Pertanyaan itu muncul dalam pikiranku ketika bertemu Aurelia di ruang kerjanya. Aku melihat sebuah boneka aneh tergeletak di dekat laptop yang menampilkan berbagai histogram. Aku menjadi bingung sendiri, karena biasanya perempuan tertarik pada keindahan seperti Barbie, Matryoshka, atau Hakata doll. Tapi, perempuan ini justru mengoleksi boneka voodoo. Aku khawatir bisa kena santet hanya karena berteman dengan orang yang memiliki perilaku negatif.
Menjelang jam 12 siang, sinar matahari Denver terasa menyengat. Meski sudah mendekati musim gugur, cahaya matahari masih membuat tubuhku terasa gerah. Aku berlari menghindari terpaan sinar matahari dan berjalan kaki menuju kantor Aurelia sambil membawa invoice sewa kamar semester gugur yang telah kulunasi.
Perempuan berambut kriwil mirip warna bunga jagung dan berbadan ceking adalah salah satu staf pendukung keuangan yang mengurus keuangan di asrama tempatku tinggal di Denver. Selama tinggal di Amerika, aku selalu terlibat dalam berbagai aktivitas mencari uang.
Hidupku sangat sibuk seperti kutu loncat. Selain kuliah, beberapa semester terakhir aku bekerja paruh waktu sebagai kasir di toko departemen. Beberapa minggu berikutnya aku juga bekerja sebagai pramuniaga menjual produk makanan kucing di supermarket. Di awal tahun baru seperti saat ini, aku bekerja sebagai relawan melayani pasien lansia di fasilitas kesehatan.
“Aurel… di mana kamu?” aku mengetuk pintu sambil memanggil perempuan penagih uang sewa yang selalu tampak terburu-buru dengan rambut acak-acakan. Setelah beberapa lama mengetuk tanpa jawaban, aku mendorong pintu yang tidak terkunci.
Aku masuk ke ruang kerja yang sempit, catnya redup dan terlihat sangat kotor karena dipenuhi tumpukan barang. Menurutku, perempuan ini sangat malas karena meja kerjanya dipenuhi bungkus kosong Tortilla, tumpukan kertas berisi data keuangan, gelas kopi setengah penuh, botol air minum kosong, beberapa sachet saus tomat, dan sendok plastik kotor.
Jika dilihat sekilas, tamu pasti mengira penghuni kamar sangat sibuk hingga tidak punya waktu membersihkan mejanya. Satu-satunya barang yang menarik perhatianku adalah sebuah boneka dengan tulisan Dammit doll di dadanya. Boneka itu terlentang di sebelah laptop yang sedang menyala.
Dari balik toilet, Aurelia muncul dengan wajah terkejut. Dia segera mencuci tangannya di wastafel dan tersenyum lebar saat melihatku membawa map kertas.
“Nice to see you Risa…” sapanya hangat. Aku masih sibuk dengan pikiranku. Bagaikan terhipnotis, aku berjalan perlahan mendekati boneka yang menarik perhatianku.
Selama hidupku, aku belum pernah melihat boneka “aneh” seperti ini. Biasanya boneka identik dengan keindahan, menggemaskan, lucu, dan menimbulkan rasa sayang untuk memilikinya. Dammit doll milik Aurelia membuatku tercengang karena bentuknya sangat absurd, sekilas mirip batang pohon kayu dilengkapi dengan tangan dan kaki terjulur kaku.
Aku bertanya pada Aurelia tentang boneka itu karena performanya sangat tidak bersahabat, begitu dingin dan kaku. Perempuan lincah dan masih lajang itu berumur sekitar 50 tahun. Dia tertawa dan mengambil boneka aneh itu dari tempatnya. Dia menyuruhku membaca label yang terpasang di dada boneka tersebut.
Disitu tertulis: “Dammit Doll whenever things don’t go so well and you want to hit the wall and yell, here’s a little dammit doll, that you can’t do without. Just grasp it firmly by the legs and find a place to slam it. And as you whack the stuffing out yell ‘Dammit! Dammit! Dammit!'”
“Barang apa ini Aurel?” aku bertanya keheranan sambil menyentuh boneka aneh itu dengan ujung jemariku.
“Ummm… itu Dammit doll hadiah dari pacarku.”
“Hadiah dari pacarmu? Kamu mau menerima hadiah yang bentuknya sangat mengerikan dan mirip boneka voodoo. Apakah boneka ini dapat dipakai untuk menyantet orang?” sebuah pertanyaan aneh tiba-tiba meluncur dari bibirku.
Aurelia tertawa sangat keras sampai tubuhnya terguncang. Dia menuntunku duduk di atas sofa penuh dengan remah popcorn. Tangannya menggenggam erat Dammit doll miliknya.
“Jika kamu merasa marah atau kesal pada sesuatu dan tidak dapat melampiaskannya, ambillah boneka Dammit doll, kamu dapat menamparnya sesuka hati, menghempaskan kepala dan badannya ke atas meja sambil bersumpah serapah. Boneka ini menjadi sasaran kemarahanmu yang tidak tersalurkan karena rasa segan atau takut akan menyinggung perasaan seseorang, istilahnya kamu mau ngamuk tetapi tetap terlihat cool,” Aurelia menghempaskan tubuh boneka itu ke tepi meja kayu sehingga terbanting-banting. Dia juga menyentil kepala Dammit doll dan mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak kumengerti sama sekali maknanya.
Mataku terbelalak kaget menonton praktik Aurelia barusan. Dammit doll yang berada di tangan perempuan itu adalah boneka kain warna putih bercorak garis biru mirip cacing, isinya dacron atau kapas, tingginya sekitar 20 inci.
