Perusahaan Maklon Kosmetik Besar di Tulungagung
Di Kabupaten Tulungagung, terdapat sebuah perusahaan maklon kosmetik besar yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Nama perusahaan tersebut adalah PT Mash Moshem, yang berlokasi di Jalan Raya Blitar nomor 14, Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan.
Maklon adalah jenis perusahaan jasa produksi yang membuat produk atas nama merek dari pihak lain. Dalam hal ini, PT Mash Moshem tidak hanya memproduksi produk sendiri, tetapi juga melayani berbagai merek yang membutuhkan bantuan dalam proses produksi.
Perusahaan ini telah berdiri sejak tahun 2011 dan telah menangani sebanyak 1.700 brand serta 7.000 SKU (Stock Keeping Unit) varian produk. Tidak hanya melayani pasar lokal, PT Mash Moshem juga menerima pesanan dari luar negeri.
“Kami memang ada di lokal Tulungagung, tetapi standar kami internasional,” ujar CEO PT Mash Moshem Indonesia, Scorpi Filia Setri, saat kunjungan Junior Chamber International (JCI) East Java ke pabriknya.
Filia mengatakan bahwa dirinya ingin kembali ke tanah kelahirannya, yaitu Tulungagung. Menurutnya, daerah ini masih berkembang dan sangat mendukung pengembangan perusahaan maklon. Dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Tulungagung saat ini, perusahaannya mampu menciptakan Harga Pokok Produksi (HPP) yang bagus, sehingga klien mendapatkan nilai jual yang kompetitif.
“Dengan UMK Rp 2,7 juta, kami dapat HPP yang bagus, supaya klien mendapat nilai jual yang kompetitif,” tegasnya.
Perusahaan ini didukung oleh mesin yang efisien, sumber daya manusia yang kompeten, UMK, dan tim yang sangat suportif. Dengan segala dukungan itu, harga produk dari PT Mash Moshem masih kompetitif di luar negeri.
Menurut Filia, bisnis produk kecantikan selama 5 tahun belakangan tidak pernah turun, malah cenderung naik. “Kalau di Indonesia, tidak hanya skincare, hari care, make up juga berkembang. Jadi kami masih optimis,” ucapnya.
PT Mash Moshem juga sangat bersahabat dengan UMKM karena bisa melayani MOQ (Minimum Order Quantity) atau jumlah pesanan minimal 100 buah. Dengan rentang harga mulai Rp 10 juta, usaha skala UMKM bisa punya produk siap dijual tanpa memikirkan perizinan dan lain-lain.
Saat ini, PT Mash Moshem Indonesia mempekerjakan 150 karyawan di pabrik Rejotangan, dan total 300 orang jika ditambah kantor Surabaya dan Jakarta.
Pujian Helmy Yahya
Kepala Pelaksana BP Rebana, Helmy Yahya, yang ikut rombongan visit ke pabrik Mash Moshem, memuji perusahaan ini. Menurutnya, pabriknya sangat bagus, sangat higienis, dan sangat keren.
Perusahaan maklon seperti ini seharusnya berkembang, karena brand-brand besar sebenarnya tidak punya pabrik sendiri. “Kalau pun punya kapasitasnya kecil, tidak cukup memenuhi pasar. Ini (PT Mash Moshem) bisa jadi contoh,” katanya.
Lanjut Helmy, dengan menggandeng perusahaan maklon, maka pemilik produk tinggal fokus pada distribusi, promosi, dan branding. Sementara segala kebutuhan produksi, mulai desain, hingga berbagai perizinan ditangani maklon.
Sosok yang pernah mendapat julukan Raja Kuis Indonesia ini juga memuji pilihan Mash Moshem membuat pabrik di Tulungagung. “Pabrik-pabrik ini memang perlu disebar di seluruh Indonesia agar menyerap tenaga kerja lokal. Supaya ada investasi di daerah-daerah,” jelasnya.
Dengan perusahaan maklon, risikonya lebih kecil untuk pemilik produk. Helmy pun menyayangkan, selama ini banyak brand lokal yang menggandeng maklon luar negeri. Padahal menurutnya, maklon luar negeri tidak selalu bagus, banyak juga yang spam.
“Contohnya bagus, setelah order ternyata produknya tidak datang. Atau datang tetapi barangnya tidak sesuai,” ungkapnya.
Kendala maklon luar negeri, proses komplain susah karena hukumnya beda, jaraknya jauh, dan ada kendala bahasa. Di tengah serbuan investasi China dan Korea Selatan, Helmy mengajak mendukung pabrik maklon lokal.
“Kalau maklon, kenapa harus luar negeri sih? Bantu bangsamu juga, di sini lebih enak,” tandasnya.












