Kisah Yusuf Tankin: Keberuntungan saat lari ke bawah, bukan ke mesin

Peristiwa Tugboat Mega Terbalik di Batam

Pada Jumat (6/3/2026) malam, tugboat Mega mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kapal terbalik di tengah cuaca buruk di perairan kawasan PT ASL Shipyard, Tanjung Uncang, Batu Aji, Batam. Dalam insiden ini, tiga dari lima awak tugboat meninggal dunia. Mereka adalah Abdul Rahman (kapten kapal), Guntur Pardede (chief), dan Johnson Bertuahman Damanik (KKM). Sementara dua lainnya selamat, yaitu M Habib Ansyari dan Yusuf Tankin (57).

M Habib Ansyari ditemukan pada hari kejadian, sementara Yusuf Tankin ditemukan setelah 38 jam pencarian atau pada hari ketiga. Tugboat atau kapal tunda adalah kapal yang digunakan untuk melakukan manuver atau pergerakan, terutama menarik atau mendorong kapal lainnya di pelabuhan.

Air Pocket Selamatkan Yusuf

Yusuf Tankin, salah satu kru Tugboat, berhasil diselamatkan setelah terjebak selama 38 jam di dalam kapal. Tim SAR gabungan mengevakuasi korban pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 05.20 WIB. Saat itu, Yusuf berada di ruang mesin kapal. Korban berhasil dievakuasi sekitar pukul 05.20 WIB dari kamar mesin kapal.

Selama 38 jam, Yusuf bertahan di dalam kantong udara (air pocket) di ruang mesin kapal. Air pocket adalah kantong udara yang terjebak di dalam ruang tertutup kapal atau bangunan bawah air, yang bisa menyelamatkan orang dari tenggelam karena menyediakan oksigen sementara. Korban ditemukan tim SAR gabungan setelah kapal berhasil dibalikkan, dan dilakukan penyelaman ke bagian dalam kapal.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Tanjungpinang, Fazzli selaku SAR Mission Coordinator mengatakan bahwa sejak awal tim menduga korban masih berada di dalam kapal. Karena itu proses evakuasi dilakukan dengan perencanaan matang, termasuk proses penarikan dan pembalikan kapal yang memerlukan peralatan khusus. Setelah kapal berhasil dibalikkan, dilakukan pengecekan di lambung kapal dan tim gabungan melakukan penyelaman. Korban akhirnya ditemukan di ruang mesin.

Menurut Fazzli, di dalam ruang mesin tersebut masih terdapat ruang kantong udara yang memungkinkan korban bertahan hidup. “Alhamdulillah di dalam ruangan tersebut masih terdapat air pocket atau kantong udara yang memungkinkan korban untuk bertahan hidup,” katanya.

Operasi pencarian ini melibatkan tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, manajemen PT ASL, serta instansi terkait lainnya di Batam. Setelah ditemukan, korban langsung dievakuasi dan dibawa ke RS Mutiara Aini Batam untuk mendapatkan penanganan medis.

Selamatkan Diri di Bawah

Saat dijenguk oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Nyanyang Haris Pratamura, bersama Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kepri, Diky Wijaya, Minggu (8/3/2026), Yusuf menceritakan perjuangannya menyelamatkan diri. Menurut Yusuf, saat tugboat terbalik dia berlari ke bagian bawah kapal. Inilah yang menyelamatkan nyawanya.

“Iya, untung saya lari ke bawah (ke arah void). Kalau lari ke mesin atau dek, habis saya karena langsung kerendam,” ungkapnya. Void kapal adalah istilah dalam dunia pelayaran yang merujuk pada ruang kosong di dalam kapal yang tidak terisi muatan, bahan bakar, air, atau perlengkapan lain. Biasanya void digunakan untuk:

  • Mengurangi berat kapal dengan menyediakan ruang kosong.
  • Memberikan daya apung tambahan sehingga kapal lebih stabil.
  • Sebagai ruang inspeksi atau akses untuk perawatan struktur kapal.
  • Menjaga keseimbangan dengan mengatur distribusi ruang kosong dan tangki.

