Mengenal Perilaku Gajah: Makan, Kawin, dan Sakit
Gajah adalah hewan yang paling besar di daratan dunia. Dikenal dengan tubuhnya yang besar, belalai panjang, gading yang tajam, telinga lebar, serta kecerdasan tinggi, gajah juga termasuk hewan herbivora. Di dalam hutan Riau, khususnya di kawasan hutan bergambut, hiduplah ratusan ekor gajah Sumatera. Populasi mereka mencapai 216 ekor hingga Desember 2025, meskipun jumlah ini mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya akibat konflik dengan manusia.
Sebagai makhluk yang dilindungi, gajah bukanlah musuh yang perlu diusir atau dibunuh. Sebaliknya, kita harus hidup berdampingan dengan mereka. Kunci untuk menyayangi gajah adalah dengan memahami perilakunya. Dalam artikel ini, kami akan membahas tentang bagaimana gajah makan, berkembang biak, dan bagaimana mereka merawat diri ketika sakit.
Bagaimana Gajah Makan dan Mencari Makan
Gajah hidup untuk makan. Mereka menghabiskan sekitar 21-22 jam sehari untuk mencari makan, sementara waktu tidur hanya 2-3 jam. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan makan yang sangat tinggi, yaitu sekitar 10 persen dari berat badannya setiap hari. Seorang gajah berusia 10 tahun memiliki berat antara 1,5 ton hingga 2,5 ton, sedangkan gajah dewasa bisa mencapai berat 5 ton. Dengan berat seperti itu, gajah membutuhkan makanan sebanyak 500 kilogram per hari.
Di hutan Riau, gajah memiliki jalur lintasan yang sudah ditetapkan sejak dulu. Jalur ini menjadi tempat mereka mencari makanan, terutama tumbuhan seperti rumput yang rasanya manis atau asin, serta semak-semak tertentu. Namun, saat hutan tersebut diganti dengan lahan kelapa sawit, gajah mulai memakan tanaman tersebut karena rasanya manis. Ketika lahan itu rusak dan ditanam kembali, gajah akan melintasi jalur yang sama lagi, sehingga terjadi konflik dengan manusia.
Selain untuk makan, gajah juga memakan tumbuhan untuk obat jika mereka sakit. Mereka tahu jenis tumbuhan apa yang bisa mengobati luka goresan, sakit mata, demam, atau cacingan. Semua penyakit ini bisa diatasi dengan tumbuhan yang ada di jalur lintasan mereka.
Bagaimana Gajah Kawin dan Berebut Betina
Perkembangan biak gajah sangat lambat dibandingkan manusia. Gajah betina membutuhkan waktu 22 bulan untuk mengandung dan melahirkan. Setelah melahirkan, ia membutuhkan waktu 5-6 tahun sebelum bisa kembali mengandung. Dalam waktu 5-6 tahun, hanya satu anak gajah yang lahir dari satu induk.
Proses perkawinan gajah jantan dan betina tidak terjadi setiap hari. Biasanya, gajah jantan tertua atau ketua kelompok yang akan mengawini gajah betina. Gajah jantan yang lebih muda hanya bisa mengawini gajah betina yang belum dikawini oleh gajah tertua. Gajah jantan mengetahui apakah gajah betina sedang dalam masa subur melalui bau air seninya.
Dalam satu kantong gajah, terdapat beberapa kelompok kecil. Pada suatu titik, kelompok-kelompok ini akan bersatu menjadi kelompok besar. Saat pertemuan ini, terjadi perebutan gajah betina. Setiap ketua kelompok akan berkelahi untuk mempertahankan betinanya. Perkelahian ini sering kali memakan korban, karena gajah jantan memiliki gading yang tajam. Namun, bangkai gajah jantan yang mati akibat perkelahian ini sulit ditemukan karena berada di dalam hutan yang jauh dari jangkauan manusia.
Bagaimana Gajah Sakit dan Mengobatinya
Gajah juga memiliki cara unik untuk mengobati diri sendiri saat sakit. Mereka tahu jenis tumbuhan mana yang bisa mengobati luka, demam, atau cacingan. Jika terluka, gajah akan mencari makanan yang bisa mengobati lukanya.
Di PLG Minas, gajah jinak memiliki kebutuhan makanan sekitar 300-400 kilogram per hari. Makanan mereka disediakan dan dibawa oleh mahout untuk dicari di sekitar PLG. Untuk kesehatan, gajah jinak juga rutin menjalani medical check up setiap tiga bulan. Obat cacing diberikan secara rutin karena cacingan bisa membuat gajah lemas dan bahkan mati.
Penutup
Konservasi gajah Sumatera di Riau terus dilakukan oleh BBKSDA Riau dan mitra lainnya. Saat ini, terdapat enam kantong gajah di Riau. BBKSDA Riau juga melakukan pemetaan jalur lintasan gajah dan meminimalisir konflik dengan manusia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memberi pakan gajah kepada masyarakat Sakai di sekitar jalur lintasan mereka. Hal ini bertujuan untuk mengurangi konflik antara gajah dan manusia.












