Sejarah dan Filosofi Masjid Mahar Syisidik yang Terancam
Masjid Mahar Syisidik, yang berada di Blok Wanantara, Desa Kubang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, memiliki sejarah panjang dan filosofi mendalam yang telah dijaga selama lebih dari satu abad. Meskipun kini bangunan masjid terancam ambruk karena tebing di belakangnya ambles, masjid ini tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan yang sangat aktif.
Masjid yang dibangun pada tahun 1880 ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembinaan tiga pesantren besar, yaitu Yayasan Miftahussiddiq, Yayasan Baitussalam, dan Yayasan Idhofusshaini. Aktivitas ibadah di masjid ini berlangsung sangat intens, dengan ratusan jemaah yang datang setiap hari. Bahkan, Salat Subuh saja sudah dihadiri lebih dari 100 jemaah.
Sekretaris DKM Masjid Mahar Syisidik, Muhammad, menjelaskan bahwa masjid ini masih digunakan secara aktif oleh masyarakat sekitar. Ia mengatakan bahwa di bawah masjid terdapat gua yang dulu digunakan para kiai dan santri untuk iktikaf. “Gua itu menjadi bukti bahwa masjid ini bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat spiritual masyarakat sejak zaman leluhur,” ujarnya.
Bangunan masjid memiliki simbol-simbol spiritual yang unik. Awalnya ada delapan tiang yang menunjukkan delapan penjuru mata angin. Pintu masuk memiliki tujuh pintu, yang melambangkan hari dalam seminggu. Di dalam masjid, terdapat empat tiang yang melambangkan empat sahabat Kanjeng Nabi. Sementara itu, pintu menuju ruang utama berjumlah sembilan, yang merupakan penghormatan kepada Wali Songo. Dan di bagian masuk ruang utama, terdapat dua pilar besar yang melambangkan dua kalimat syahadat.
Filosofi tersebut mencerminkan bahwa masjid ini dibangun sebagai pengingat akan perjalanan dakwah Rasulullah melalui para sahabat dan wali. “Intinya, kapanpun dan dimanapun, kita harus ingat syahadat dan salat. Itulah filosofi awal masjid ini,” ujar Muhammad.
Namun, kondisi bangunan saat ini sangat memprihatinkan. Masjid yang berdiri lebih dari 150 tahun itu kini terancam jatuh ke Sungai Cipager setelah tebing di belakangnya ambles sejauh 12 meter dan memanjang hingga 40 meter. Kini, jarak antara masjid dengan bibir sungai tersisa kurang dari satu meter. Di beberapa titik, bangunan sudah benar-benar menempel dengan jurang.
Ketua RT 11 Blok Wanantara, Sulaeman, menjelaskan bahwa amblesnya tanah bermula dari banjir bandang pada 17 Februari 2025. “Ya, sekitar jam 7 ba’da Isya itu. Tebing ambles setelah diterjang banjir bandang. Tanahnya tergerus habis,” ujarnya.
Warga dan pengurus masjid telah berulang kali mengajukan pembangunan tanggul, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut dari pihak terkait. “Harapan kami pemerintah cepat bangun pengaman masjid ini. Biar kami ibadah merasa aman,” ucapnya.
Warga khawatir, jika hujan besar kembali turun, longsoran dapat melebar dan masjid bisa runtuh dalam sekejap. Hal ini membuat mereka sangat mengharapkan adanya tindakan nyata dari pemerintah agar masjid yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi ini tetap bisa bertahan.












