Kehadiran Rafinha dan Spekulasi Transfer Jonathan Bustos
PSIS Semarang kembali menunjukkan komitmennya untuk membenahi skuad menjelang paruh musim Pegadaian Championship 2025-2026. Kali ini, klub yang dikenal dengan julukan Laskar Mahesa Jenar resmi mendatangkan striker asal Brasil, Rafael De Sa Rodrigues atau lebih dikenal dengan nama Rafinha. Pemain tersebut datang dari PSIM Yogyakarta dengan status pinjaman disertai opsi pembelian.
Kehadiran Rafinha menjadi sinyal kuat bahwa PSIS tidak ingin terus terpuruk di papan bawah klasemen. Manajemen bergerak cepat dalam mencari pemain berpengalaman untuk meningkatkan produktivitas lini depan yang masih menjadi masalah besar musim ini.
Rafinha bukanlah nama asing di sepak bola Asia Tenggara. Penyerang berusia 33 tahun ini pernah bermain di Liga Laos dan Thailand sebelum akhirnya menapaki karier di Indonesia bersama PSCS Cilacap dan PSIM Yogyakarta. Ia juga memiliki rekam jejak impresif saat membantu PSIM Yogyakarta promosi ke kasta tertinggi pada Pegadaian Liga 2 2024/25.
“Hari ini kami kembali mendatangkan pemain asing, Rafinha dari PSIM dengan status pinjaman disertai opsi pembelian. Rafinha sudah lama kami pantau dan kami yakin dia bisa membantu memperbaiki performa PSIS Semarang,” ujar CEO PSIS, Datu Nova Fatmawati, pada Senin, 29 Desember 2025 malam.
Menurut Datu Nova, perekrutan Rafinha bukan hanya langkah jangka pendek. Manajemen juga menyiapkan rencana lanjutan apabila sang pemain mampu memberikan kontribusi maksimal.
“Kami menyertakan opsi pembelian sebagai bagian dari rencana jangka panjang. Jika Rafinha tampil baik dan berkontribusi besar, tentu kami siap melanjutkan kerja sama,” tambahnya.
Masuknya Rafinha menambah daftar pemain asing PSIS musim ini, setelah sebelumnya klub mengamankan tanda tangan pemain asal Kolombia, Aldair Simanca. Selain itu, PSIS juga telah lebih dulu memperkenalkan tiga pemain naturalisasi sarat pengalaman, yakni Beto Goncalves, Esteban Vizcarra, dan Otavio Dutra.
Suntikan pemain berpengalaman ini tak lepas dari hadirnya investor baru yang membawa energi dan optimisme baru di tubuh PSIS Semarang, yang tengah berupaya bangkit dari periode sulit.
Namun, kehadiran Rafinha tidak membuat PSIS semakin tenang. Di tengah kedatangan striker baru, perhatian publik Semarang juga tertuju pada sosok Jonathan Bustos. Gelandang Persela Lamongan itu santer dikabarkan bakal menyusul ke PSIS pada bursa transfer Januari 2026.
Spekulasi masa depan eks Borneo FC ini menguat meski ia masih tampil sebagai starter dan menunjukkan performa cukup solid saat Persela menghadapi Persipura Jayapura. Namun, kekalahan 0-2 pada pekan ke-13 justru memicu isu perombakan skuad di tubuh Laskar Joko Tingkir.
Sinyal perpisahan semakin terasa setelah akun Instagram @4.3.3_psl mengunggah foto Jonathan Bustos dengan caption “Muchas Gracias Jonathan Bustos”. Unggahan tersebut langsung menyulut reaksi suporter dan memperkuat dugaan bahwa sang gelandang akan segera angkat kaki.
Rumor semakin liar setelah muncul kabar Bustos telah membeli tiket kembali ke Argentina pada 29 Desember 2025. Meski belum ada konfirmasi resmi dari klub maupun sang pemain, isu tersebut telanjur menyebar luas.
PSIS Semarang disebut-sebut menjadi salah satu klub yang memantau situasi Bustos. Jarak Lamongan ke Semarang yang hanya sekitar empat jam perjalanan darat membuat rumor ini terasa semakin masuk akal.
Kedekatan emosional di balik layar manajemen PSIS juga turut memperkuat spekulasi, mengingat struktur kepemilikan saham klub kini berada di bawah Datu Nova Fatmawati, istri mantan CEO Persela Lamongan, Fariz Julinar.
Hingga kini, Persela Lamongan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait masa depan Jonathan Bustos. Namun, jika kepindahan itu benar terjadi, kehilangan Bustos berpotensi menjadi pukulan telak bagi kekuatan lini tengah Persela di sisa kompetisi.
Sementara bagi PSIS Semarang, kehadiran Bustos bisa menjadi potongan terakhir dalam upaya keluar dari zona bawah klasemen, menyusul langkah awal mereka mendatangkan Rafinha sebagai ujung tombak baru.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












