JAKARTA,
Perjalanan ribuan orang di jalur KRL Bogor–Jakarta Kota hampir selalu penuh dinamika. Di balik suara pintu otomatis dan hiruk pikuk orang yang terburu-buru, terselip cerita-cerita kecil tentang barang yang tertinggal di gerbong: earphone, tumbler, bahkan korek. Meski terlihat sepele, bagi banyak Gen Z yang hidupnya sangat bergantung pada barang kecil kadang justru benda-benda itu yang bikin panik ketika hilang.
Pihak KAI sebenarnya sudah menegaskan standar pelayanan lost and found lewat siaran pers tanggal 28 November 2025. VP Corporate Communications KAI Anne Purba menyebut layanan ini terus diperkuat demi menciptakan pengalaman perjalanan yang aman dan nyaman. “Kami memahami bahwa kondisi perjalanan yang ramai dapat membuat pelanggan luput memastikan barang bawaannya. Karena itu, KAI memastikan adanya layanan Lost and Found yang terstandar sehingga barang dapat ditemukan dan dikembalikan dengan cepat kepada pemiliknya,” ujar Anne.
Berbekal kondisi tersebut, akhirnya membuatku penasaran dan turun langsung untuk menelusuri dimana sajakah pos layanan lost and found di sepanjang jalur kereta rute Bogor – Jakarta Kota. Sepanjang menikmati perjalanan dengan kereta, aku sempat turun di stasiun Gondangdia, kemudian mencari petugas untuk bertanya mengenai ‘dimana kah letak pos layanan lost and found berada?’.
“Kalau pos layanan lost and found, ada di stasiun keberangkatan awal dan pemberhentian terakhir, seperti di Bogor, Manggarai, Jakarta Kota, Bekasi, Cikarang, dan stasiun lainnya yang menjadi tempat keberangkatan dan pemberhentian akhir,” ujar si petugas. Selesai bertanya dengan petugas, aku pun langsung berangkat lagi ke stasiun Jakarta Kota, sesampainya disana, pos layanan lost and found dapat dengan mudah ditemukan, karena lokasinya strategis yakni di tengah-tengah gedung stasiun.
Kemudian aku kembali menaiki kereta dan turun di stasiun Manggarai, pos layanan lost and found pun lokasinya agak jauh dari tempat dimana penumpang turun dari kereta, yakni di dekat pintu exit arah Pasaraya Manggarai dan Terminal Manggarai.
Selain menelusuri sendiri di mana pos layanan tersebut berada, aku pun mewawancarai beberapa Gen Z yang pernah kehilangan barang di kereta. Rafi (19 tahun) mengaku pernah kehilangan headphone dan korek. “Pas sadar hilang, aku langsung balik ke stasiun terdekat dan nanya ke petugas. Tapi barangnya sudah nggak ada. Katanya kalau security atau tim kebersihan nemu, mereka bakal cek lagi di setiap gerbong,” ujar Rafi. Ia juga menyinggung soal banyaknya penumpang yang turun-berganti membuat pencarian makin sulit. “Petugas KAI juga handle ribuan orang tiap hari. Kemungkinan barang ketemu itu kecil kalau sudah pindah gerbong atau kebawa orang.” Rafi mengaku setelah kejadian itu, ia jadi lebih hati-hati setiap naik kereta.
Sementara itu, Devi (24 tahun) pernah kehilangan tumbler saat naik kereta. “Aku sadar botolnya hilang pas sudah turun. Tapi karena itu murni kelalaianku, aku memilih buat diikhlasin aja,” katanya. Menariknya, Devi tetap mengapresiasi sistem yang sudah berjalan tetapi tetap menegaskan pentingnya kewaspadaan pribadi. “Prosedur KAI bagus, cuma penumpang juga harus lebih aware. Petugas kan nggak melayani satu orang saja,” imbuh dia.
Prosedur resmi KAI
Dalam siaran persnya, Anne Purba memaparkan proses penanganan barang hilang secara detail, yakni:
- Barang yang ditemukan akan diumumkan lewat pengeras suara.
- Jika tidak diambil, barang disimpan di pos pengamanan dan didata ke sistem lost and found.
- Penumpang yang kehilangan dianjurkan segera melapor, baik ke kondektur, petugas keamanan, customer service, maupun pos layanan di stasiun kedatangan.
- Detail barang, kode booking, dan ciri khusus sangat membantu dalam pencarian.
- Pengguna juga diminta menjaga kerahasiaan data pribadi.
- Jika barang ditemukan, penyerahan dilakukan melalui proses verifikasi resmi.
- Kontak 121 atau WhatsApp 08111-2111-21 dapat digunakan jika penumpang tidak bisa melapor langsung.
Anne juga mengingatkan bahwa KAI menerima ribuan laporan barang hilang setiap tahun. “Kami terus meningkatkan kualitas layanan, namun kami juga mengimbau kepada penumpang untuk selalu memeriksa kembali seluruh barang bawaan sebelum turun dari kereta,” ujar Anne.
Dari perjalanan menyusuri jalur Bogor – Jakarta Kota, terlihat bahwa sistem lost and found KAI sebenarnya berjalan, tapi belum semuanya mudah ditemukan oleh penumpang. Dua orang Gen Z yang saya wawancarai pun merasa lebih bergantung pada kesadaran pribadi dibanding mengharapkan barang mereka kembali. Mungkin bisa disimpulkan bahwa yang perlu diperkuat bukan hanya prosedurnya, tapi juga cara penyampaian informasi agar layanan lost and found bisa terasa lebih dekat, lebih jelas, dan lebih ramah bagi pengguna harian, terutama bagi Gen Z yang mengandalkan kecepatan dan kejelasan dalam setiap perjalanan.