Postur boneka sangat kaku mirip pohon kayu berbatang lurus dilengkapi sepasang tangan dan kaki. Rambutnya model punk terbuat dari benang wol warna biru dilengkapi dua buah mata berbentuk tanda silang warna merah dan mulut berupa garis lurus, semuanya terbuat dari benang.
Gegara melihat Dammit doll, aku sampai melupakan tujuanku datang ke kantor ini. Aurelia segera memeriksa map kertas yang kubawa. Romannya terlihat sangat serius membaca isi dokumen di dalamnya. Walaupun menganut faham liberal, ternyata masyarakat Amerika sangat menghargai sikap sopan santun. Tekanan menyelesaikan tugas dan rasa takut kehilangan pekerjaan membuat segelintir orang tertentu berada dalam posisi tidak berdaya.
Kemarahan yang timbul karena harus menyelesaikan tugas berat tepat waktu hanya dapat dipendam supaya tidak kehilangan pekerjaan. Selain takut kehilangan pekerjaan, terkadang seseorang harus berani menyembunyikan sisi buruk emosionalnya supaya tetap perfect bersama dengan orang yang disukai. Tampaknya disinilah Dammit doll memegang peranan penting memuliakan manusia yang merasa harga dirinya berada di ujung tanduk.
“Actually…Dammit doll tidak berbahaya. Dia diciptakan tahun 2010 oleh Drew Levich, berasal dari Wichita dan pindah ke Los Angeles mencari kehidupan baru. Boneka yang dibuatnya bukan untuk konsumsi anak-anak karena kaku, aneh dan sedikit menyeramkan. Inspirasi menciptakan Dammit doll karena Levich melihat tekanan stres melanda manusia di dekatnya. Boneka aneh ini diperuntukkan orang yang tidak mampu menyalurkan kemarahan karena takut kepada atasan, orang tua atau pasangannya. Dammit doll mampu menghilangkan stres dan menimbulkan kembali rasa ceria. Kenyataan yang terjadi di masyarakat Amerika menunjukkan bahwa tekanan hidup sangat berat dan berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan jiwa,” perempuan itu menjelaskan panjang lebar. Ternyata boneka ini merupakan sasaran kemarahan orang yang selalu ingin terlihat perfect di mata masyarakat.
“Oh… it is so terrible…” aku menutup mulutku, tidak percaya mendengar penjelasan Aurelia.
“Do you know Risa, Dammit doll adalah terapi ampuh untuk segelintir orang yang tidak mempunyai rasa percaya diri tampil di depan umum. Boneka ini tetap diam walaupun kamu mencecarnya panjang lebar karena dia adalah barang tidak bernyawa. Well… Dammit doll memang diciptakan untuk menjadi sasaran kemarahan. Ini bukan boneka voodoo yang menimbulkan penyakit kepada orang yang tidak disukai…”
“…..umumnya stres timbul karena rasa tertekan berasal dari lingkungan kerja. Jika kamu terlambat, upahmu pasti dipotong atau kamu di PHK karena bekerja tidak sesuai target. Selain karena pekerjaan, stres juga timbul karena perilaku orang di sekelilingnya. Seorang suami dapat kehilangan jati diri jika selalu dimarahi mertua karena dianggap tidak becus. Jika dia mengemukakan pembelaan dirinya, pasti istri dan semua saudara iparnya ramai-ramai ikut menyalahkannya. Kemarahan yang selalu terpendam karena rasa takut atau segan menyebabkan stres memuncak dan tidak terkendali. Hal ini berpotensi menggiring seseorang masuk ke rumah sakit jiwa atau menderita penyakit stroke yang membawamu ke alam baka. Saya rasa kamu tahu benar bagaimana tekanan pekerjaan selama bekerja di kota ini.”
Aku terdiam mendengar ceramah Aurelia. Inilah jawaban mengapa temanku di asrama yang masih belia seringkali terlihat mempunyai banyak sekali kerutan di dahinya. Ada juga yang selalu menyembunyikan diri mirip trenggiling jika disapa. Ternyata tekanan stres begitu hebat pada manusia introvert mampu memicu terjadinya perilaku negatif tidak terkendali.
Kupandang Dammit doll dalam pelukan Aurelia. Ternyata barang ini mampu berkontribusi mencegah seseorang mengalami bahaya besar karena kemarahan yang tidak tersalurkan. Dammit doll dipercaya mampu mencegah pecah pembuluh darah di kepala yang berakibat kematian. Di dalam pikiran Levich, Dammit doll ciptaannya menyediakan wadah untuk menampung kekesalan dan kemarahan karena Dammit doll ‘ikhlas’ dibanting kiri kanan tanpa dibarengi rasa bersalah.
Sikap diam Dammit doll merupakan jaminan melegakan hati bahwa orang lain tidak bakal menahu betapa buasnya anda jika sedang naik pitam. Jika kemarahannya telah tersalurkan, biasanya orang tersebut kembali ceria dan beraktivitas seperti sediakala seperti tidak terjadi apa-apa.
“Okay, Risa… urusanmu sudah selesai. Silahkan melanjutkan pekerjaanmu…” suara perempuan itu membuyarkan lamunanku.
“Yes… I will see you again,” kutinggalkan ruangan kerja Aurelia menuju ke perpustakaan kampus. Memang benar kata Mamakku sebelum kumeninggalkan kampung halaman, hidup ini memang penuh drama dan sangat sayang untuk dilewatkan keindahannya (srn).
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