Yusuf mengatakan, insiden tugboat terbalik itu berlangsung cepat. Kapal yang sedang membantu manuver kapal besar itu tiba-tiba miring dan terbalik dalam hitungan detik. Meski masih menjalani perawatan dan dipantau tim medis, Yusuf terlihat lebih tenang saat berbincang dengan rombongan pemerintah daerah yang datang menjenguknya.

Yusuf Mulai Pulih

Wagub Nyanyang menanyakan kondisi Yusuf setelah selamat dari kejadian yang merenggut nyawa tiga korban tersebut. “Kondisinya bagaimana sekarang?” tanya Nyanyang kepada Yusuf, Minggu (8/3/2026). Dengan suara pelan, Yusuf menjawab, kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali dievakuasi dari laut.

“Alhamdulillah sudah mendingan pak, bersyukur bisa dievakuasi dengan selamat,” jawab Yusuf. Mendengar jawaban tersebut, Nyanyang kembali menimpali, bahwa Yusuf patut bersyukur karena masih diberi keselamatan dalam kejadian tersebut. Kini kondisi Yusuf sudah mulai membaik di ruang perawatan di RS Mutiara Aini. Beberapa alat medis seperti selang oksigen, infus, hingga monitor untuk pantau detak jantung, saturasi oksigen, dan tekanan darah, masih terpasang untuk memantau kondisi kesehatannya.

Detik-Detik Tugboat Terbalik

Yusuf bercerita, sebelum kejadian itu kapal Tugboat Mega sedang melakukan proses assist atau membantu manuver kapal besar yang sandar di area galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, Batuaji, Batam. Menurut Yusuf, kapal yang dibantu itu memiliki ukuran yang cukup besar, sehingga membutuhkan bantuan saat hendak sandar.

“Waktu itu jadi memang yang di-assist kapal besar, sekitar 255 GT kayaknya,” ujar Yusuf, saat ditemui di RS Mutiara Aini di Batuaji, Minggu (8/3/2026). Saat itu ada beberapa kapal tunda yang ikut membantu proses manuver kapal tersebut. Yusuf memperkirakan sekitar lima kapal terlibat dalam proses assist, dengan Tugboat Mega menjadi kapal berukuran paling kecil.

“Kira-kira ada lima kapal kayaknya yang bantu assist itu. Tempat kami inilah yang paling kecil,” katanya. Saat proses manuver berlangsung, Master Jetty memberikan instruksi kepada Tugboat Mega untuk berpindah posisi. Menurut Yusuf, saat itu kapal mereka berada di sisi kiri kapal besar dan diminta untuk bergeser ke sisi kanan.

“Master Jetty bilang ‘ASL Mega pindah ke kanan’. Kami kan di sebelah kiri, mau pindah ke kanan,” ujar Yusuf mengingat detik-detik sebelum tragedi itu. Namun saat kapal mulai bergerak mengikuti instruksi tersebut, tiba-tiba Tugboat Mega mengalami benturan. Yusuf menduga kapal mereka terkena hantaman dari bagian buritan kapal besar yang sedang dibantu.

“Tiba-tiba kebanting mungkin sama ekornya kapal besar itu. Mungkin juga kena arus atau gelombang kuat,” katanya. Benturan tersebut membuat kapal kehilangan keseimbangan dan mulai miring. Melihat kapal mulai kehilangan keseimbangan, salah satu kru sempat berteriak “karam, karam!”. Dalam hitungan detik, kapal pun terbalik.

Yusuf mengaku sempat menelan air laut saat kapal terguling. Dalam kondisi panik, ia berusaha menyelamatkan diri dengan berlari menuju kamar di bagian bawah kapal. Di detik-detik yang menegangkan itu, Yusuf sebenarnya berniat melompat keluar dari kapal. Namun tidak sempat, karena kapal sudah lebih dulu terbalik.

“Saya langsung lari ke kamar bawah. Rencana mau lompat, tapi tidak sempat keluar,” ujarnya.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *