PANGKALPINANG – Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid atau yang dikenal dengan HNW menyampaikan bahwa Indonesia telah mengalami berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi, politik, kepercayaan, ideologi, hubungan pusat dan daerah, pemberontakan, komunisme hingga krisis global. Namun, krisis-krisis tersebut selalu berhasil diselesaikan dengan baik berkat pengamalan ideologi dan dasar negara Pancasila.
Menurut HNW, potensi krisis akibat perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran bukanlah ancaman baru bagi Indonesia. Ia yakin bangsa Indonesia dapat melewati krisis tersebut jika benar-benar menjalankan nilai-nilai Pancasila.
Pernyataan ini disampaikan HNW saat menjadi narasumber dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara yang diadakan oleh MPR RI bersama DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Bangka Belitung. Acara yang membahas tema “Mengokohkan Ketahanan Nasional Dalam Menghadapi Krisis Melalui Nilai-Nilai Pancasila” digelar di Pangkalpinang pada Sabtu (18/4).
Pancasila sebagai Dasar Persatuan
HNW menekankan bahwa keberadaan Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa membuat Indonesia tetap utuh dan terhindar dari perpecahan. Meskipun Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman agama, ras, suku bangsa, budaya, dan bahasa, namun karena kesepakatan para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, untuk menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka Indonesia tetap aman.
“Karena para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, sepakat untuk mengakui dan menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka selamatlah Indonesia,” ujarnya.
Sejarah Penyusunan Pancasila
Selain itu, HNW menyoroti peran tokoh-tokoh agama Islam dan Kristen dalam penyusunan Piagam Jakarta yang menjadi Pembukaan UUD 1945. Tokoh-tokoh seperti Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, dan Wachid Hasjim dari kalangan Islam, serta AA Maramis dari kalangan Kristen, terlibat langsung dalam Panitia Sembilan.
“Para tokoh Islam itu juga rela menghilangkan tujuh kata pada sila pertama dalam Piagam Jakarta sesuai keberatan masyarakat Indonesia Timur, dan mengubahnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa, seperti yang terdapat pada sila pertama Pancasila,” jelas HNW.
Perbandingan dengan Negara Lain
HNW membandingkan Indonesia dengan Uni Soviet dan Yugoslavia. Uni Soviet, yang pernah menjadi negara terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, kini telah lenyap dan terpecah menjadi 15 negara. Hal ini terjadi karena krisis ekonomi dan kegagalan reformasi politik akibat ideologi komunisme yang tidak mengakar di tanah air.
Sementara itu, Yugoslavia, yang dahulu terdiri dari lima etnis dan tiga agama besar, kini sudah tidak ada lagi. Negara itu pecah akibat konflik antaretnis dan meningkatnya nasionalisme kedaerahan.
Kepercayaan pada Pancasila
Meski krisis akan terus terjadi, termasuk ketika Amerika dan Israel menyerang Iran, HNW percaya bangsa dan negara Indonesia akan tetap bertahan. Ia mengajak umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya untuk terus mengawal Pancasila dengan menerapkan semua sila-sila dalam kehidupan sehari-hari.
“Indonesia adalah negara kepulauan, lebih dari 17.000 pulau, 700 lebih suku bangsa, dan enam agama resmi. Kalau kita tidak mempunyai ideologi yang tumbuh kembang dari Indonesia sendiri, maka kasus Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi. Namun, kita tetap kokoh dan kuat karena mempunyai ideologi yang menyatukan kita semua,” ujarnya.
Kontribusi Tokoh Islam dalam Pancasila
HNW menekankan bahwa ideologi Pancasila tumbuh dari dalam, digali secara bersama-sama oleh komponen bangsa, baik tokoh nasional maupun tokoh-tokoh umat Islam. Contohnya adalah tokoh-tokoh seperti K.H. Kahar Muzakir, Ki Bagus Hadi Kusumo, dan K.H. Mas Mansur dari Muhammadiyah, serta K.H. Wahid Hasyim, K.H. Masykur, dan K.H. Hasyim Asy’ari dari NU.
Dari Persatuan Umat Islam, ada K.H. Abdul Halim, K.H. Anwar Sanusi, dan Mr. Syamsudin. Dari Partai Syarikat Islam ada Haji Abi Kusno Cokrosuyoso, dari Partai Islam Penyandar Haji Agus Salim, dan dari Masyumi Muhammad Nasir. Mereka bersepakat menjadikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.
Kesuksesan Pancasila dalam Menjaga Persatuan
“Sukses Pancasila mengamankan persatuan kesatuan Indonesia sudah berlangsung lebih dari 80 tahun,” tegas HNW. Selama itu, Pancasila menjadikan bangsa Indonesia tahan terhadap beragam masalah dan krisis.
“Apalagi krisis yang sekarang terjadi masih berbentuk naiknya harga BBM, plastik dan kedelai. Jangan lupa, warga Indonesia itu pintar. Tidak menaikkan harga kedelai tidak menaikkan harga tempe, tetapi bentuk tempenya saja diperkecil. Artinya, kita mempunyai mekanisme untuk mengatasi masalah,” ujarnya.
Peran Partai Politik dan Umat Islam
HNW menekankan partai politik, apalagi partai Islam, harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi dan mengatasi krisis ini dengan menyatukan bangsa menggunakan Pancasilanya. “Karena sejak dari dulu Partai Islam itu berada di garda terdepan menyelesaikan permasalahan bangsa supaya keluar dari krisis-krisisnya,” katanya.
Kontribusi tokoh Islam dalam penyusunan Pancasila terbukti dengan masuknya ungkapan-ungkapan dalam Al-Qur’an dan hadist ke dalam sila-sila Pancasila, seperti adil (keadilan) dan rakyat (kerakyatan). Keduanya bukan berasal dari Bahasa Melayu, melainkan dari ungkapan khas Al-Qur’an dan hadis yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.
Selain itu, HNW mengingatkan bahwa pada masa Belanda memecah belah RI dan merubah Indonesia menjadi RIS, tokoh dari Partai Islam Masyumi berjasa mengembalikan bentuk negara Indonesia kembali menjadi NKRI melalui Mosi Integral Natsir, 3 April 1950.
HNW menekankan bahwa jika hal itu tidak terjadi, barangkali generasi muda tidak mengenal NKRI, dan yang menjadikan NKRI sebagai harga mati. “Kalau dahulu tokoh-tokoh Islam berperan aktif menjadi kelompok yang memberikan solusi terhadap krisis dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam hingga partai Islam tidak dipinggirkan, melainkan dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan turut menyelesaikan krisis yang kita hadapi, termasuk krisis-krisis akibat perang di Timur Tengah,” pungkas HNW.











