Perkembangan Pemain Tunggal Putri Indonesia
Sektor tunggal putri Indonesia terus berupaya untuk memperkuat posisinya dalam persaingan bulu tangkis dunia. Salah satu harapan baru adalah Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, yang diharapkan bisa menjadi pendamping bagi Putri Kusuma Wardani dan Gregoria Mariska Tunjung.
Dhinda, yang berusia 19 tahun, telah menunjukkan potensi besar sejak awal karier. Tahun lalu, dia berhasil meraih gelar juara Indonesia Masters Super 100. Di awal tahun 2025, ia memulai debutnya di level Super 300 dengan tampil di Korea Masters, di mana ia mampu mencapai semifinal. Namun, di Kumamoto Masters 2025, ia terhenti di babak perempat final.
Pelatih kepala tunggal putri PBSI, Imam Thohari, mengungkapkan rencana jangka panjang untuk Dhinda. Ia menyatakan bahwa target untuk tahun depan adalah meningkatkan level kompetisi Dhinda ke level 300 hingga 500. “Untuk tahun kemarin, Dhinda sudah pernah juara Super 100 di Surabaya. Jadi, untuk tahun depan, saya ingin dia bisa tampil di level 300 dan 500,” ujarnya.
Evaluasi Performa Dhinda
Dhinda sendiri sedang melakukan evaluasi terhadap penampilannya di turnamen level senior. Sebelum ikut Korea Masters, ia sempat mengikuti beberapa turnamen Super 100, namun hasilnya kurang memuaskan. “Saya merasa agak kecil hati karena bahkan Super 100 saja masih sangat berat,” kata Dhinda.
Namun, dukungan dari keluarga dan pelatih membantunya untuk tetap percaya diri. “Berkat dukungan tersebut, saya akhirnya bermain di Super 300 tanpa beban apapun. Dan akhirnya saya bisa sampai semifinal,” tambahnya.
Meski begitu, Dhinda masih belum bisa mengikuti turnamen Super 750 atau Super 1000. “Target saya untuk saat ini adalah turun di level Super 300 atau Super 500 jika memungkinkan,” ujarnya.
Pengalaman Berharga
Dhinda juga mengaku mendapat banyak pengalaman berharga ketika menghadapi pemain-pemain kelas atas. “Di Korea, lawan-lawanku memiliki peringkat yang lebih tinggi, seperti yang berada di peringkat 20-an atau 30-an. Saya tidak merasa ada beban sama sekali, justru saya melihat itu sebagai kesempatan,” katanya.
“Kalau bisa menang, itu akan sangat bagus. Itu menjadi motivasi saya. Tapi, saya harus bisa mengimbangi pemain-pemain top karena lawan kami hanya itu-itu saja.”
Di Kumamoto, Dhinda juga menghadapi lawan-lawan yang sudah masuk 8 besar. “Saya berusaha bermain semaksimal mungkin dan menunjukkan semua kemampuan saya. Urusan menang-kalah nanti akan mengikuti,” ujarnya.
Perbedaan Level Turnamen
Setelah merasakan turnamen dengan level yang lebih tinggi, Dhinda merasakan adanya perbedaan. “Di Super 100, saya sudah biasa. Tapi saat pertama kali ikut Super 300 dan 500, ada perbedaan. Banyak wajah-wajah baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya,” katanya.
Turnamen Super 500 juga memberinya kesempatan untuk bertemu dengan banyak pemain top dari sektor lain. “Saya senang karena bisa bermain bersama di satu level,” ujarnya.
Dhinda juga menyadari bahwa turnamen Super 300 dan 500 lebih sulit dibandingkan Super 100. “Di Super 100, kita bisa mengandalkan beberapa bola dan langsung mematikan lawan. Tapi di level 300 dan 500, kita harus adu strategi dan adu kuat karena lawannya tidak mudah dimatikan.”
Target Masa Depan
Dhinda berharap pada 2026 bisa meraih gelar juara di turnamen Super 300 dan Super 500. “Saya ingin ranking saya bisa naik secara signifikan karena sudah pernah juara Super 100. Target saya adalah mencapai peringkat ke-30 dunia,” ujarnya.
Selain itu, Dhinda mengaku mengidolakan An Se-young, meskipun gaya permainannya berbeda. “Saya sangat mengagumi An Se-young, tapi orang melihat permainan saya tidak seperti dia karena tipe cara bermainnya berbeda.”
“Namun, saya suka melihat semangat dan konsistensinya. Saya juga merasa susah menerapkannya sebagai atlet. Dia sudah menjadi juara sejak muda.”












