Pemilu Peru: Kecenderungan Politik yang Terfragmentasi
Pemilihan umum di Peru telah menjadi perhatian utama masyarakat setempat, dengan lebih dari 25 juta warga menghadiri tempat pemungutan suara pada hari Minggu. Mereka akan memilih presiden baru dari 35 kandidat yang berkompetisi secara ketat. Situasi politik di negara ini sangat terfragmentasi, dan para ahli sepakat bahwa pemilihan putaran kedua pada 7 Juni hampir pasti akan terjadi karena tidak ada kandidat yang diperkirakan akan meraih mayoritas yang dibutuhkan.
Kandidat-Kandidat Utama dan Perpecahan Ideologis
Beberapa kandidat utama mencerminkan perpecahan ideologis di Peru. Keiko Fujimori, yang memimpin partai Fuerza Popular, mencalonkan diri untuk keempat kalinya sebagai presiden. Sebagai putri mantan presiden Alberto Fujimori, ia memiliki latar belakang sayap kanan dan menghadapi bayang-bayang warisan ayahnya yang kontroversial serta persaingan hukum yang terus berlangsung. Meskipun popularitasnya stabil, ia menghadapi tantangan besar dengan tingkat ketidaksetujuan yang mencapai 70% hingga 80%.
Di sisi lain, Rafael Lopez Aliaga dari Renovacion Popular juga menjadi tokoh penting. Ia baru saja mundur sebagai walikota Lima untuk meluncurkan kampanye presidensial yang kedua. Sementara itu, gelombang anti-kemapanan telah meningkatkan posisi Ricardo Belmont, seorang taipan media berusia 80 tahun. Popularitasnya meningkat setelah penggulingan Pedro Castillo pada tahun 2022, karena ia memposisikan diri sebagai suara bagi kelompok yang terpinggirkan.
Tokoh-Tokoh Lain dalam Kompetisi
Roberto Sanchez, anggota kongres petahana dari Juntos por el Peru, mewakili kubu kiri pro-Castillo. Ia adalah mantan menteri di pemerintahan Castillo dan mencalonkan diri dengan platform pembelaan politik bagi pemimpin yang digulingkan tersebut. Dalam konteks ini, Peru menjadi studi kasus global dalam ketidakstabilan politik, dengan delapan presiden yang berganti dalam satu dekade.
Negara ini pernah mengalami pemakzulan, pembubaran Kongres, dan kerusuhan sosial yang besar. Bahkan, pemerintahan sebelumnya juga menghadapi krisis ketika Presiden Dina Boluarte hampir dicopot karena memiliki jam tangan mewah.
Stabilitas Ekonomi yang Mengesankan
Meski situasi politik seringkali tidak stabil, ekonomi Peru tetap tangguh. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh independensi absolut Bank Sentral (BCR), yang tetap terlindungi dari volatilitas politik. Menurut Franco Olcese, seorang analis politik dan pendiri Centro Winaq, cabang eksekutif di Peru kekurangan bobot struktural seperti legislatif. Ia menjelaskan bahwa akibatnya, “mereka mudah untuk mencopot presiden yang sedang menjabat” melalui proses pemakzulan yang sering terjadi.
Namun, lembaga-lembaga tertentu di Peru, terutama Bank Sentral, tetap berfungsi secara efektif. Banyak yang menyebut bahwa otonomi ini didukung oleh fondasi dukungan sosial dan publik yang kuat yang melindunginya dari pergeseran partisan. Sektor swasta juga menunjukkan ketangguhan karena kebutuhan, dengan bisnis Peru “belajar untuk menavigasi sistem yang ditandai oleh ketidakpastian kronis ini.”












