Ketika panitia peringatan empat belas tahun komunitas Sastra Bulan Purnama (SBP) Yogyakarta meminta beberapa penyair menulis puisi dengan tema persahabatan, maka yang terbayang dalam pikiran saya adalah sepiring brongkos di Omah Ampiran, Randugowang, Sleman, Yogyakarta, dan menikmati lodeh lompong di bawah keteduhan pohon klengkeng di Bligo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Bagi saya, persahabatan hadir dari hal sederhana: suapan hangat penghapus lelah, obrolan ringan menenangkan, dan dari rasa yang berbeda tapi saling melengkapi. Mengapa bayangan itu yang tiba-tiba menyergap sekehendak hati? Tidak lain karena persahabatan bisa saja direkatkan melalui sepiring hidangan sederhana, tidak harus dengan touring naik moge, mendaki gunung tinggi, atau healing ke tempat-tempat eksotis yang menguras uang tabungan dan tenaga.
Cukuplah kami (anggota SBP) menjalin silaturahmi dengan mengelilingi meja makan. Bagi kami, ini merupakan “tradisi” saling berbagi cerita, upaya membaca kisah yang tersimpan dalam makanan: soal rasa, kenangan, dan keakraban yang terus menjelma di meja makan.
Ada lima tempat pelaksanaan “prosesi” makan bersama. Pertama di rumah penyair Marjudin Suaeb, Galur, Kulonprogo, dengan menu rica-rica enthok. Kedua, Omah Lawang Ijo Kuning kediaman penyair Dedet Setiadi wilayah Jawa Tengah, menu berbagai macam masakan dan kudapan tradisional Nyonya Pang, toko legendaris kue masa lalu. Ketiga berkumpul di limasan Somoatmajan, kediaman sastrawan Jawa Agus Suprihono dengan menu mangut nila. Keempat di rumah pelaku seni, Yuli Purwati di Bligo, Kabupaten Magelang dengan masakan ndeso lodeh lompong. Kelima di Omah Ampiran, Randugowang, dengan menu spesial brongkos.
Berbagai hidangan tersebut, diam-diam mencerminkan makna mendalam tentang bagaimana kami menjalin dan menjaga peseduluran, persahabatan, agar tidak lekang oleh waktu. Sepiring brongkos, mengajarkan bahwa sahabat sejati adalah yang duduk menemani di meja makan dengan cerita tak pernah habis. Persahabatan ada dalam suapan brongkos, mempertemukan hati, mengikat rasa, dan menegaskan bahwa kita tidak sendiri.
Brongkos menjadi sajian andalan Ibu Negara Omah Ampiran saat puluhan bahkan belasan sedulur SBP bertandang ke Omah Ampiran, Randugowang. Dulu, waktu orang tua masih sugeng dan kami serumah di omah tabon, ibu sering memasak brongkos, yang kemudian menjadi menu favorit keluarga.
Bagi yang belum pernah mencicipi, brongkos merupakan masakan berkuah santan dengan isian daging atau tetelan sapi, tahu, kacang tolo, telur rebus, dilengkapi kulit mlinjo dan cabe rawit utuh. Kuahnya berwarna cokelat gelap karena menggunakan kluwak (buah pohon Pucung). Meskipun tampilannya mirip rawon, tapi rasa dan aroma keduanya berbeda. Hal itu terjadi karena brongkos bersantan, sedangkan rawon tidak menggunakan santan.
Gurih brongkos dengan kuah pekat dan taburan cabai rawit utuh yang bisa diceplus setiap saat, menyebabkan banyak orang menyukainya. Setiap memasak brongkos, Ibu Negara selalu membeli kluwak di pasar tradisional, baik Kranggan maupun Pasar Mlati. Kluwak dipilih yang berat, tidak kopong.
Setelah dipecah, dicicipi satu per satu agar kluwak yang berasa pahit tidak tercampur bumbu rempah lainnya: serai, lengkuas, bawang merah, bawang putih, kencur, jahe, kunyit, daun jeruk, dan ketumbar. Dapat dipastikan, jika seujung kuku saja kluwak pahit ikut tercampur, rasa brongkosnya akan ikut pahit dan terasa getir di lidah.
