Pengalaman Pilu Warga Desa Matang Ara Saat Banjir Besar
Banjir besar yang melanda wilayah Aceh Tamiang pada Rabu, 26 November 2025 lalu, meninggalkan duka mendalam bagi warga desa-desa yang terkena dampaknya. Salah satu desa yang paling terpuruk adalah Desa Matang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka. Cerita-cerita pilu dan mengerikan dialami oleh warga pedalaman setempat, yang harus menghadapi banjir dengan ketinggian air mencapai 10 meter.
Menurut pengakuan warga, ketinggian air melebihi tiang listrik dan mencapai kubah masjid di desa tersebut. Awalnya, hujan deras terus-menerus mengguyur daerah ini selama beberapa hari, sehingga air sungai meluap dan menggenangi desa. Warga mulai merasa was-was sejak malam hari, ketika air sungai terus meninggi. Banyak dari mereka memilih tidak tidur untuk terus mengawasi kondisi air yang semakin mengancam.
Pada pagi tanggal 26 November 2025, air mulai merendam desa. Warga pun mengambil inisiatif membawa anak-anak, sebagian pakaian, dan bekal makanan ke tempat aman. Mereka memilih menaiki bukit-bukit di sekitar desa untuk berlindung, mengingat pengalaman banjir tahun 2006 silam. Namun, banjir kali ini lebih parah dibandingkan sebelumnya.
Insting warga ternyata benar. Hingga siang hari itu, air telah menenggelamkan rumah-rumah mereka. Ketinggian air melewati tiang listrik, dan akhirnya berhenti saat mencapai kubah masjid. Selama beberapa hari dan malam, mereka harus bertahan di bukit tinggi sambil menunggu air surut. Lokasi tempat tinggal mereka terkurung oleh air, sehingga tidak ada akses jalan menuju ke tempat lain.
Setelah dua hari, air akhirnya surut. Warga turun dari bukit dan melihat banyak rumah mereka yang hanyut atau rusak parah. Bahkan, beberapa tiang listrik tumbang ke jalan. “Saat air meninggi itu, ada tiga bukit di sini yang menjadi tempat berlindung kami. Alhamdulillah, Tuhan masih menjaga kami, semua warga di sini selamat tidak ada yang hanyut atau tenggelam, walaupun rumah kami banyak hancur,” ujar salah satu warga.
Setelah banjir, masalah baru muncul. Banyak warga tidak memiliki lagi tempat berteduh yang layak. Stok makanan juga mulai menipis, dan bahan makanan pokok sulit diperoleh. Bantuan logistik dari perkotaan Aceh Tamiang sangat sulit masuk karena akses jalan rusak dan dipenuhi lumpur tebal setengah meter, yang tidak bisa dilalui kendaraan.
Warga mengaku hanya dua kali menerima bantuan makanan, dan mereka tidak tahu asalnya dari mana. Bagi mereka, makanan untuk anak-anak yang penting ada. Belum lagi kesulitan mendapatkan air bersih. Meski ada titik air mengalir dari bukit, jumlahnya sedikit dan hanya cukup untuk minum dan memasak. Jaraknya juga cukup jauh.
Sementara itu, air untuk mandi atau bersih-bersih mereka gunakan air mengendap yang bercampur lumpur dan bau dari area kebun sawit sekitar. “Selama ini sering lewat helikopter di daerah kami ini, tapi tidak turun memberi bantuan makanan,” keluh anak-anak di Desa Matang Ara.
“Kami harap bantuan bisa datang, Pak. Terima kasih ya. Kami jarang sekali dapat bantuan,” ujar seorang anak saat disapa oleh tim Xtrim dan , di desanya yang luluh lantak akibat banjir.
“Saat banjir kami naik ke bukit sama ayah, ibu, dan adik-adik kami. Airnya besar sekali pak, kami takut sekali waktu itu, tapi sekarang tidak takut lagi, karena airnya sudah tidak ada lagi,” tambah anak-anak tersebut.

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”












