Perayaan Natal di Gereja Santa
Pada hari Rabu, 24 Desember 2025, kami sekeluarga memutuskan untuk ikut serta dalam perayaan Twilight Christmas di Gereja Santa Perawan Maria Ratu (SPMR) Blok Q Jakarta Selatan. Gereja ini sering disebut sebagai Gereja Santa, dan pasar setempat juga dikenal sebagai Pasar Santa.
Twilight Christmas, meskipun sebenarnya adalah Vigili Natal atau Malam Natal, saya menyebutnya Twilight Christmas karena acara ini dimulai pukul 17.00 WIB. Itu berarti akan melewati masa twilight dari pukul 17.45 sampai 18.15 WIB. Menurut saya, itu terdengar lebih keren.
Kami berangkat lebih awal agar bisa mendapatkan tempat duduk di dalam gereja. Kami belajar dari pengalaman Maria dan Yosef bahwa datang di saat-saat terakhir berisiko tidak mendapat tempat. Semua tempat penuh kecuali sebuah relung di kandang ternak.
Duduk di dalam gereja membuat kami lebih khusuk mengikuti perayaan Natal. Di dalam gereja lebih nyaman: dingin dan hening.
Ada mukjizat kecil. Di dalam gereja, kami mendapat tempat duduk di bangku yang biasanya kami duduki setiap kali ikut Perayaan Misa pertama pada hari Minggu pagi. Mungkin itu hadiah dari Yesus bagi kami yang sudah berjuang datang ke gereja dua jam sebelum Misa Natal dimulai.
Ornamen Natal yang Mengadopsi Budaya Lokal
Saya melihat sekeliling interior Gereja Santa yang berkonsep minimalis. Tahun 2025 ini ornamen Natal mengadopsi tradisi Bali. Tahun lalu mengadopsi ornamen Betawi. Tahun sebelumnya saya sudah lupa.
Itulah praksis gereja inkulturasi. Unsur-unsur budaya lokal dibawa masuk ke dalam gereja untuk membantu penghayatan iman sesuai konteks budaya lokal. Agama tak membunuh budaya.
Pilar-pilar di sisi kanan dan kiri dalam gereja dibalut dengan kain poleng khas Bali. Pada tiap pilar ditempelkan cermin khas Bali, semacam cermin tolak bala. Lalu di sisi kanan dan kiri atas cermin itu ada hiasan bulat semacam dream catcher.
Tidak paham makna ornamen itu. Tapi apik, sih. Senang melihatnya.
Ornamen paling mencolok adalah dua penjor khas Bali di belakang altar, persis di bawah salib besar dengan Corpus Christi berwarna hitam yang tergantung pada dinding.
Penjor itu bagus sebenarnya. Tapi kok ditempatkan di situ, ya. Itu kan mengganggu fokus pada salib. Juga menutupi pandangan pada layar proyektor di dinding belakang altar, sehingga sebagian teks lagu dan doa gak terbaca. Apakah sebelumnya tidak gladi resik untuk mencegah kesalahan yang mengganggu seperti ini?
Lazimnya penjor dipasang di pintu masuk. Tapi kalaupun dua penjor itu harus dipasang di dalam gereja, atas pertimbangan estetika, mengapa bukan di sisi kanan dan kiri depan panti altar saja, sih.
Konser Natal Mini
Menunggu jam vigili, istriku dan aku berdoa rosario, sendiri-sendiri. Aku mengambil ujud peristiwa gembira. Kedua anak perempuan kami menjalankan agenda doanya sendiri.
Aku sudah mendaraskan doa rosario setengah jalan lebih, masuk peristiwa gembira ketiga “Yesus lahir di Betlehem”, ketika dua orang tamu naik ke samping depan altar. Setelah memperkenalkan dirinya, aku tahu mereka adalah gitaris Anthony Sulistyo dan vokalis Vera Anastasia. Keduanya rupanya cukup tenar; aku saja yang tak kenal mereka.
Diiringi petikan gitar Thony yang memukau, Vera dengan suaranya yang memang merdu membawakan sejumlah lagu Natal. Aku sungguh menikmatinya sambil tetap meneruskan berdoa rosario.
Doa yang sudah dimulai wajib hukumnya diselesaikan. Jangan sampai terputus di tengah jalan karena, misalnya, terdistrak oleh nyanyian merdu. Nanti berkah Tuhan bisa terdistrak juga, jatuh kepada orang lain yang lebih khusuk berdoa.
Boleh dibilang, Thony dan Vera mempersembahkan konser Natal mini yang indah di Gereja Santa. Bagus sekali. Sangat jarang konser diizinkan di dalam gereja yang sakral. Ini pasti berkah Natal tahun ini.
Lagu yang Tidak Pantas Dinyanyikan
“Saya akan mempersembahkan lagu ini untuk kita semua,” kata Vera setelah beberapa lagu berlalu dengan tepuk tangan di ujungnya. Lalu mengalunlah syair ini: “I’ve heard there was a secret chord that David played, and it pleased the Lord but you don’t really care for music, do you?”
Astaga! Itu kan Hallelujah-nya Leonard Cohen yang sangat profan dan merayakan hasrat badaniah Daud pada Batsyeba. Tolonglah, sebelum konser di gereja, daftar lagunya dikurasi Pastor Paroki dulu. Mana yang pantas dan mana yang tak pantas dinyanyikan di depan Tabernakel.
Sama seperti Let It Be-nya Paul McCartney yang kerap disangka lagu rohani, karena menyebut “Mother Mary” (ibunda Paul), Hallelujah-nya Cohen juga sering disangka lagu rohani karena menyebut “Hallelujah” dan “David”. Padahal kedua-duanya seratus persen lagu profan.
Tapi sudahlah. Tak ingin menyalahkan siapa pun. Kesilapan adalah milik manusia. Untuk itulah Yesus, yang kelahirannya dirayakan senja itu, turun ke tengah manusia.
Kejutan Khusus
Seusai konser mini Thony dan Vera, ada kejutan khusus. Bang Rano Karno, Wagub Jakarta didampingi Romo Athanasius Kristiono Purwadi SJ, Kepala Paroki Santa, serta unsur-unsur pimpinan daerah, hadir ke depan altar gereja.
Bang Rano, mewakili pemerintah, hadir menyapa umat Gereja Santa. Sekaligus dia mendoakan Perayaan Natal berlangsung tenang di tengah kemacetan kota.
“Jakarta bikin Christmas Carol. Ada festival cahaya. Tapu tahun Baru nanti tak ada kembang api di Jakarta. Kita akan mengumpul sumbangan untuk rekan kita korban banjir di Sumatera di berbagai titik kota,” katanya. Nah, itu bagus sekali.
Gemerlap perayaan emang harus dihindari sebagai bentuk belarasa pada umat yang merayakan Natal dalam gelap dan dingin malam di tenda-tenda darurat di Sumatra sana. Pohon Natal di Gereja Santa, baru kusadari, ternyata tidak berhias kerlap-kerlip lampu. Sungguh empatik.
Perayaan Natal yang Lancar dan Khidmat
Dipimpin Romo Kris(tiono) secara konselebrasi dengan Romo Freddy Rante Taruk, Pr (Direktur Caritas), Vigili Natal berjalan lancar, meriah, dan khidmat.
Injil Kristus senja itu mengabarkan kegembiraan yaitu kelahiran bayi Yesus Kristus di kota kecil Betlehem. Ini kabar yang diberitakan ulang setiap tahun tanpa pernah menjadi usang. Kabar kelahiran Yesus selalu melahirkan kegembiraan baru dan inspirasi baru.
Tahun ini kabar gembira itu menjadi penghiburan khusus bagi para korban banjir Sumatera yang kehilangan rumah. Yesus Sang Raja pun datang ke dunia yang tak memberi tempat bagi-Nya untuk lahir sebagai manusia.
Homili Romo Kris sangat menggugah di senja itu. Mengambil simbolisme pencampuran setitik air ke dalam anggur sesaat sebelum konsekrasi, Romo Kris mengingatkan bahwa Yesus itu ibarat setitik air murni yang menetes ke lautan keruh untuk kemudian menjernihkan dan membersihkannya. Itulah mukjizat kelahiran Yesus Kristus.
Ya, Yesus datang ke tengah umat manusia, ke tengah keluarga, membawa kejernihan, membersihkan segala yang kotor, memurnikan yang tercemar.
Perayaan Natal dianimasi oleh paduan suara lengkap, SATB (Sopran-Alto-Tenor-Bas) yang tampil bernyanyi dengan vokal indah harmonis. Hanya saja, kadang ada saat-saat suara seperti tabrakan, atau terlindas. Mungkin itu soal teknis penempatan mik yang kurang pas saja.
Satu hal lagi, paduan suara senja itu membawakan Ordinarium Misa Natal J.A. Korman, berbahasa Latin. Ordinarium yang jarang dibawakan itu membuatku rada gelagapan. Rasanya kok ya seperti mendengar lagu Adeste Fideles berulang-ulang. Belum lagi teksnya di layar proyektor terhalang oleh penjor Bali tadi.
Pulang dengan Gembira
“Misa telah selesai. Pulanglah dengan damai.” Romo Kris menutup perayaan Misa Vigili Natal.
Tidak hanya damai. Kami juga bergembira. Sebab Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga. Itu tema Natal tahun 2025 ini.
Semua umat Gereja Santa bergembira. Baik mereka yang duduk di dalam gereja maupun yang berdiri di trotoar.
Kata Romo Kris, “Di luar dugaan, umat yang hadir sangat banyak, sehingga sebagian terpaksa harus berdiri di trotoar di pinggir jalan. Mohon maaf karena kita belum bisa menyediakan tempat yang lebih luas.”
Natal 2025 ini tampaknya menjadi titik balik menuju kegairahan beragama. Tidak hanya di gereja, suasana kegembiraan Natal juga menjalar ke sudut-sudut kota. Sepanjang jalan Sudirman-Thamrin pernak-pernik hiasan dan kerlap-kerlip lampu Natal menciptakan suasana gembira bagi semua warga, tanpa pandang agama, suku, dan golongan.
Tahun ini kota Jakarta ikut merayakan kegembiraan Natal.
Kami, sekeluarga batih, pulang ke rumah dengan hati gembira. Tak ada hidangan Natal menunggu di rumah. Kami sudah putuskan untuk memesan makan malam lewat aplikasi makanan daring saja. Hitung-hitung berbagi rejeki di hari Natal dengan sesama pejuang rupiah di jalanan dan dapur rumah makan.
Selamat Hari Natal untuk semua yang sedia membuka hati untuk kasih dan damai. Amen.












