Pasar LCGC Terancam Digulingkan Mobil Listrik Rp200 Jutaan



JAKARTA — Penjualan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) masih menunjukkan kinerja yang lemah selama periode Januari hingga Oktober 2025, di tengah tekanan pasar otomotif domestik.

Pakar Otomotif dan Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menyebutkan bahwa ada beberapa faktor penyebab melemahnya pasar LCGC. Salah satunya adalah penurunan daya beli masyarakat, terutama dari kalangan menengah bawah. Selain itu, maraknya mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dengan harga mulai dari Rp200 jutaan juga turut memengaruhi permintaan terhadap LCGC.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales LCGC pada 10 bulan pertama tahun 2025 mencapai 97.556 unit. Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar 34,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu 149.583 unit.

Di sisi lain, total penjualan wholesales mobil listrik murni (BEV) selama 10 bulan 2025 mencapai 69.146 unit. Angka ini melonjak jauh dibandingkan capaian pada 2024 yang hanya sebesar 43.188 unit.

Menurut Yannes, salah satu penyebab utama melemahnya daya beli adalah penurunan populasi kelas menengah sebesar 16,6% sejak 2019, ditambah inflasi sebesar 4,11%. Hal ini membuat segmen target pasar terbesar dan captive market APM Jepang semakin sensitif terhadap harga.

Faktor kedua adalah kenaikan harga LCGC dari kisaran Rp80 juta pada 2013 hingga tembus Rp200 jutaan saat ini. Kenaikan ini dipicu oleh biaya produksi, pertambahan margin profit tahunan, serta insentif fiskal yang tidak optimal.

Selain itu, hadirnya kendaraan listrik murah mulai menekan pasar LCGC. Contohnya, Wuling Air EV yang sempat populer saat debutnya dengan harga antara Rp184 juta hingga Rp200 jutaan. Persaingan kemudian meningkat setelah Seres E1 diluncurkan dengan rentang harga Rp189 juta hingga Rp219 jutaan.

Masuknya mini SUV VinFast VF 3 dengan harga Rp227 jutaan juga memberikan tekanan terhadap LCGC. Model BYD Atto 1 yang hadir dengan harga antara Rp195 juta hingga Rp235 jutaan semakin memperkuat persaingan. Model ini menawarkan dimensi sekelas LCGC bermesin bensin, namun dengan spesifikasi yang jauh lebih unggul, ditambah insentif PPN 1% yang membuatnya lebih kompetitif di pasar.

Persaingan semakin memanas ketika Jaecoo J5 EV dari Grup Chery masuk ke pasar dengan harga antara Rp249 juta hingga Rp299 jutaan. Kehadiran sejumlah model baru dalam waktu singkat ini mulai menggerus dominasi LCGC yang selama bertahun-tahun dikuasai merek Jepang seperti Toyota, Daihatsu, dan Honda.

Selain itu, beban pajak domestik turut memperberat tekanan pada segmen kendaraan LCGC. Penerapan PPN 12% dan pajak daerah (opsen) hingga 12,5% membuat harga LCGC berbasis mesin bensin kian menjauh dari daya beli konsumen middle income.

Yannes menilai, kombinasi tarif tersebut menjadikan harga akhir LCGC semakin tidak rasional dibandingkan fitur dan teknologi yang ditawarkan. Terlebih, pasar mulai terbiasa dengan opsi EV murah yang mendapat insentif lebih ringan.

Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi makro menjadi pemicu terbesar melemahnya permintaan di kelas menengah. Daya beli yang tergerus dalam jangka panjang membuat konsumen memilih menahan belanja dan menyimpan likuiditas. Sementara itu, investor baru turut menghindari pasar yang dinilai belum stabil.

“Akumulasi seluruh faktor mulai dari tekanan kompetisi, kebijakan fiskal, hingga kondisi ekonomi ini pada akhirnya memperlambat pemulihan penjualan kendaraan ICE yang masih mengandalkan model bisnis lama dan pola ‘business as usual’,” pungkas Yannes.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *