Budaya  

Destinasi Wisata Wajo Sulsel Buka 2025, Tiket Rp100 Ribu

Wisata Menarik di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

Kabupaten Wajo, yang sering disebut sebagai Kota Sutra, memiliki berbagai destinasi wisata yang menarik minat baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satu objek utama adalah Danau Tempe, danau tektonik yang terbentuk bersamaan dengan daratan Sulawesi di atas lempeng benua Australia dan Asia. Dengan luas sekitar 350 km², Danau Tempe menjadi danau terluas kedua di Sulawesi Selatan setelah Danau Towuti di Luwu Timur.

Berikut beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Kabupaten Wajo:

1. Rumah Apung di Danau Tempe

Rumah apung merupakan konsep rumah tradisional yang dibangun menggunakan bambu di atas perairan Danau Tempe. Hampir seluruh wilayah perairan Danau Tempe penuh dengan rumah apung. Untuk sampai ke tempat ini, pengunjung bisa mendatangi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) 45 atau tepi sungai Walanae.

Rumah apung tidak hanya menawarkan suasana damai dan sejuk, tetapi juga memberikan pengalaman unik bagi para pengunjung. Mereka bisa memesan menu makanan yang ingin disajikan ketika berada di rumah apung. Biaya untuk pergi pulang menggunakan Katinting (perahu tradisional) berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Jika ingin menginap, tambahan biaya sebesar Rp250 ribu hingga Rp350 ribu diperlukan.

2. Kawasan Rumah Adat Attakae

Kawasan Rumah Adat Attakae terletak di Kelurahan Attakae, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo. Berjarak sekitar 3,5 km dari Masjid Agung Ummul Quraa, Sengkang. Kawasan ini memiliki luas lahan 1,107 hektar dan total bangunan 1,616 m². Di dalam kawasan tersebut terdapat rumah adat utama yang dibangun sekitar tahun 1990 oleh La Tenri Bali, yang dipanggil Arung Matoa.

Tiket masuk ke kawasan ini sangat terjangkau, hanya Rp2 ribu untuk motor dan Rp5 ribu untuk mobil.

3. Masjid Tua Tosora

Masjid Tua Tosora terletak di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. Didirikan sekitar abad ke-16 atau pada tahun 1621 Masehi. Masjid ini dibangun di atas tanah berbukit dengan bentuk persegi panjang dan berada di ketinggian 30,6 m di atas permukaan laut. Di dalam kompleks masjid terdapat makam Syeikh Jamaluddin Akbar Al-Husaini, cucu turunan Nabi Muhammad Saw yang pertama kali datang ke Sulawesi. Pengunjung tidak perlu membayar biaya masuk.

4. Gelora Permata Hijau (GPH) Waetuwo

GPH Waetuwo adalah konsep agrowisata yang dikelola Pemerintah Desa Waetuwo. Di sini, pengunjung dapat menikmati pemandangan khas dari atas Gunung serta fasilitas seperti permandian alam dengan air jernih, pepohonan hijau, villa, dan gazebo. Biaya masuk untuk dewasa adalah Rp15 ribu dan anak-anak Rp7 ribu. Harga sewa vila mulai dari Rp250 ribu hingga Rp800 ribu.

5. Gelora Wisata Desa (GWD) Nepo

GWD Nepo berlokasi di Jl Pelita, Desa Nepo, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Pesisir Danau Tempe yang disulap menjadi tempat wisata semakin ramai pengunjung. Daya tarik lainnya termasuk spot Instagramable seperti gazebo di tepi danau, jembatan kayu yang dicat warna-warni, serta dermaga beton. Pengunjung tidak perlu membayar biaya masuk, baik parkir maupun karcis masuk gratis.

Pengembangan Wisata di Daerah Danau Tempe

Pemerintah Kabupaten Wajo tengah berencana mengembangkan Desa Wisata di sekitar Danau Tempe. Bupati Wajo, Andi Rosman, menyampaikan bahwa pihaknya akan memanfaatkan lahan untuk tanggul Radi A Gani dan melibatkan pelaku UMKM yang ada di pesisir Danau. Dengan adanya pemanfaatan tanggul ini, diharapkan akan ada wisata yang berkembang di sekitar Danau.

Selain itu, pihaknya juga fokus pada penetapan kawasan wisata cagar budaya. Potensi wisata di bidang budaya sudah dikordinasikan dengan Bidang Budaya Dinas Pendidikan untuk mendata, merevitalisasi bangunan, dan pengurusan pendaftaran sebagai cagar budaya melalui kementerian.

Pemerintah juga melakukan pemberdayaan terhadap warga yang tinggal di sekitar lokasi wisata melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang bekerja sama dengan pemerintah setempat dalam bentuk pemberdayaan.








Denis

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *