia Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Proyek Manhattan, menyatukan ribuan ilmuwan, insinyur, dan pekerja industri untuk menciptakan bom atom pertama. Lagi pula, selama perang, sebagian besar pekerjaan pada teknologi nuklir dikhususkan untuk persenjataan, bukan produksi energi seperti yang ada saat ini. Setelah perang berakhir, ambisi politik mengarahkan teknologi nuklir yang sama ke arah yang berbeda.

Kekuatan penghancur yang ditunjukkan oleh bom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 memperjelas bahwa energi atom dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia. Nuklir bukan lagi hanya instrumen perang, melainkan sumber kekuatan yang tak terbatas. Di AS, peralihan dari perang ke perdamaian diformalkan dengan dibentuknya United States Atomic Energy Commission atau Komisi Energi Atom Amerika Serikat. Komisi ini mengambil alih pengembangan tenaga nuklir dari tangan militer. Di bawah bimbingan AS, proyek nuklir mulai mengembangkan reaktor baru yang berorientasi pada produksi listrik, seperti yang dijelaskan World Nuclear Association.

Saat ini, kita menyaksikan penggunaan tenaga nuklir secara damai dan sipil. Namun, kita masih melihat rudal bertenaga nuklir dan persenjataan nuklir, apalagi pada masa perang yang sedang berkecamuk saat ini. Dalam hal ini, tenaga nuklir berutang keberadaannya pada geopolitik dan konflik. Adapun, warisan itu masih bergema dalam debat modern tentang keselamatan dan pengendalian energi nuklir untuk ke depannya.

Kenapa Harga Plastik Naik di Tengah Gejolak Selat Hormuz?
4 Program NASA pada 2026, Ada Artemis II

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *