Perasaan yang Terpendam
Ini lembar kertas kesekian yang kuremas lalu kulemparkan ke dalam keranjang sampah. Dan ini, desah kesekian yang kulontarkan dari dada yang berdegup dan terasa penuh.
“Ibu. Mengapa sulit nian aku memaafkanmu?”
Kuabaikan amplop yang sudah terbuka di salah satu sisinya, yang sejak kemarin tergeletak di atas meja. Kualihkan pikiran yang berantakan dengan meraih earphone, menghubungkannya pada ponsel lalu membiarkan musik berirama lembut mengalun syahdu menenangkan kembali perasaanku.
Di luar hujan akhir Desember masih berebut jatuh. Membasahi pelataran yang tidak seberapa luas. Aku bisa melihat percikannya yang bening sesekali terayun diterpa angin dan berusaha menggapai permukaan kaca jendela. Gerakannya lembut. Seperti tangan Ibu. Tangan yang pernah kuharapkan merengkuhku. Dulu – ketika Ayah memutuskan membawaku pergi.
“Kenapa Ibu tidak tinggal bersama kita lagi, Ayah?” Tanyaku saat itu dengan mimik bingung dan suara tercekat.
“Ayah tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang, Nduk. Kelak ketika kamu sudah dewasa pasti akan mengerti sendiri.” Ayah menjawab pertanyaanku datar. Sedatar wajahnya yang berusaha menyembunyikan sesuatu. Entah apa.
“Mengapa seorang anak mesti menunggu dewasa terlebih dulu untuk bisa mengerti permasalahan yang terjadi di antara kedua orang tuanya? Bukankah menjelaskan duduk persoalan – sepahit apa pun sejak dini kepada anak jauh lebih baik?”
Dua pertanyaan itu tersangkut di tenggorokanku. Tanpa pernah berhasil kusampaikan kepada Ayah.
Hujan masih berlomba membasahi bumi. Gemericiknya yang rampak mengalahkan musik lembut yang kunikmati. Dan memang, inilah salah satu kelebihan hujan. Sedari dulu – sejak awal diciptakan hujan selalu mampu menuntun kenangan yang hilang atau tersesat kembali pulang.
Termasuk kenanganku.
Ini sudah memasuki tahun ke dua puluh semenjak Ayah dan Ibu memutuskan untuk berpisah. Sebuah rentang waktu yang seharusnya lebih dari cukup untuk sebuah luka menyembuhkan dirinya sendiri. Namun kenyataannya tidak demikian. Luka itu masih saja ada. Masih membekas seolah enggan tersembuhkan.
Masih terlintas dengan jelas di mataku. Sore itu – ketika Ayah membawaku pergi, Ibu sama sekali tidak melakukan apa-apa. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya membisu. Berdiri di ambang pintu menatap kami seperti arca.
Ibu juga tidak menangis.
Kenapa Ibu tidak menangis? Apakah hati Ibu terbuat dari batu cadas sehingga tidak tersentuh sedikit pun melihat anak semata wayangnya dibawa pergi dan harus terpisah jauh darinya?
Kenangan pahit itu seketika membuat senyum hambar kembali singgah. Kusentuh permukaan kaca jendela yang berembun. Terasa dingin. Sedingin hatiku yang lama kehilangan kepercayaan terhadap sosok perempuan yang pernah kupanggil Ibu.
“Sudah selesai membalas surat Ibu, Nin?” Suara Mas Pri, suamiku, membuyarkan lamunan yang sempat tumpang tindih.
Aku menggeleng. Tatapanku beralih ke arah keranjang sampah di kolong meja. Dan itu cukup membuat Mas Pri paham dan mengerti.
“Mungkin bukan surat yang ingin kamu tulis, Nin.” Mas Pri mendekat lalu merengkuh pundakku hati-hati.
“Mungkin.” Suaraku mendadak tercekat. Seperti lava gunung berapi yang ingin tumpah tapi gagal menemukan jalan keluarnya.
“Kamu mau aku antar menemui Ibu sekarang? Kalian…mm, bisa bicara dari hati ke hati.” Mas Pri menatapku. Berusaha meluluhkan keraguan yang tiba-tiba saja menguasai.
“Nin. Setiap orang pasti pernah menghadapi masalah rumit di kehidupannya. Tak terkecuali kedua orangtua kita. Dan kita, tidak tahu seberapa gigih mereka telah berjuang untuk menemukan solusi terbaik.” Mas Pri semakin erat merengkuhku. Membiarkan kepalaku merebah di bahunya.
“Tapi Ibu, seharusnya ia….” Aku menyergah.
“Nin, bukankah Ibu sudah menjelaskan duduk persoalannya panjang lebar lewat surat yang ditulis untukmu? Ibu juga sudah minta maaf karena surat itu baru dikirim setelah kamu dewasa. Kamu tahu apa artinya itu, kan, Nin?”
Aku terdiam.
“Ibu butuh waktu sampai kamu benar-benar paham. Oh, ya. Satu lagi, Nin. Setiap hati punya patahannya masing-masing. Dan, setiap patahan memiliki cara tersendiri untuk menyembuhkan. Nanti saat bertemu Ibu kamu bisa bertanya dan belajar bagaimana beliau menyembuhkan patahan-patahan itu dengan baik.”
Mas Pri mengangkat wajahku. Menatapku dalam-dalam, seolah memberi semangat dan kekuatan. Alis matanya terangkat sedikit. Bibirnya yang manis menyungging senyum. Dan, senyum itu mampu membuat kepalaku mengangguk.
Ya. Mas Pri benar. Sudah saatnya aku menemui Ibu. Perempuan yang pernah kutuduh tidak punya perasaan hanya gara-gara tidak menangis saat Ayah membawaku pergi. Sudah waktunya aku memberi ruang dan kesempatan kepada diri sendiri untuk memaafkan masa lalu orang yang sangat kucintai dan kurindukan tanpa harus mericuhinya dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting.
Sudah sepatutnya pula aku memeluk tubuh ringkih itu. Tubuh yang terbujur lemah di sebuah Rumah Sakit. Tubuh yang dibiarkan tetap sendiri melewati hari-hari tanpa tersentuh tangan lelaki lain selain tangan Ayah. Tubuh yang setia merawat cinta, luka, hati dan patahannya dengan luar biasa dan tabah.
Dan, pada akhirnya memaafkan terasa jauh lebih menenangkan ketimbang menyimpan dendam ataupun amarah.
Malang, 20 Desember 2025












