JAKARTA — Dua emiten maskapai penerbangan, PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP), masih menghadapi tantangan dalam menghasilkan laba sejauh ini. Kedua perusahaan terus mencari strategi untuk memperbaiki kinerja keuangan mereka.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, GIAA mencatatkan kerugian bersih sebesar US$182,53 juta pada kuartal III/2025. Angka ini meningkat 39,10% secara tahunan dibandingkan rugi bersih periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu US$131,22 juta. Penurunan pendapatan usaha juga menjadi faktor utama. Pendapatan GIAA turun 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar dari US$2,56 miliar pada kuartal III/2024.
Sementara itu, CMPP juga mencatatkan peningkatan kerugian. Pada kuartal III/2025, perseroan mencatatkan kerugian sebesar Rp985,49 miliar, dibandingkan Rp598,57 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun pendapatan usaha CMPP tumbuh 2,08% YoY menjadi Rp6,02 triliun dari Rp5,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu, lonjakan beban usaha seperti biaya perbaikan dan pemeliharaan serta pemasaran tidak dapat diimbangi.
Beberapa hal yang menyebabkan beban usaha meningkat antara lain:
Biaya perbaikan dan pemeliharaan naik dari Rp1,25 triliun menjadi Rp1,46 triliun.
Beban pemasaran meningkat signifikan dari Rp268,92 miliar menjadi Rp364,87 miliar.
Untuk menghadapi situasi ini, kedua emiten maskapai melakukan berbagai strategi. Direktur Utama CMPP Raden Achmad Sadikin menjelaskan bahwa prioritas utama perseroan adalah memastikan kesiapan armada pesawat agar operasional bisa berjalan optimal.
“Pada tahun 2026, kami memproyeksikan peningkatan kapasitas armada dengan menyiapkan 25 pesawat beroperasi dari total 28 pesawat yang dimiliki,” ujar Achmad dalam laporan hasil public expose pada Selasa (2/12/2025).
Dengan armada yang lebih andal, CMPP berharap dapat membuka rute-rute baru yang memiliki potensi pertumbuhan. Sebagai perusahaan penerbangan berbiaya rendah (LCC), CMPP terus menerapkan efisiensi biaya. Hal ini terlihat dari tingkat cost of available seat kilometer (CASK) yang kompetitif.
Selain itu, CMPP berkomitmen untuk meningkatkan kepuasan pelanggan sebagai bagian dari penguatan daya saing. Kombinasi efisiensi biaya, pemilihan rute strategis, dan peningkatan keandalan armada menjadi dasar utama CMPP dalam memperkuat kinerja operasional dan keuangan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, GIAA mendapatkan suntikan dana dari pemegang sahamnya. Berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Danantara akan menyertakan modal sebesar Rp23,67 triliun kepada GIAA melalui private placement. Penyertaan modal ini dilakukan melalui setoran tunai sebesar Rp17,02 triliun dan konversi utang pinjaman pemegang saham sebesar Rp6,65 triliun.
Secara detail, dari total dana Rp23,67 triliun, sekitar Rp8,7 triliun atau 37% akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja Garuda Indonesia, termasuk pemeliharaan dan perawatan pesawat. Sementara itu, Rp14,9 triliun atau 63% akan digunakan untuk operasional Citilink, termasuk modal kerja dan pelunasan kewajiban pembelian bahan bakar kepada Pertamina.
Dukungan Danantara menjadi bagian dari restrukturisasi perseroan. Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Sugiarto Oentoro menjelaskan bahwa GIAA akan membenahi empat pilar utama, yaitu service, business, operational, dan digital transformation. Perseroan juga berkomitmen untuk memperbaiki sejumlah armada yang saat ini sedang grounded.
Seiring dengan langkah perbaikan tersebut, GIAA berharap kinerja keuangan dapat membaik. Target laba pada tahun 2026 menjadi prioritas utama.
“Sekarang ini kami fokus pada perbaikan kinerja operasional, dan kami harapkan dampak positifnya akan terlihat pada kuartal II 2026,” ujar Thomas dalam public expose beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria juga menyampaikan bahwa transformasi yang dilakukan GIAA membutuhkan waktu. Namun, dari sisi finansial, Dony optimistis bahwa tahun depan akan terlihat dampak positif dari upaya perbaikan tersebut.
“Garuda Indonesia tahun depan akan raup keuntungan dan masuk ke fase sehat. Melihat potensi yang ada, kami sangat yakin Garuda masuk ke fase positif,” ujar Dony dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.












