Daerah  

70 Persen Jalan di Jakarta Tidak Ramah Tunanetra, 3 Wilayah Ini Paling Buruk

Persoalan Guiding Block di Jakarta yang Mengancam Keselamatan Tunanetra

Guiding block, atau ubin pemandu, yang seharusnya menjadi alat bantu bagi penyandang disabilitas tunanetra dalam berjalan di trotoar, ternyata masih menghadapi banyak masalah. Menurut data yang diungkap oleh Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DPD DKI Jakarta, sebanyak 70 persen guiding block di wilayah DKI Jakarta memiliki kondisi yang tidak memadai.

Ketua Pertuni DPD DKI Jakarta, Ajad Sudrajad, menjelaskan bahwa dari lima kota administrasi di Jakarta, tiga wilayah tercatat memiliki kondisi guiding block yang paling bermasalah. Wilayah tersebut adalah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Masalah ini menunjukkan bahwa pembangunan guiding block oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta belum sepenuhnya ramah terhadap penyandang disabilitas tunanetra.

Contoh Kondisi yang Tidak Ramah

Pertuni DPD DKI Jakarta memberikan contoh nyata tentang kondisi guiding block yang tidak layak di sekitar Stasiun Jatinegara hingga Jalan Bekasi Timur Raya, Jatinegara, Jakarta Timur. Dalam temuan mereka, akses guiding block di area tersebut justru digunakan untuk parkir liar dan aktivitas pedagang kaki lima (PKL), sehingga menghalangi penggunaannya sebagai alat bantu.

“Guiding block kita tidak bisa dilalui karena tertutup tenda PKL. Entah ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dari pemerintah atau kurangnya kepedulian masyarakat,” ujar Ajad saat dikonfirmasi di Jatinegara, Jakarta Timur, pada Sabtu (17/1/2026).

Selain itu, terdapat beberapa titik akses trotoar di Jalan Bekasi Timur yang sepenuhnya tertutup total oleh parkir liar sepeda motor. Hal ini sangat mengganggu keselamatan dan mobilitas para penyandang disabilitas tunanetra.

Masalah lain yang ditemukan adalah adanya guiding block yang menabrak pohon, tiang listrik, atau bahkan berada di atas penutup saluran air. Menurut Ajad, hal ini bisa membahayakan keselamatan para tunanetra jika mereka tidak hati-hati.

“Saya berharap mudah-mudahan segera diperbaiki. Segera diperbaiki yang guiding block-nya mepet ke pohon, guiding block-nya yang mepet ke tiang, semoga ini bisa diselesaikan,” katanya.

Kasus Tunanetra Terjatuh ke Got

Kondisi guiding block yang tidak sesuai juga turut menjadi faktor dalam kasus seorang tunanetra yang terjatuh ke got di sekitar Halte Kejaksaan Agung. Ketua Pertuni DPD DKI Jakarta, Ajad Sudrajad, menilai bahwa kondisi guiding block di Jakarta masih belum terlalu pas, dengan banyaknya guiding block yang menabrak tiang atau berada di tutup got.

“Guiding block sekarang juga masih belum terlalu pas. Masih banyak guiding block yang nabrak tiang, banyak guiding block (terdapat) di tutup got,” ujarnya.

Menurut Pertuni, tunanetra sebenarnya dapat berjalan dengan baik tanpa pendamping asalkan menggunakan alat bantu seperti tongkat dan memiliki akses jalan yang sesuai. Namun, kondisi guiding block di Jakarta saat ini yang belum ramah terhadap tunanetra membuat mereka sering kesulitan meski sudah menggunakan tongkat pemandu.

Evaluasi dan Tindakan yang Diperlukan

Atas kejadian ini, Ajad menyarankan agar evaluasi tidak hanya dilakukan oleh Transjakarta, tetapi juga oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta yang bertanggung jawab atas guiding block. Pertuni DPD DKI Jakarta meminta Transjakarta melakukan evaluasi menyeluruh dan memastikan petugas Transjakarta Care mengantarkan setiap penumpang hingga ke titik aman.

“Keselamatan penumpang merupakan hal mutlak dan tidak dapat ditawar, terlebih bagi Transjakarta Care yang layanannya memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas,” ujarnya.

Sebelumnya, sebuah video viral merekam wanita tunanetra terjatuh ke saluran air usai turun dari TransJakarta Care di kawasan Halte Transjakarta PLN Bulungan, Minggu (11/1/2026). Dalam video tersebut, korban telah meminta petugas Transjakarta Care hingga ke titik aman, tetapi petugas hanya mengarahkan jalur secara lisan.

Akibatnya, saat korban berjalan sendiri tanpa pendamping, dia terperosok ke saluran air hingga pakaian yang dikenakannya kotor terkena lumpur dan kotoran.

Teguran dari Dishub DKI

Anak buah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Dishub DKI, telah menegur manajemen Transjakarta terkait insiden ini. Ia juga memperingatkan pihak Transjakarta agar insiden serupa tidak terulang kembali di masa depan.

“Kami juga sudah menyampaikan teguran kepada manajemen Transjakarta, ke depan hal ini tidak boleh terulang kembali,” ucapnya.

Syafrin, perwakilan dari pihak terkait, menambahkan bahwa komunikasi telah dilakukan antara pihak Transjakarta dan korban. Ia memastikan bahwa persoalan ini sudah ditindaklanjuti dan pihak Transjakarta juga telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

“Dari rekan-rekan Transjakarta juga sudah komunikasi dengan beliau, yang bersangkutan, dan sudah ada penyelesaiannya,” ujarnya.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *