Daerah  

Ubi Goreng, Ashar, Yasin: 10 Langkah Penyelamat Nenek Irmayeti dari Galodo Agam

Pengalaman Irmayeti yang Selamat dari Bencana Banjir Bandang

Irmayeti (72), seorang warga Salareh Aie Timur, Palembayan, Agam, berhasil selamat dari bencana banjir bandang yang menewaskan ratusan nyawa di kampungnya. Peristiwa ini terjadi pada hari Kamis (27/11/2026) dan menjadi momen tak terlupakan dalam hidupnya.

Pada sore hari, ia sedang menjalankan ibadah puasa sunah yang biasa dilakukannya setiap Senin dan Kamis. Pukul 14.00 WIB, Irmayeti sudah mempersiapkan menu berbuka puasanya, seperti ubi goreng, bubur kacang hijau, lauk ikan asin, serta terong goreng. Makanan kesukaannya ini disiapkannya untuk dinikmati setelah sholat maghrib.

Setelah selesai memasak, Irmayeti melaksanakan sholat, mengaji, dan membaca surat Yasin hingga pukul 16.00 WIB. Biasanya, setelah sholat, ia akan tidur dan minta cucu perempuannya untuk membangunkannya pada pukul 17.30 WIB. Namun, pada hari itu, ia tidak bisa tidur meski sudah lelah.

Pukul 17.00 WIB, Irmayeti masih terjaga dan memutuskan untuk keluar rumah sebentar. Sebelum pergi, ia memberi tahu kedua cucunya bahwa ia ingin pergi ke kedai seberang. Ia juga meminta cucunya untuk memberitahunya jika sudah pukul 17.30 WIB agar bisa pulang dan membawa takjil untuk sholat di masjid.

Baru beberapa langkah meninggalkan rumah, cucunya yang baru saja selesai sholat langsung berlari keluar. Ia melihat sesuatu yang aneh: awan mendung, hujan tidak turun, namun terdengar bunyi gemuruh panjang. Di depan rumah, tiang listrik bergoyang kencang. Irmayeti merasa cemas dan memanggil cucu lainnya untuk keluar mencari tempat yang lebih aman.

Ketiganya berjalan ke tempat yang lebih tinggi, dan ternyata banjir bandang datang. Di tempat yang lebih tinggi, Irmayeti melihat banyak warga yang terbawa arus, kendaraan, pohon, batu, hingga perabotan rumah melewati mereka. Meski tak ada satu pun yang terbawa arus, rumah Irmayeti tertutup lumpur tanah setinggi lutut, sehingga semua perabotan hilang tanpa sisa.

Irmayeti bersama cucunya kemudian pergi ke Puskesmas Koto Alam dan bertahan selama tiga hari di sana. Selama masa pengungsian, ia mengaku mengalami hal aneh: ia yang biasanya buang air besar secara rutin tidak pernah merasakan keinginan tersebut. “Ini keajaiban bagi saya, karena air tidak ada. Saya takut merepotkan orang lain,” katanya.

Tetap Menjalankan Ibadah Puasa di Tengah Bencana

Hingga hari ini, Senin (8/12/2025), Irmayeti tetap menjalankan ibadah puasa rutinnya. Meski hanya sahur dengan mie instan atau segelas teh panas, ia mampu menahan haus dan lapar hingga waktu berbuka. Di waktu berbuka, ia menikmati takjil berupa teh panas dengan roti, lalu makan besar dari hasil racikan makanan di dapur umum posko pengungsian.

Irmayeti masih tinggal di posko pengungsian Kampung Tanjung karena lumpur tanah di rumahnya belum sepenuhnya bersih. Ia dan keluarganya telah membersihkannya, namun hujan kembali turun dan membuat lumpur naik lagi. “Saya tidak mau repot, jadi lebih baik tinggal di posko pengungsian,” ujarnya.

Selain itu, air bersih sangat minim di rumahnya, dan genangan lumpur membuatnya sulit buang air besar. Di posko pengungsian, ia bisa mendapatkan air lebih cepat jika tersedia di bak besar. Ia berharap pemerintah atau pihak yang ingin menyumbang dapat memperbanyak ketersediaan air bersih untuk kebutuhan mandi dan cuci kakus di daerahnya.

“Jika rumah saya sudah bersih dan WC bisa digunakan, saya tidak perlu jauh-jauh ambil air,” ujarnya. Ia mengingat bahwa sumur air utama untuk kebutuhannya adalah sungai. Namun, saat ini, sungai tersebut membuatnya merasa takut dan khawatir. Airnya keruh dan kedalamannya bertambah, sehingga sulit diambil.


Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *