Laporan Group-IB: Serangan Rantai Pasok Ubah Peta Ancaman Siber 2026

Tren Kejahatan Teknologi Tinggi 2026: Ancaman yang Semakin Terintegrasi

Group-IB, sebuah perusahaan pengembang teknologi keamanan siber terkemuka yang berfokus pada investigasi, pencegahan, dan penanggulangan kejahatan digital, telah merilis Laporan High-Tech Crime Trends Report 2026. Dalam laporan tersebut, Group-IB memberikan peringatan bahwa serangan terhadap rantai pasok kini telah berevolusi menjadi ekosistem terintegrasi yang memanfaatkan kepercayaan, akses, serta data yang telah dikompromikan.

Laporan ini menunjukkan bahwa semakin banyak organisasi saling terhubung secara digital, para peretas kini lebih sering menargetkan vendor dan penyedia layanan di tingkat awal rantai pasok untuk memperluas dampak serangan, mempercepat eksekusi, dan menghindari deteksi. Alih-alih menyerang perusahaan secara langsung, pelaku kejahatan siber kini mengeksploitasi hubungan kerja yang sudah dipercaya dalam ekosistem rantai pasok digital untuk menembus sistem keamanan konvensional, sehingga dapat memperoleh akses ke seluruh jaringan pelanggan.

“Ancaman siber saat ini bukan lagi insiden yang berdiri sendiri,” ujar CEO Group-IB, Dmitry Volkov. “Semua ini saling terhubung dalam ekosistem serangan rantai pasok. Satu celah saja bisa berdampak pada ribuan pihak lain. Phishing, ransomware, kebocoran data, hingga penyalahgunaan akses internal merupakan tahapan dalam satu kampanye terkoordinasi yang dibangun dengan mengeksploitasi kepercayaan dan memperluas jejak ancaman siber.”

Di kawasan Asia-Pasifik, Group-IB mengungkap 263 kasus akses perusahaan yang diperjualbelikan di dark web sepanjang 2025 untuk memfasilitasi serangan tersebut. Laporan menegaskan bahwa lonjakan kebocoran data memperparah risiko siber. Kredensial yang dicuri, source code, API key, hingga komunikasi internal memungkinkan penyerang memahami proses bisnis dan relasi antar perusahaan. Ketika digabungkan dengan akses yang diperdagangkan oleh broker, data ini memungkinkan penyerang melancarkan penyusupan yang lebih terarah, menyamar sebagai pihak terpercaya, serta menjalankan penipuan yang tampak seperti aktivitas normal.

Poin-Poin Utama dalam Laporan Tren Kejahatan Teknologi Tinggi 2026

  1. Ekosistem open-source jadi sasaran

    Repositori paket seperti npm dan PyPI kini menjadi target utama serangan. Peretas mencuri akun maintainer dan menyisipkan malware secara otomatis ke library yang banyak digunakan. Akibatnya, proses development (pipeline) yang seharusnya aman justru berubah menjadi jalur penyebaran kode berbahaya ke banyak pengguna sekaligus.

  2. Lonjakan ekstensi peramban web berbahaya

    Pelaku kejahatan siber kini semakin sering memanfaatkan ekstensi peramban web yang terlihat terpercaya. Mereka membajak akun pengembang dan marketplace resmi untuk menyisipkan kode berbahaya. Ekstensi ini kemudian digunakan untuk mencuri kredensial login, mengambil alih sesi pengguna, hingga mencuri data keuangan langsung dari peramban web korban.

  3. Kompromi identitas melalui phishing

    Kampanye phishing yang didukung AI kini menargetkan integrasi sistem yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi serta alur login berbasis OAuth. Dengan metode ini, penyerang dapat melewati perlindungan MFA (multi-factor authentication) dan memperoleh akses jangka panjang yang terlihat aman ke platform SaaS, pipeline CI/CD (proses pengembangan dan deployment aplikasi), serta lingkungan cloud. Sepanjang 2025 di kawasan Asia-Pasifik, sektor jasa keuangan, pemerintahan dan militer, serta telekomunikasi menjadi industri yang paling banyak menjadi target serangan phishing.

  4. Kebocoran data dimanfaatkan untuk serangan massal

    Alih-alih membocorkan data satu korban, penyerang kini bergerak ke hulu dengan mengompromikan penyedia layanan dan layanan integrasi. Strategi ini membuka akses ke lingkungan multi-tenant, sehingga satu insiden dapat memicu eksposur data secara luas dan menimbulkan dampak berantai pada banyak perusahaan.

  5. Rantai pasok ransomware yang semakin terindustrialisasi

    Initial Access Broker, data broker, dan operator ransomware kini beroperasi dalam ekosistem yang terstruktur. Mereka membidik akses di tingkat hulu agar serangan dapat menjangkau lebih banyak target sekaligus dan menimbulkan kerugian bisnis yang lebih besar. Sepanjang 2025 di Asia-Pasifik, sektor manufaktur, jasa keuangan, dan properti menjadi industri yang paling banyak disasar oleh kelompok ransomware.

Pemanfaatan AI dalam berbagai alat serangan membuat siapa pun lebih mudah melancarkan aksi siber. Pelaku dapat membuat phishing kit dengan cepat, melakukan penyamaran yang lebih realistis, serta mengeksploitasi perangkat lunak open-source, sistem autentikasi, dan peramban web secara lebih luas dan terukur.

“AI bukan penyebab munculnya serangan rantai pasok, tetapi membuat serangan tersebut lebih efisien, cepat, dan sulit terdeteksi,” ujar Volkov. “Kepercayaan berlebihan terhadap software dan layanan kini berubah menjadi risiko strategis bagi sebuah perusahaan.”

Melalui studi kasus yang mendalam dan pemetaan profil aktor ancaman, Laporan Tren Kejahatan Teknologi Tinggi 2026 menunjukkan bahwa 2025 menjadi tahun lonjakan signifikan ancaman rantai pasok. Serangan berkembang dari penyusupan ekosistem open-source dan maraknya ekstensi peramban web berbahaya, hingga phishing berbasis AI, penyalahgunaan OAuth, serta terbentuknya ekosistem ransomware yang semakin terorganisir.

Laporan ini mencatat aktivitas konsisten dari kelompok seperti Lazarus, Scattered Spider, HAFNIUM, DragonForce, 888, dan kampanye yang terhubung dengan Shai-Hulud. Temuan tersebut menunjukkan bahwa baik kelompok kriminal maupun aktor yang berafiliasi dengan negara memanfaatkan platform dan integrasi terpercaya untuk menghasilkan dampak besar dengan upaya yang relatif efisien.

Laporan High-Tech Crime Trends Report 2026 didukung oleh intelijen Digital Crime Resistance Centers (DCRC) milik Group-IB yang tersebar di 11 negara, dikombinasikan dengan telemetri berbasis analisis perilaku aktor ancaman, investigasi kasus siber nyata, serta pemantauan nonstop terhadap aktivitas di ekosistem underground. Laporan ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi perusahaan, pemerintah, dan lembaga penegak hukum untuk mengantisipasi risiko yang muncul serta menghentikan rantai serangan sebelum kerusakan terjadi.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *