Dampak Media Sosial terhadap Kesetaraan Gender di Indonesia
Apakah Anda pernah memikirkan berapa jam sehari yang Anda habiskan menjelajahi media sosial? Pertanyaan ini semakin relevan mengingat penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan media sosial tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga cara manusia berpikir dan bertindak. Studi ilmiah seperti yang diterbitkan di BMC Psychiatry menegaskan bahwa paparan media sosial dalam intensitas tinggi dapat mengubah cara otak bekerja, terutama dalam proses berpikir kompleks seperti penilaian sosial, pembentukan opini, dan pengambilan keputusan.
Kekhawatiran serupa disampaikan oleh Kalis Mardiasih, seorang feminis yang aktif berkampanye melawan budaya patriarki melalui media sosial. Menurutnya, ruang digital kini semakin dipenuhi oleh konten yang justru menggerogoti semangat perjuangan kesetaraan gender. Alih-alih menjadi medium edukasi dan advokasi, media sosial kerap dipenuhi narasi dangkal atau bahkan regresif.
Konten yang Mengancam Kesetaraan Gender
Di Indonesia, tren influencer AS seperti Andrew Tate sangat mencolok. Ia menjual kelas online yang mengajarkan cowok-cowok untuk jadi kaya raya dan berotot, sambil mengontrol perempuan. Dia antifeminis banget karena merasa feminis mengambil lapangan kerja laki-laki. Di Indonesia juga ada konten-konten semacam itu, tidak perlu disebut namanya, orang-orang juga sudah pada tahu. Mereka publikasikan konten-konten yang provokatif.
Ada juga yang menormalisasi pelecehan. Misal ketika ada yang mengalami pelecehan, ada influencer yang bilang: “Kalau enggak mau dipegang-pegang, ya enggak usah jadi penyanyi.” Pernah ada penyanyi laki-laki yang dilecehkan dan speak up malah dianggap cengeng banget sih jadi cowok. Pernah juga ada dosen perempuan dari universitas ternama yang menulis di Twitter baginya tidak apa-apa masih lajang, langsung dirundung.
Peran Gender yang Konservatif
Karakter-karakter dari post atau konten di media sosialnya langsung nampak kelihatan atau samar-samar? Kelihatan dengan menampilkan peran gender yang konservatif, misal pembakuan peran gender. Jadi kalau laki-laki itu diasosiasikan dengan harta banyak dengan kekuatan fisik dan penguasaan terhadap perempuan. Konten-konten itu mengajari laki-laki, misal: “Jangan mau kalau misalnya punya pasangan yang berdaya, punya gaji yang lebih tinggi, semacam itu.”
Budaya Patriarki dalam Konten Digital
To protect dan to control itu kan berbeda. Banyak laki-laki berdalih melindungi padahal yang dilakukan itu mengontrol. To protect: Memberikan perlindungan, pelayanan itu memang harus terutama pada masa reproduksi perempuan. Namun kontrol itu mendominasi, ada power dynamic di situ, menggunakan kuasa yang dimiliki secara sadar secara sewenang-wenang dan dia sadar bahwa ia posisi dia lebih tinggi dan perempuannya subordinat.
Banyak bahasa kekerasan yang memanipulasi kesadaran perempuan yang punya kesadaran karena tidak punya akses kepada pengetahuan yang kritis, kemudian perempuan-perempuan itu juga tidak punya kesempatan untuk bertemu circle lain di luar circle yang konservatif. Akhirnya perempuan-perempuan seperti itu mempercayai doktrin-doktrin bahwa dia tidak berdaya, maka merasa harus dilindungi melulu.
Sementara laki-laki banyak yang berlagak seperti pahlawan. Yang sehat adalah resiprokal di mana laki-laki dan perempuan sama-sama bisa melindungi, Perempuan bisa protect balik. Namun dalam pemikiran konservatif seolah-olah laki-laki saja yang bisa melindungi.
Fenomena Baru dalam Budaya Patriarki
Nah di versi modernnya ada di konten-konten TikTok yang menonjolkan energi feminin dan energi maskulin. Contohnya yang mengajarkan jangan jadi perempuan berdaya, harus membekap energi feminin, agak bisa menarik laki-laki maskulin. Dalam konten itu diajarkan misalnya jika berkencan, jangan mau bayar tagihan restoran, harus pura-pura tidak berdaya, harus minta dibayarin karena jika tidak maka nanti laki-laki itu merasa kecil, tidak dianggap sebagai provider (penafkah). Sekarang konten-konten itu begitu viral sekali sampai jutaan penontonnya.
Fenomena lain yang berkembang sehubungan dengan penyebaran budaya patriarkis itu di media sosial adalah tren menggugat cerai. Yang menggugat cerai itu 80% sekarang perempuan, bukan laki-laki yang talak. Memang sebenarnya ini berkaitan dengan ekonomi yang tidak baik-baik saja. Banyak laki-laki yang jadi korban PHK setelah pandemi COVID-19 belum dapat pekerjaan baru lagi, pasar tenaga kerja masih tidak kondusif, masih banyak PHK. Namun jika perempuan itu lebih tangguh, mereka bisa melakukan pekerjaan apapun yang penting bisa bertahan hidup. Namun laki-laki yang mengalami PHK kadang ada yang destruktif dan bahkan malah jadi pelaku kekerasan ketika kurang pegang duit.
Algoritme Media Sosial yang Memperkuat Nilai Patriarki
Platform feminis rajin juga publikasikan nilai femninisme. Karena gerakan feminis bagus. Namun yang anti kesetaraan gender juga memukul balik. Kita berhasil mengesahkan undang-undang tindak pidana kekerasan seksual, platform-platform feminis juga tiap hari memproduksi pengetahuan yang murah yang bisa diakses siapapun untuk isu-isu feminis. Perempuan-perempuan banyak yang makin pintar, semakin banyak yang edukatif jika bicara soal kesetaraan gender. Sebaliknya antikesetaraan gender juga memukul balik. Perlawanan para lelaki beracun ini juga sama besarnya.
[PIC-0]
[PIC-1]












