Peran dan Identitas Masyarakat Tionghoa di Indonesia
Masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki peran yang unik dalam konteks budaya, politik, dan sosial. Proses adaptasi dan akulturasi mereka dengan masyarakat lokal selama ratusan tahun telah menciptakan identitas yang khas dan dinamis. Dalam acara diskusi menyambut Imlek bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” di Jakarta, berbagai narasumber membahas bagaimana masyarakat Tionghoa memahami dan menjaga identitasnya dalam bingkai keindonesiaan.
Proses Adaptasi dan Akulturasi
Orang-orang Tionghoa yang masih memiliki garis keturunan langsung dari para pendatang dari daratan Tiongkok telah mengalami proses adaptasi dan akulturasi dengan masyarakat lokal di Nusantara. Kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki ciri khas keindonesiaan, sehingga tidak bisa dianggap sama dengan budaya yang berkembang di daratan Tiongkok. Identitas etnik dari orang Tionghoa Indonesia pun berbeda, bukan hanya dari orang-orang di daratan Tiongkok, tetapi bahkan dari kelompok Tionghoa yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Peran Media Sosial dalam Pemahaman Budaya
Media sosial banyak mengubah cara pandang tentang Tionghoa dari sisi budaya, ekonomi, dan politik. Pandangan Ketionghoaan di Tiongkok sudah muncul sejak abad 13 terlebih dengan diimplementasikannya Confucianisme. Dalam diskusi tersebut, Christine Susanna Tjhin, pendiri dan direktur komunikasi strategis dan penelitian Gentala Institute, menjelaskan bahwa pemahaman mengenai ketionghoaan dapat ditinjau dari berbagai aspek, salah satunya adalah aspek budaya, yang mengaitkan ketionghoaan dengan ajaran Konfusius.
Aspek lainnya adalah aspek politik, yaitu memandang ketionghoaan dari sudut pandang identitas politik, yang sebenarnya baru muncul di akhir era dinasti Qing, namun terus berlanjut hingga saat ini. Menurut Christine, aspek politik tersebut turut menyertai arus migrasi orang-orang asal dataran Tiongkok ke negara-negara lain, termasuk Indonesia, sehingga muncullah istilah ‘pendatang baru,’ yaitu para pendatang yang lahir di Tiongkok dan keturunan generasi pertama dari para pendatang tersebut.
Perubahan Identitas Generasi Muda
Dari segi politik, orang-orang Tionghoa di Indonesia saat ini telah memilih menjadi Indonesia, dan oleh karenanya memiliki identitas nasional Indonesia. Pilihan ini merupakan sebuah keputusan politik yang disertai komitmen kuat untuk mewujudkan pilihan menjadi bangsa Indonesia itu dalam kehidupan sehari-hari.
Sekretaris Aspertina, Budiman Tanah Djaja, menilai bahwa identitas Tionghoa dalam bingkai budaya Indonesia bersifat dinamis dan progresif. Menurutnya, pemaknaan setiap generasi terhadap identitas ketionghoaannya juga tak sama. Bagi generasi yang lahir dan tumbuh dewasa sebelum atau semasa pemerintahan Orde Baru, identitas ketionghoaan masih dibayangi dengan represi, trauma, dan beban sejarah. Namun bagi generasi muda yang lahir atau menjadi dewasa setelah Reformasi 1998, sebuah era yang diwarnai dengan kebebasan, identitas Tionghoa menjadi lebih cair.
Pembentukan Identitas Baru
Dalam konteks itulah Budiman memahami munculnya istilah Chindo (Chinese Indonesia) sebagai upaya memaknai identitas di kalangan generasi muda. Generasi sekarang melupakan bahwa medium itu penting, anak-anak sekarang lebih banyak mengkonsumsi internet. Namun, mereka juga mulai menggali sejarah antara lain dengan mendatangi tempat-tempat bersejarah untuk kembali mempelajari sejarah lama, mereka mencoba merebut ruang publik untuk memahami kebudayaan Tionghoa itu seperti apa.
Ketua Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), Septeven Huang, menilai bahwa masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki kebudayaannya sendiri yang berbeda dengan di China daratan. Mereka sudah dapat beradaptasi dengan kebudayaan lokal. Masyarakat Tionghoa di Aceh bisa berbahasa Aceh begitu juga di Manado dan daerah lain. Tidak bisa mentransplantasikan kebudayaan Tiongkok ke sini.
Pentingnya Membangun Identitas Berbingkai Indonesia
Dia menekankan pentingnya bagi masyarakat Tionghoa, khususnya generasi muda, membangun identitas berbingkai Indonesia, baik identitas nasional maupun budaya, sebagai upaya menghadapi berbagai arus budaya asing. Janganlah generasi muda Tionghoa larut dalam krisis identitas, lalu mencoba mengadopsi kebudayaan luar, baik yang kebarat-baratan, yang berkharakteristik Korea, atau bahkan Tiongkok. Hindari menjiplak langsung kebudayaan Tiongkok tanpa memahami padanannya dalam kebudayaan Tionghoa yang berbingkai keindonesiaan.
Perspektif Akademisi dan Peneliti
Mengutip tulisan akademisi kenamaan asal Singapura, Profesor Wang Gungwu, pemerhati Tiongkok dan masyarakat Tionghoa di Indonesia yang juga Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI), Johanes Herlijanto berpendapat, masyarakat Tionghoa di luar Tiongkok memiliki kemampuan untuk selalu beradaptasi dengan masyarakat setempat. Dosen Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta ini juga menggarisbawahi pandangan bahwa Tionghoa Indonesia perlu memosisikan diri sebagai Indonesia dalam hubungan dengan pihak-pihak luar.
Dr. Thung Julan, alumni jurusan Sinologi Universitas Indonesia yang kini bertugas sebagai peneliti senior di Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN), mengatakan, menjadi Tionghoa yang berkharakteristik Indonesia dan menjadi Indonesia tanpa harus menanggalkan identitas budaya Tionghoa merupakan wujud dari sebuah pilihan politik dan keputusan politik. Munculnya istilah peranakan terbentuk melalui berbagai tahapan, mulai dari interaksi awal, akulturasi hingga asimilasi, ketika kelompok-kelompok yang berbeda melupakan perbedaan mereka, dan melangsungkan pernikahan, menjalin persaudaraan, dan sebagainya.
Meski demikian, menurut Julan, pembahasan mengenai identitas ini menjadi semakin kompleks, karena arus kedatangan Tionghoa ke Indonesia tidaklah sama. Ada sekelompok Tionghoa yang telah hadir lebih awal, misalnya di daerah Banten, lalu mengadopsi agama Islam, dan berbaur dengan masyarakat setempat sehingga keberadaannya tak dapat ditelusuri kembali. Ada yang disebut sebagai kelompok totok. Mereka memiliki orientasi lebih besar terhadap Tiongkok karena bisa Bahasa Mandarin. Namun ada juga yang kemudian menyebut diri sebagai peranakan, dan merasa makin jauh dari hal-hal berbau Tiongkok.
Thung Julan mengingatkan agar Tionghoa sebagai kelompok dapat membuat pilihan secara bijaksana. Dalam hubungan dengan Tiongkok, menurutnya Tionghoa harus memandang posisinya sebagai Indonesia, alih-alih sebagai bagian dari Tiongkok. Apapun yang terjadi dengan kita, kita tidak bisa berharap Tiongkok membantu, memangnya bisa kita mengharapkan Tiongkok membantu? Tidak. Karena kita adalah bagian dari sini (Indonesia).