Meskipun pada awalnya brongkos dianggap sebagai masakan untuk para bangsawan, tetapi dalam perjalanan waktu, brongkos diterima dengan baik oleh semua kalangan masyarakat. Hal ini terjadi karena rasa gurih manisnya cocok dengan lidah orang Jawa.
“Brongkos Omah Ampiran memang rasanya maknyus. Kombinasi rempah dengan rasa gurih dan manisnya pas. Itu yang membuat kami kangen…,” komentar Ons Untoro, koordinator SBP, saat berkumpul di Omah Ampiran.
“Ibu Negara Omah Ampiran memang layak mendapat acungan jempol. Brongkosnya kaya rasa. Bumbu rempah, santan, dan kluwaknya menciptakan cita rasa istimewa,” sambung Ninuk Retno Raras, cerpenis SBP.
Sebenarnya tidak ada rahasia mengapa brongkos Omah Ampiran terasa istimewa, digemari tetamu. Biasanya, jika esok hari akan diadakan acara makan siang bersama di Omah Ampiran, maka sore sebelumnya brongkos sudah diolah dan didiamkan selama satu malam. Proses ini menyebabkan bumbu rempah meresap sempurna, sehingga setiap suapan brongkos menawarkan cita rasa gurih dengan aroma rempah bercampur santan, sehingga berasa lebih nikmat.
Konon, brongkos mempunyai nilai kenangan yang kuat. Artinya, bagi kebanyakan orang Jawa, brongkos bukan sekadar makanan, tapi juga kenangan bersama keluarga. Jadi jangan heran jika masyarakat Jawa merasa “pulang” ke rumah setiap kali menikmati brongkos.
Dari catatan pengamat kuliner, diketahui bahwa brongkos begitu populer di Jawa. Setidaknya dalam Serat Centhini (ditulis tahun 1814-1823) disebut hingga sepuluh kali. Dijelaskan bahwa brongkos disajikan sebagai hidangan saat menyambut tamu maupun upacara adat perkawinan.
Dalam Kookboek (dikutip dari gresik-jatimtime.com), buku masakan karya penulis Belanda (1925), diceritakan bahwa pada zaman penjajahan, brongkos menjadi salah satu hidangan paling lezat, menjadi hidangan mewah Rijsttafel bergaya Indische. Bahkan, brongkos dulunya dihidangkan dengan tata meja a la restoran mewah.
Perpaduan bermacam bumbu rempah, ditambah kulit melinjo, cabe rawit, kacang tolo, maka cita rasa brongkos merupakan perpaduan antara gurih-manis yang begitu menyatu. Ceplusan cabe rawit, terkadang menghadirkan sensasi pedas tidak terduga.
Artinya, brongkos dalam budaya masyarakat Jawa, mencerminkan keseimbangan hidup: suka dan duka, manis dan pedas. Setiap suapan brongkos mengingatkan bahwa hidup penuh warna, dan kita menerima semuanya dengan lapang dada, nrima ing pandum.
Proses memasak brongkos membutuhkan kesabaran mulai dari memecah kluwak (berkulit keras dan tebal), merendam kacang tolo, merebus daging hingga empuk, sampai mengaduk santan secara pelan dan merata agar tidak pecah, mengajarkan nilai ketekunan dan kesabaran dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Jadi, tidaklah mengherankan jika sebagian masyarakat Jawa menganggap brongkos sebagai hidangan istimewa yang penuh makna, bukan sekadar masakan sehari-hari. Konon, brongkos tidak hanya tentang soal rasa. Di balik sepiring brongkos yang gurih dan kaya rempah, ada cerita panjang tentang budaya, tradisi, dan filosofi hidup orang Jawa. Ia merupakan bagian dari identitas dan sejarah panjang masyarakat Jawa, terutama di Yogyakarta dan sekitarnya.
Pada akhirnya, persahabatan serupa dengan kerja “mengolah” brongkos: ada bumbu yang harus ditakar dan waktu yang dilewati bersama. Seperti juga keunikan rasa brongkos, kadang persahabatan terasa gurih, pahit atau kadang pedas-dan semua rasa itulah yang membuat hubungan menjadi “hidup” dan kebahagiaan tumbuh dalam kebersamaan.












