Negosiasi Iran Tersandung, JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Akar Masalah

Kegagalan Perundingan AS dan Iran di Pakistan

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengonfirmasi bahwa perundingan selama 21 jam dengan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Meski demikian, Vance menyatakan bahwa pihaknya meninggalkan “tawaran terakhir dan terbaik” untuk dipertimbangkan oleh Teheran.

Menurut Vance, akar utama kebuntuan negosiasi adalah masalah fasilitas nuklir milik Iran. AS menuntut komitmen fundamental jangka panjang agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir, meskipun Iran membantah berupaya memproduksi bom atom.

Perundingan ini berlangsung setelah AS dan Israel sepakat menangguhkan serangan bersama selama dua pekan demi kelancaran proses negosiasi. Vance menjelaskan bahwa pihaknya berangkat dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode kesepahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik mereka. Ia menegaskan bahwa pihak Iran masih memiliki waktu untuk mempertimbangkan tawaran tersebut.

Persoalan Fasilitas Nuklir

Vance menekankan bahwa komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir menjadi kunci dari negosiasi antara kedua negara. Ia menegaskan bahwa AS ingin melihat komitmen afirmatif dari Iran, bukan hanya sekarang atau dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang. Namun, hingga saat ini, komitmen tersebut belum terlihat.

Pernyataan Vance juga menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump bersikap akomodatif selama perundingan. Menurutnya, Trump memberi instruksi kepada delegasi AS untuk datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik dalam mencapai kesepakatan. Meskipun begitu, Vance mengakui bahwa tidak ada kemajuan yang signifikan dalam diskusi.

Dinamika Perundingan

Sebelumnya, Pemerintah Iran melalui platform X menyatakan bahwa para ahli teknis dari kedua belah pihak akan saling bertukar dokumen. Mereka menegaskan bahwa negosiasi akan terus berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan pandangan. Pertemuan ini menjadi dialog tatap muka pertama antara AS dan Iran sejak Revolusi Islam 1979 dan yang pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Hasil dari diplomasi ini dinilai sangat krusial karena akan menentukan nasib gencatan senjata yang baru berumur dua pekan. Selain itu, perundingan ini diharapkan mampu membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan energi global. Jalur sempit ini diblokir oleh Iran sejak konflik meletus, memicu lonjakan harga minyak dunia.

Tim Delegasi dan Tensi Perundingan

Dalam pertemuan tersebut, delegasi AS diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan penasihat senior Jared Kushner. Sementara itu, Iran mengutus Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.

Berdasarkan keterangan sumber dari pihak mediator, tensi perundingan dilaporkan naik-turun seiring dengan perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Meski demikian, Pemerintahan Presiden Donald Trump belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil perundingan maupun sengketa yang masih tersisa.

Perkembangan Terbaru

Melalui unggahan di platform X, Pemerintah Iran menyampaikan bahwa setelah berdiskusi selama 14 jam, jeda diambil agar para ahli teknis dari kedua belah pihak dapat bertukar dokumen. Otoritas Iran menegaskan bahwa atas usulan Pakistan, negosiasi akan kembali dilanjutkan ke putaran berikutnya setelah masa rehat pada hari Minggu, meskipun masih terdapat sejumlah perbedaan pandangan.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *