Kondisi TPST Bantargebang yang Mengkhawatirkan
Di kawasan Bekasi, Jawa Barat, terdapat Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang kini menjadi pusat perhatian karena tingginya gunungan sampah. Timbunan sampah di lokasi ini semakin meninggi dan mendominasi lanskap sekitar. Dari pantauan di lokasi, tinggi timbunan sampah di sejumlah zona landfill diperkirakan telah mencapai sekitar 70 meter, menyerupai bukit buatan yang membentang luas.
Gunungan tersebut terlihat jelas dari jarak sekitar 150 meter sebelum memasuki gerbang utama, tepatnya dari arah Jalan Pangkalan V. Dari kejauhan, hamparan sampah tampak membentuk kontur berundak, dengan bagian puncak tertutup lembaran plastik geomembran dan sebagian lainnya ditumbuhi vegetasi hijau.
Di dalam area TPST, aktivitas pengelolaan sampah masih berlangsung intens. Jalan beton yang menjadi akses utama kendaraan pengangkut sampah dipenuhi sisa-sisa material plastik, genangan air lindi berwarna gelap, serta bau menyengat yang tercium kuat, terutama di titik-titik dekat tumpukan terbuka. Di sisi kiri dan kanan jalur operasional, sampah anorganik seperti plastik, karung, dan sisa kemasan menumpuk tanpa penutup.
Beberapa area terlihat ditutupi terpal hitam dan biru, sementara di bagian lain timbunan sampah dibiarkan terbuka. Pada sejumlah titik, aliran air bercampur lindi menggenang di jalur kendaraan, menciptakan kondisi licin dan berlumpur. Di lereng gunungan sampah, alat berat seperti ekskavator terlihat bekerja meratakan dan memadatkan timbunan. Aktivitas ini membentuk lapisan-lapisan sampah yang disusun bertahap menyerupai terasering.
Namun, tingginya timbunan membuat jarak pandang ke puncak landfill semakin terbatas dari bawah, mempertegas skala persoalan sampah yang ditampung di lokasi ini. Sebagian puncak dan lereng gunungan sampah tampak menghijau. Vegetasi berupa semak dan rerumputan tumbuh di atas lapisan landfill yang telah lama tertutup. Dari pengamatan visual, penghijauan ini tidak merata. Di satu sisi terlihat hijau, sementara di sisi lain masih didominasi warna cokelat keabu-abuan sampah terbuka.
Di beberapa zona, pagar beton tinggi membatasi area landfill dengan jalur operasional. Tumpukan sampah tampak mendekati batas pagar, menunjukkan tekanan kapasitas yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Ketinggian tiga kali pohon kelapa, menurut pengepul limbah plastik di kawasan TPST Bantargebang, Andi (33), sudah berada pada level mengkhawatirkan.
Perubahan Zona dan Tekanan Kapasitas
Andi menjelaskan, pada awalnya TPST Bantargebang memiliki sekitar tujuh hingga delapan zona pembuangan. Namun, seiring meningkatnya volume sampah, konfigurasi zona mengalami perubahan. “Tadinya ada sekitar tujuh atau delapan, cuma sekarang ada beberapa zona yang dijadiin satu dan dibikin jalan,” ujarnya. Penyempitan dan penggabungan zona ini berdampak langsung pada kelancaran pembuangan sampah dari truk-truk yang datang setiap hari.
Ruang gerak semakin terbatas, sementara arus sampah terus mengalir tanpa henti. Menurut Andi, kondisi gunungan sampah yang semakin tinggi juga membuat risiko longsor sulit dihindari. Ia menyinggung peristiwa longsor yang terjadi di salah satu blok landfill beberapa waktu lalu. “Sampahnya turun kayak longsor tanah aja dari gunung,” katanya. Salah satu titik longsor terjadi di Blok Adang, sementara lokasi tempat ia beraktivitas relatif lebih aman dan belum pernah mengalami kejadian serupa.
Selain itu, terdapat zona-zona yang sudah tidak lagi digunakan untuk pembuangan. Zona tersebut ditandai sebagai area mati. “Kalau di sini jadi zona mati udah 10 tahunan, karena dekat banget sama kali. Kedua, kirinya udah pemukiman warga,” ujarnya. Zona mati tersebut ditandai dengan terpal hitam dan tidak lagi menerima sampah baru.
Aktivitas Padat di Tengah Keterbatasan
Truk-truk pengangkut sampah keluar-masuk area secara bergantian, menurunkan muatan yang kemudian diratakan oleh alat berat. Aktivitas berlangsung hampir tanpa jeda, menggambarkan beban pengelolaan sampah yang tidak pernah berhenti. Namun, tingginya timbunan sampah membuat kapasitas pembuangan kian terbatas. Pada titik tertentu, alat berat harus bekerja ekstra untuk memastikan jalur aman sebelum truk dapat membongkar muatannya.
Secara keseluruhan, kondisi TPST yang berdiri sejak tahun 1989 ini menggambarkan beban pengelolaan sampah yang semakin berat. Tinggi timbunan yang mencapai sekitar 70 meter tidak hanya menjadi penanda keterbatasan daya tampung, tetapi juga menegaskan urgensi penanganan dari hulu hingga hilir.
Kritik dari Pengamat dan Perspektif Sopir Truk
Pengamat perkotaan Universitas Indonesia (UI), Muh Aziz Muslim, menilai kondisi tersebut merupakan akumulasi persoalan struktural yang telah berlangsung lama. Volume sampah Jakarta yang terus bertambah tidak lagi sebanding dengan daya tampung tempat pembuangan akhir. “Volume sampah di Jakarta itu selalu bertambah dari waktu ke waktu, sementara kapasitas penampungan tempat TPA sudah tidak lagi bisa menampung volume sampah yang ada,” ujar Aziz saat dihubungi.
Kondisi tersebut, kata Aziz, berimplikasi langsung pada antrean truk sampah yang kerap mengular hingga berjam-jam. Daya tampung yang ada di Bantargebang saat ini juga sudah sangat terbatas, bahkan mungkin tidak lagi bisa menampung, sehingga antrean truk sampah sering kali menjadi sangat panjang.
Menurut Aziz, persoalan kapasitas landfill tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi infrastruktur menuju lokasi pembuangan. “Kapasitas landfill yang terbatas ini diperparah dengan infrastruktur dari dan ke lokasi pembuangan sampah yang sudah mengalami kerusakan,” ucap Aziz.
Ia menekankan, persoalan kapasitas landfill tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi infrastruktur menuju lokasi pembuangan. “Kapasitas landfill yang terbatas ini diperparah dengan infrastruktur dari dan ke lokasi pembuangan sampah yang sudah mengalami kerusakan,” ucap Aziz.
Risiko Longsor dan Antrean Truk
Tingginya timbunan sampah juga meningkatkan risiko longsor di sejumlah zona landfill. Petugas TPST Bantargebang, Roni (bukan nama sebenarnya) (50), mengatakan bahwa kejadian longsor tidak bisa dilepaskan dari aktivitas di atas gunungan sampah yang sudah sangat tinggi. “Terakhir penyebab longsor itu ada hubungannya dengan pemulung. Cuma kan mereka mencari makan di sini, kita enggak bisa melarang, mereka kan naik-naik ke atas,” kata Roni.
Menurut dia, para pemulung mengumpulkan sampah bernilai jual seperti besi, plastik, dan botol dari bagian atas gunungan. Sampah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam karung dan digelindingkan ke bawah. “Terus mereka gelindingin dari atas, nah itu yang bikin tumpukan sampah di bawahnya bergeser, gembur, dan akhirnya longsor,” ujarnya.
Roni menjelaskan, sistem pembuangan sampah di Bantargebang menggunakan pembagian zona. Namun, dengan volume sampah yang terus datang setiap hari, zona pembuangan kerap cepat penuh. “Jadi, sistem pembuangannya truk datang, itu ada zona-zona pembuangannya. Kalau zona satu sudah penuh, dicari lagi zona lain, gitu terus sampai akhirnya balik lagi ke zona awal,” kata Roni.
Perspektif Sopir Truk
Santo (bukan nama sebenarnya) (39), sopir truk pengangkut sampah asal Jakarta Selatan, menilai akar persoalan antrean dan longsor tidak lepas dari ketinggian timbunan sampah yang sudah melampaui batas ideal. “Ketinggian sampahnya sudah enggak layak, udah tinggi banget. Udah nggak ada lagi space buat buang sampah,” ujarnya.
Menurut Santo, kondisi tersebut membuat truk harus menunggu lebih lama hingga tersedia titik yang bisa dipadatkan. Longsor di area pembuangan juga menjadi salah satu penyebab utama antrean truk mengular hingga belasan jam. “Longsor itu yang udah ada sebulan kali, kena longsor,” kata Santo saat dihubungi.
Ia menyebut, longsor membuat proses pembuangan sampah tersendat karena sebagian zona tidak bisa langsung digunakan. Santo yang sudah bekerja sebagai sopir truk sampah sejak 2019 mengaku antrean panjang bukan hal baru. Dalam kondisi tertentu, waktu tunggu bisa mencapai setengah hari. “Masuk jam 09.00 pagi, pernah saya alami pulang jam 04.00 pagi,” ujarnya.
Kapasitas Hampir Penuh
Tekanan terhadap Bantargebang juga disoroti dari sisi kapasitas. Koordinator Kelompok Riset Teknologi Pengelolaan Sampah dan Limbah Padat Industri BRIN, Dr Sri Wahyono, menegaskan Bantargebang sudah berada di ambang kritis. Berdasarkan studi ITB tahun 2022, volume sampah yang masuk ke Bantargebang berkisar 5.948–8.773 ton per hari, dengan rata-rata 7.512 ton per hari.
Dengan timbulan sampah harian yang terus berada di kisaran itu, tekanan terhadap landfill Bantargebang semakin besar karena tidak diimbangi pengurangan yang signifikan. TPST Bantargebang memiliki luas total 132,5 hektar, dengan luas landfill efektif 81,91 hektar. Kapasitas desainnya sekitar 49 juta ton. Namun, pada 2019, landfill diperkirakan telah terisi 39 juta ton.
“Artinya, sisa kapasitas efektif tinggal sekitar 8 persen. Saat itu saja sudah bisa dikategorikan hampir penuh. Sekarang tentu sisa kapasitasnya semakin kecil,” ujarnya. Menurut Sri Wahyono, kondisi ini menjelaskan mengapa gunungan sampah terus meninggi dan ruang pembuangan semakin terbatas.
Solusi dan Tantangan di Masa Depan
Menjawab pertanyaan apakah Bantargebang masih sanggup menampung sampah, Sri Wahyono menyebut jawabannya bersyarat. “TPST Bantargebang pada prinsipnya masih dapat menampung sampah dalam beberapa tahun ke depan, tetapi sangat bergantung pada keberhasilan pengurangan sampah sebelum masuk ke landfill,” katanya.
Tanpa intervensi kuat, risiko krisis kapasitas akan semakin nyata. Sri Wahyono menekankan, memperpanjang usia Bantargebang hanya bisa dilakukan dengan mengurangi sampah dari hulu, memperkuat pemilahan di sumber, TPS3R, ITF, PLTSa, RDF, dan landfill mining. “Dengan timbulan sampah DKI Jakarta yang masih sekitar 7.500 ton per hari, mengandalkan landfill semata sudah tidak lagi memadai,” ujarnya.
Gunungan sampah setinggi 70 meter di Bantargebang kini bukan sekadar tumpukan limbah, melainkan cermin krisis sistemik pengelolaan sampah perkotaan. Tanpa perubahan mendasar, bukit buatan itu akan terus meninggi bersamaan dengan risiko lingkungan, sosial, dan kemanusiaan yang mengintai di bawahnya.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












