Pengakuan Ratih Puspita Dewi Mengenai Penitipan Ressa Rizky Rossano
Ratih Puspita Dewi, yang menjadi ibu angkat dari Ressa Rizky Rossano, akhirnya menceritakan pengalamannya saat Denada menitipkan anaknya tersebut kepadanya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2022, ketika Ressa masih berusia 10 hari dan dibawa ke Surabaya tanpa didampingi oleh Denada.
Pada saat itu, Ressa dijemput oleh suami Ratih dan satu orang asistennya di Bandara Juanda. Setelah tiba di bandara, Ressa kemudian dibawa ke hotel untuk sementara waktu sebelum diserahkan kepada Ratih. “Jadi dijemput sama bapaknya Ressa (suami Ratih) dan emak yang biasa masak di rumah. Dijemput di Bandara Surabaya, dibawa ke hotel dulu, kami ambil di hotel,” ujarnya.
Penyerahan Ressa Rizky Rossano juga dilakukan oleh nenek Denada, yang merupakan buyut dari Ressa. Namun, dalam penyerahan tersebut, Denada tidak hadir. “Tapi tanpa Denada. Neneknya Denada yang memberikan. Neneknya, buyutnya Ressa ini,” tambah Ratih.
Saat mengambil alih perawatan Ressa, Ratih sempat dijanjikan oleh pihak Denada akan mendapatkan suplai kebutuhan bayi tersebut. Namun, janji tersebut tidak pernah terwujud. “Katanya dulu ‘Enggak usah khawatir soal susu, pasti datang truk-trukan’, ini itu, tapi enggak ada semua,” tutup Ratih.
Saksi Kunci: Sopir yang Membawa Ressa Rizky Rossano
Ressa Rizky Rossano (24), pemuda Banyuwangi, yakin bahwa Denada adalah ibu kandungnya. Hal ini dibuktikan oleh kesaksian dari saksi kunci, yakni sopir yang membawanya dari Jakarta ke Banyuwangi. Sidang perdata kasus gugatan atas dugaan penelantaran anak yang menyeret Denada digelar di Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur, pada Kamis (22/1/2026).
Namun, dalam sidang ini, Denada kembali mangkir. Ia hanya diwakili oleh tim kuasa hukumnya yang baru diganti. Meskipun begitu, Ressa mengaku kecewa karena ia mengklaim sebagai anak Denada meminta diakui.
Ressa mengatakan bahwa gugatannya bukanlah tanpa dasar. Ia mengetahui bahwa dirinya merupakan anak sang artis sejak mengalami pembullyan, bahkan saat dirinya masih duduk di sekolah menengah pertama. Kala itu, Ressa diisukan sebagai anak yang tak jelas asal usulnya, membuatnya tertekan dan menanggung malu.
Ia pun kemudian berupaya mencari tahu dengan mengawali dari keluarga dekat yang 24 tahun lalu bersama dalam satu mobil dari Jakarta ke Banyuwangi, saat Denada memberikan Ressa kepada keluarganya untuk dirawat. “Saya tanya semua keluarga yang naik mobil saat itu, tidak ada yang mau bilang,” kata Ressa.
Tekad Ressa berapi-api, nalurinya mengatakan bahwa ia harus mencari tahu sendiri meski peluang tampak tertutup. Ia akhirnya menemukan seseorang yang menjadi saksi dan berperan sebagai sopir di mobil yang membawanya dari Jakarta ke Banyuwangi. Seseorang yang tak disebutkan namanya itu tinggal di wilayah Kecamatan Licin. Ressa yang telah lulus SMA, diantar dua temannya nekat berkunjung ke sana dengan satu motor.
“Sampai sana saya ketemu, orangnya kaget, nangis,” tutur Ressa. Dari seseorang yang kini telah meninggal dunia itu, Ressa mengatakan bahwa ia akhirnya mengetahui bahwa dirinya merupakan anak Denada, namun hal tersebut tetap disimpannya rapat-rapat.
Meski diakuinya sedih, ia tetap menjalani hubungan dengan Denada sebagaimana saudara sepupu dan memanggil ibunya itu dengan sebutan “Mbak”. Setelah bertahun-tahun menyimpan, Ressa kemudian mengutarakan permintaannya untuk diakui, namun Denada bergeming dan mengatakan bahwa Ressa adalah adiknya, bukan anaknya.
Kekecewaan dan Ancaman dari Pihak Ressa
Dalam sidang perdata kasus gugatan atas dugaan penelantaran anak yang menyeret Denada digelar di Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (22/1/2026), Denada kembali mangkir. Ia hanya diwakili oleh tim kuasa hukumnya yang baru diganti. Sementara Ressa hadir didampingi tim pengacaranya.
Ketidak hadiran Denada pun membuat pihak Ressa meradang dan naik darah, karena gugatan mereka dianggap disepelekan. “Pastinya ketidak hadiran Denada membuat kami sangat kecewa. Karena mereka sebelumnya meminta mediasi di luar persidangan, tapi tidak terwujud. Giliran sidang tidak hadir, mana itikad baiknya,” kata Ronald Armada dalam wawancara virtual, Kamis malam.
Pihak Ressa memberikan ultimatum keras kepada Denada. Jika tidak ada itikad baik dalam mediasi, mereka siap membongkar seluruh fakta dan aib di persidangan terbuka. Ronald menyayangkan sikap Denada yang dinilai tidak memanfaatkan forum mediasi yang bersifat tertutup, untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
“Kalau memang mereka sudah enggak ada itikad, berarti pihak tergugat sudah siap untuk membedah perkara ini hingga sampai ke manapun. Artinya di ruang publik,” ucapnya. Ronald mengingatkan Denada bahwa sebagai public figure, sang artis memiliki risiko besar jika aib keluarga terbongkar di pengadilan yang terbuka untuk umum.
“Jadi kalau memang mereka sudah siap, Insyaallah kami lebih siap. Kalau peristiwa hukum ini sudah pure bisa diketahui oleh publik sampai membuka aib ke mana-mana, ya jangan salahkan kami,” jelasnya.
Ronald menyebut bahwa kunci penyelesaian masalah ini sebenarnya sederhana. Akan tetapi, semua dibuat rumit oleh Denada sendiri. “Sederhana kok sebetulnya, entry pointnya adalah permintaan maaf. Ini orang enggak merasa bersalah kan kalau begitu? Itikad baik tidak ada, masa minta maaf tidak mau,” ungkapnya.
Pihak Ressa menegaskan bahwa mereka siap bertarung di meja hijau dan membuktikan segala dalil, termasuk soal sengketa mobil dan dugaan penelantaran anak diduga dilakukan Denada. “Kalau siap dengan risikonya ya monggo ayo. Saya juga siap dengan risikonya kok. Kalau saya mau ada laporan polisi, entah pencemaran nama baik, saya siap!” ujar Ronald Armada.
“Kami membuka ini agar mendapatkan social justice. Biar masyarakat yang menilai siapa yang benar,” tambahnya.
Ronald menceritakan alasan dirinya mendampingi Ressa untuk menggugat Denada ke Pengadilan, karena adik Denada yang membuat ulah lebih dulu. Ronald menceritakan kalau Ressa hidup dengan Dino Rossano dan istri yang dianggap sebagai ayah dan ibunya, padahal mereka adalah Paman dan Tante dari Ressa.
“Resaa menganggap mereka Ayah dan ibu, padahal Paman dan tantenya. Nah orang yang dianggap orang tuanya Ressa, adalah orang tua saya,” kata Ronald. Ronald menegaskan bahwa ada rasa sakit hati mendalam yang dirasakan oleh keluarganya, pemicunya adalah insiden yang terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur.
Dimana ibunda Ressa (mertua Ronald) tiba-tiba didatangi polisi atas laporan dari pihak keluarga Denada. “Saya sebagai anak menantunya, sakit hati ketika ibu saya, mertua saya didatangi polisi, dituduh melakukan penggelapan mobil,” tegas Ronald Armada.
Ronald menceritakan kronologi kejadian yang membuat ibunya sampai jatuh sakit. Saat itu, ia sedang berada di Surabaya ketika menerima telepon dari mertuanya yang menangis sesenggukan. “Mertua saya telepon sambil menangis, sesak napas. Beliau bilang, ‘Le, Mama didatangi polisi. Mama dilaporkan katanya melakukan penggelapan mobil’. Kaget saya!” ungkap Ronald.
Setelah ditelusuri, laporan tersebut ternyata dilayangkan oleh Muhammad, adik laki-laki Denada. Pihak Denada menuduh ibunda Ressa menggelapkan mobil yang STNK-nya atas nama Muhammad. Padahal, menurut Ronald, mobil tersebut sehari-hari digunakan dan dicicil oleh Ressa.
“Itu yang bikin saya jengkel, yang bikin saya marah. Enggak tambah terima kasih, malah dilaporkan polisi. Kan lucu,” ungkapnya. Meski laporan polisi (LP) tersebut akhirnya tidak berlanjut karena diselesaikan secara kekeluargaan berkat hubungan baik Ronald dengan pihak kepolisian setempat, luka hati keluarga Ressa sudah terlanjur menganga.
Sikap pihak Denada yang dinilai arogan dan menantang untuk memviralkan kasus ini akhirnya membuat Ronald mengambil langkah tegas. “Adiknya (Denada) bilang, ‘Ya sudah viralkan’. Ya sudah saya datang. Akhirnya saya ajukan gugatan. Karena saya jengkel, itu faktanya senyata-nyatanya,” ujar Ronald Armada.
Respons Denada
Sementara hingga berita ini diturunkan belum ada respons lanjutan dari pihak Denada. Sebelumnya, Denada melalui kuasa hukumnya Muhammad Iqbal mengurai kekecewaan ibu anak satu tersebut. Ia tak memungkiri kliennya kecewa pada sosok Dino Rossano Hansa yang merupakan paman dan satu-satunya adik dari ibu kandungnya.
“Mbak Denada kemarin sangat menyesalkan terkait permasalahan ini. Penggugat dua kan masih paman, masih adiknya mamanya dan satu-satunya yang masih ada,” ujar Iqbal, dikutip dari YouTube Insertlive, Kamis (15/1/2026). Menurut Iqbal, Dino seharusnya menjadi sosok ayah baginya.
“Seharusnya dia jadi ayah terhadap Mbak Denada meskipun tidak secara langsung ya kan bisa dimintai nasihatlah,” imbuhnya. “Mamanya udah nggak ada, Omnya kan bisa dianggap sebagai ayahlah intinya. Kok malah gini,” beber Iqbal lagi.
Pihaknya menyoroti sikap paman Denada menanggapi masalah ini. “Bukan masalah penyelesaiannya, lebih ke sikapnya ini loh,” tambah Iqbal. Seperti diberitakan sebelumnya, Ressa Rizky Rossano menggugat Denada Tambunan di Pengadilan Negeri Banyuwangi, Jawa Timur pada 26 November 2025.
Ressa Rizky Rossano menggugat Denada Tambunan di usianya yang menginjak 24 tahun lantaran baru mengetahui bahwa dia adalah putra sang penyanyi. Ressa Rizky Rossano menggugat Denada Tambunan sebesar Rp7 miliar. Angka tersebut merupakan akumulasi dari hak-hak yang tak diterima Ressa Rizky Rossano selama 24 tahun dari Denada.
Kemunculan Ressa Rizky Rossano yang mengaku sebagai anak Denada Tambunan mencuri perhatian publik. Pasalnya, selama ini Denada diketahui hanya memiliki seorang anak yaitu Aisha Aurum atau yang sebelumnya bernama Shakira Aurum.












