Studi: Sistem Rem Stabil Selamatkan 8.000 Jiwa

Kementerian Perhubungan Terbuka terhadap Penerapan Teknologi Keselamatan Kendaraan

Kementerian Perhubungan menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap penerapan teknologi keselamatan kendaraan, dengan tujuan meningkatkan perlindungan bagi pengguna jalan dan menekan angka kecelakaan di Indonesia, khususnya pada sepeda motor. Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan dari Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Yusuf Nugroho, menyampaikan bahwa pemerintah mendukung semua aspek teknologi yang berkontribusi pada keselamatan berkendara, tetapi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang digunakan untuk keselamatan.

Dalam diskusi bertajuk “Pendalaman Substansi Pilar Kendaraan Berkeselamatan pada Kendaraan Kecil”, Yusuf menggarisbawahi pentingnya fitur keselamatan pada kendaraan dalam memitigasi kesalahan manusia, khususnya pada sepeda motor dan kendaraan kecil yang mendominasi lalu lintas. Ia mengakui bahwa kerangka regulasi dan arah kebijakan saat ini masih perlu diterjemahkan ke dalam standar yang lebih konkret agar implementasinya dapat berjalan optimal.

Menurut Yusuf, penguatan standar tersebut sangat penting karena berbagai riset menunjukkan bahwa intervensi pada aspek kendaraan mampu memberikan dampak signifikan terhadap keselamatan. Studi dari Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (POLAR UI) menunjukkan bahwa sistem pengereman yang lebih stabil berpotensi menyelamatkan hingga 8.000 jiwa per tahun.

Di sejumlah negara, termasuk kawasan ASEAN dan India, teknologi keselamatan sepeda motor telah diterapkan sebagai standar minimum, sementara di Indonesia masih dalam tahap pengembangan meski urgensinya semakin meningkat.

Tantangan Keselamatan Jalan di Indonesia

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association (RSA) Indonesia, Rio Octaviano, menyatakan bahwa setiap jam dua hingga tiga orang meninggal di jalan raya, mayoritas pengendara sepeda motor, sehingga diperlukan intervensi serius segera. Ia menyoroti ironi kecelakaan yang sering terjadi saat kondisi jalan dianggap aman, seperti jalan lurus, cuaca cerah, serta visibilitas baik, yang justru meningkatkan rasa percaya diri berlebih pengendara.

Menurut Rio, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kecelakaan bukan semata akibat kelalaian individu, melainkan mencerminkan sistem keselamatan yang belum bekerja optimal dalam mengantisipasi risiko secara menyeluruh di lapangan. Ia menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki kerangka lima pilar keselamatan jalan dalam Rencana Umum Nasional Keselakatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, namun implementasinya belum seimbang, terutama pada pilar teknologi kendaraan yang belum berjalan optimal dibanding edukasi.

Pentingnya Penguatan Aspek Kendaraan

Karena itu, penguatan aspek kendaraan dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan fatalitas, bukan menggantikan pilar lain, melainkan melengkapi sistem keselamatan guna melindungi pengguna jalan secara lebih efektif. Rio menambahkan bahwa pendekatan sistemik seperti di sektor penerbangan dan perkeretaapian perlu diterapkan, agar setiap insiden memicu evaluasi menyeluruh, terutama pada kendaraan roda dua yang berkontribusi besar terhadap angka kematian.

“Di tingkat global, kecelakaan bukan lagi sekadar accident, melainkan road crash yang bisa dicegah. Namun di Indonesia masih dipersepsikan sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Karena itu, penguatan kendaraan berkeselamatan harus dilihat sebagai upaya melindungi, bukan membebani,” kata Rio.

Perspektif Praktisi Keselamatan Jalan

Praktisi keselamatan jalan dari ASEAN NCAP, Adrianto Sugiarto, menyebutkan bahwa 46 persen kecelakaan di Asia Tenggara melibatkan sepeda motor, dan dengan hampir 40 persen populasi ASEAN, Indonesia menjadi kontributor terbesar di kawasan. Ia menegaskan bahwa mengubah perilaku ratusan juta masyarakat membutuhkan waktu panjang. Sementara itu, nyawa terus melayang di jalan setiap hari.

“Dalam kondisi ini, teknologi menjadi salah satu langkah relevan untuk menekan fatalitas korban,” ujar Andrianto.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *