Penjelasan Enrico Tambunan Soal Ayah Biologis Ressa
Enrico Tambunan, adik dari Denada Tambunan, memberikan pernyataan terkait dugaan ayah biologis Ressa Rizky Rossano. Menurut Enrico, ayah kandung Ressa meninggalkan Denada. Namun, ia mengaku belum mendapatkan kepastian langsung dari Denada tentang identitas laki-laki tersebut.
Dalam video yang diunggahnya di Instagram, Enrico menyampaikan bahwa dirinya baru mengetahui bahwa Ressa adalah anak Denada pada Juni 2025. Saat itu, informasi tersebut diberikan oleh Ratih, tante Denada yang selama ini merawat Ressa. Sayangnya, saat ini Enrico tidak lagi bisa berkomunikasi dengan Ratih.
“Saya berusaha berbicara kepada tante Ratih, dan ini sebelum berita ini jadi besar. Tapi saya tidak dibaca Whatsapp-nya, tidak diangkat teleponnya, jadi saya tidak bisa berkomunikasi lagi,” ujar Enrico.
Enrico juga mengungkapkan kesedihannya setelah mendengar pernyataan Ratih dalam sebuah podcast. Dalam podcast tersebut, Ratih menyatakan bahwa ia mengetahui siapa ayah kandung Ressa, tetapi tidak mau membicarakan hal tersebut.
“Saya sangat sedih karena waktu saya nonton podcast tante mengatakan tante tahu siapa bapaknya, tapi tante tidak mau omongin,” katanya.
Sebagai adik, Enrico baru saja mengetahui bahwa Ressa adalah anak kakaknya. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak tinggal di Indonesia, sehingga tidak tahu tentang Ressa selama ini. Bahkan ketika ia berkunjung ke Indonesia, ia tinggal di rumah ayahnya, dan keluarga ayahnya juga tidak mengetahui tentang Ressa.
“Jadi saya tidak tahu bahwa Ressa adalah anak Mba Dena pada waktu itu, mungkin karena saya tidak tinggal di Indonesia, kalau pun saya ke Indo saya tinggal di rumah papah, keluarga papa tidak ada yang tahu juga,” jelas Enrico.
Enrico mencoba mencari tahu identitas ayah biologis Ressa, namun menurut dia, Ratih enggan memberi tahu. Pada Juni 2025, ia diberi penjelasan oleh Ratih, tetapi Ratih tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.
“Juni 2025 saya baru dijelaskan sama tante. Waktu itu dia tidak mau menjelaskan lagi,” tuturnya.
Saat Enrico mencoba berbicara dengan Denada, sang kakak tidak pernah mau membuka masa lalunya. “Kalau saya bicara dengan kakak saya, saya pun jadi kasihan, saya tidak tahu terjadi apa dulu itu,” kata Enrico.
Meski begitu, Ressa masih ingat siapa pria yang menjadi kekasih Denada saat itu. “Saya bisa mungkin meraba-raba kira-kira siapa orangnya, antara yang mana dengan yang mana. Tapi kan tentunya saya tidak tahu secara pasti, karena saya tidak di Indonesia,” jelasnya.
Menurut Enrico, Denada selalu sedih setiap kali ditanya tentang ayah kandung Ressa. “Tapi setiap kali saya mencoba membawa omongan itu ke kakak saya, kakak saya sangat amat sedih langsung. Seperti orang yang PTSD, langsung seperti orang yang mukanya sedih, campur marah, gak mau omongin,” katanya.
Enrico juga menyebutkan bahwa ia kecewa pada tantenya karena malah menyudutkan kakaknya, bukan ayah kandung Ressa. “Kekecewaan saya yang luar biasa, kalau di podcast itu tante bilang tahu siapa bapaknya, kenapa yang tante serang adalah malah keponakan sendiri, bukan orang lain, yang justru dialah bapaknya, dia lah harusnya yang memberikan nafkah utama, kalau menurut saya, yang bertanggung jawab,” beber Enrico.
Menurut Enrico, Denada juga merupakan korban karena ditinggalkan oleh laki-laki yang tidak bertanggung jawab. “Sekarang sudah kakak saya ditinggalin, kakak saya harus menanggung beban yang luar biasa, dan sekarang dijatuhkan lagi, bukan malah dilindungi,” katanya.
Ia pun meminta tantenya untuk mengejar ayah biologis Ressa. “Kalau tante tahu laki-lakinya siapa, harusnya yang diserang laki-laki itu, dan keponakan justru dilindungi,” katanya.
Enrico juga mengatakan bahwa dirinya hanya bisa menebak-nebak siapa pria yang dekat dengan kakaknya saat itu. “Saya hanya bisa menebak-nebak waktu itu kakak saya lagi deket sama siapa. Dan karena saya tidak di Indonesia, jadi saya tidak tahu persis,” katanya.
Klarifikasi Adjie Pangestu
Nama Adjie Pangestu sempat muncul sebagai calon ayah biologis Ressa. Mengetahui hal tersebut, Adjie Pangestu memberikan klarifikasi dan membantah tudingan tersebut. Ia mengatakan bahwa fotonya telah diambil dan diberi caption bahwa ia pernah pacaran dengan Denada pada tahun 2001.
“Itu lah serunya netizen, semua dibikin cocokologi. Tiba-tiba foto gue diambil dari Google, dikasih caption dibawahnya, pacarnya itu 2001,” ujar Adjie Pangestu.
Padahal, Adjie mengaku sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Denada, baik secara asmara maupun profesional kerja. “Secara personal gue enggak kenal,” imbuhnya.
Kendati demikian, Adjie Pangestu juga mengklarifikasi bahwa ia pernah bertemu satu kali dengan mantan suami Denada dalam sebuah acara. “Pernah ketemu sekali, itu pun sama mantan suaminya dalam acara. Kalau main bareng, telepon-teleponanan, enggak pernah. Kerja bareng juga enggak pernah, jadi sebenarnya enggak ada hubungan persona,” beber Adjie Pangestu.
Adjie Pangestu juga mengungkapkan bahwa ia sengaja tidak komentar terkait isu tersebut. “Sengaja enggak mau komenta. Nanti komentar salah, enggak komentar salah juga. Menurut gue, biar lah permainan di media sosial,” tandasnya.
Pengakuan Denada Tentang Ressa
Denada akhirnya mengakui bahwa Ressa adalah anak kandungnya. Dalam video tersebut, ia menyampaikan permohonan maaf kepada Ressa karena tidak membesarkannya secara langsung sejak bayi.
“Saya Denada Tambunan menyatakan bahwa Ressa Rossano adalah anak kandung saya, dan saya betul-betul minta maaf kepada Ressa karena Ressa tidak hidup bersama saya dari mulai dia masih bayi,” kata Denada.
Ia menjelaskan bahwa kondisinya di masa lalu menjadi alasan di balik keputusan berat tersebut. “Saat itu kondisi psikis saya sedang tidak layak,” ujarnya.
Denada juga mengungkapkan penyesalannya karena baru bisa memberanikan diri untuk memberitahu Ressa mengenai statusnya sebagai ibu kandung setelah sekian lama. “Itu kesalahan saya, itu kebodohan saya, itu kekhilafan saya, dan saya minta maaf,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, Denada berharap sang putra mau menerima dan memaafkannya. “Saat ini saya cuma bisa berdoa dan saya hanya bisa berharap semoga Ressa mau memaafkan saya dan menerima saya, ibu kandungnya, dengan segala kekurangan saya,” tuturnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












