Pengumuman Film “Laut Bercerita” yang Difilmkan dengan Durasi Panjang
Pada acara Jogja Expo Center (JEC) dalam Jogja NETPAC-Asian Film Festival (JAFF), sutradara ternama Yosep Anggi Noen mengumumkan bahwa novel “Laut Bercerita” akan difilmkan dalam bentuk film panjang pada tahun 2026. Novel ini, yang telah sukses sebagai film pendek, memiliki banyak penggemar dan harapan besar dari publik.
“Ini adalah novel yang sangat laku dan dicintai. Ada ekspektasi besar, bahkan ikatan emosional. Saya sempat takut tidak bisa memenuhi harapan itu,” ujar Yosep Anggi Noen saat diwawancarai dalam acara tersebut.
Film “Laut Bercerita” akan dibintangi oleh aktor dan aktris yang sama seperti dalam film pendeknya. Reza Rahadian masih dipercaya untuk memerankan tokoh utama, Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa 1998. Sementara itu, Dian Sastrowardoyo kembali memerankan tokoh Kasih Kinanti, salah satu pimpinan kelompok Winatra dalam novel tersebut.
Beberapa pemeran baru juga akan bergabung dalam film ini, antara lain Eva Celia, Christine Hakim, dan Arswendy Bening Swara. Film ini akan diproduksi oleh rumah produksi Pal8 Pictures.
Sinopsis Novel “Laut Bercerita”
“Laut Bercerita” adalah novel fiksi bersejarah yang terinspirasi dari peristiwa politik di Indonesia pada tahun 1998, masa gejolak reformasi. Novel ini terbagi menjadi dua sudut pandang. Bagian pertama bercerita dari perspektif Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM yang tergabung dalam organisasi Winarta. Ia bersama teman-temannya, Sunu, Kinan, dan Alex, sangat keras menentang rezim Orde Baru saat itu.
Cerita berlanjut hingga para aktivis ini diculik, disekap, dan disiksa secara brutal dan misterius. Di bagian kedua, cerita beralih ke sudut pandang Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut. Keluarga ini terus menantikan kepulangan sang kakak yang hilang tanpa jejak. Setiap hari, mereka selalu menyiapkan piring makan untuk anak mereka yang tak pernah kembali.
Novel ini juga mengangkat isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia yang belum terselesaikan. Leila S. Chudori, penulis novel ini, ingin menyampaikan kepedihan keluarga penyintas yang masih menunggu jawaban atas nasib anak-anak mereka yang hilang di era Orde Baru.
Inspirasi dari Kehidupan Nyata
Leila S. Chudori mengaku mendapat inspirasi dari pengalamannya sebagai jurnalis. “Banyak kejadian dalam novel ini terinspirasi pengalaman saya saat bekerja sebagai jurnalis,” katanya.
Selama proses penulisan, Leila melakukan wawancara mendalam dengan para penyintas penghilangan paksa, termasuk Nezar Patria, Budiman Sudjatmiko, dan Rahardjo Waluyo Djati. Dari wawancara tersebut, ia menciptakan tokoh fiksi bernama Biru Laut, yang merupakan gabungan dari berbagai pengalaman dan jejak para penyintas.
Leila juga mengangkat kisah aktivis perempuan setelah bertemu dengan Lily, seorang aktivis perempuan yang sempat menjadi buron dan terpaksa bekerja sebagai buruh pabrik untuk menghindari penangkapan. Dari kisah Lily ini, ia menciptakan tokoh Kinan, sosok yang pertama kali memperkenalkan Biru Laut pada lingkar aktivisme mahasiswa.
Penutup
Dengan kisah yang kuat dan penuh makna, “Laut Bercerita” akan menjadi tontonan yang menggugah hati dan mengingatkan pentingnya kebebasan serta hak asasi manusia. Film panjang ini diharapkan dapat memberikan pesan yang lebih dalam tentang sejarah dan nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para aktivis di masa lalu.












