Bisnis  

Kaleidoskop Energi 2025: Kebangkitan Akuisisi Bumi, Medco, dan Arsari Group



JAKARTA – Aksi akuisisi blok minyak dan gas bumi (migas) serta tambang menjadi salah satu tren utama di sektor energi sepanjang tahun 2025. Banyak perusahaan energi tercatat cukup agresif dalam memperluas portofolio bisnisnya, baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa perusahaan yang mencatatkan aksi akuisisi ini antara lain PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), Arsari Group, dan beberapa perusahaan lainnya. Berikut rangkuman aksi akuisisi tambang hingga blok migas sepanjang 2025:

1. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI)

BUMI melakukan dua aksi akuisisi saham perusahaan Australia pada tahun ini. Pada 7 November 2025, BUMI resmi merampungkan akuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas asal Australia, dengan nilai transaksi sebesar 63,5 juta dolar Australia atau setara dengan Rp698,98 miliar. Selain itu, BUMI juga menyelesaikan akuisisi Jubilee Metals Limited (JML) dengan nilai transaksi sebesar Rp346,93 miliar atau setara 31,47 juta dolar Australia.

Dalam keterbukaan informasi BEI, BUMI menjelaskan bahwa mereka telah memiliki 64,98% kepemilikan saham JML. Transaksi ini merupakan bagian dari strategi transformasi perseroan dan diversifikasi usaha di luar sektor batu bara. Di dalam negeri, BUMI juga menggandeng PT Supreme Global Investment untuk mengakuisisi saham PT Laman Mining dengan nilai pembelian saham sebesar US$59,1 juta atau setara Rp988,86 miliar.

2. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC)

Pada Juli 2025, MEDC menyelesaikan akuisisi Fortuna International (Barbados) Inc dari Repsol E&P S.à.r.l. Setelah akuisisi ini, hak partisipasi MEDC di Blok Corridor meningkat dari 46% menjadi 70%. Selain itu, pada September 2025, MEDC sepakat mengambil alih 45% hak partisipasi pada PSC Sakakemang dan 80% hak partisipasi pada PSC South Sakakemang.

MEDC juga menambah kepemilikan pada PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) melalui serangkaian transaksi, sehingga porsi efektif MEDC di TGI meningkat menjadi 40%. TGI mengelola jaringan pipa gas dari PSC Corridor dan pemasok lain di Sumatra Selatan–Jambi untuk memasok kebutuhan pembeli di Riau, Batam, dan Singapura.

3. PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU)

Emiten milik Happy Hapsoro ini mengakuisisi 100% saham SMS Development Limited untuk memperkuat portofolio usahanya di segmen migas. Akuisisi ini dilakukan oleh anak usaha RATU, PT Raharja Energi Madura (PT REM). Saat ini, RATU sedang bertransformasi menjadi operator hulu migas, dengan prioritas ekspansi non-operating investment melalui akuisisi participating interest (PI) pada PSC berskala besar.

Selain itu, RATU dikabarkan tengah menjajaki beberapa akuisisi hak partisipasi blok migas di wilayah Sumatra Selatan, Kalimantan Timur, dan Blok Kasuri di Papua Barat. Proses akuisisi ini dilakukan melalui negosiasi langsung dengan owner atau skema tender terbuka.

4. Arsari Group

Arsari Group, perusahaan milik Hashim Djojohadikusumo, gencar melakukan ekspansi bisnis, mulai dari sektor tambang hingga minyak dan gas bumi (migas). Terbaru, melalui anak usahanya PT Nations Natuna Barat, Arsari akan mengakuisisi 75% hak partisipasi (participating interest/PI) non-operator di Blok Duyung. Nilai transaksi sebesar US$16 juta atau sekitar Rp266,96 miliar.

Selain proyek migas, Arsari Group juga berencana mengakuisisi tambang di Kanada dengan nilai Rp7 triliun. Rencana ini diungkapkan oleh Presiden Direktur Arsari Tambang Aryo Djojohadikusumo, yang menyatakan bahwa proses negosiasi masih berlangsung dan target penyelesaian pada tahun depan.

5. PT Golden Eagle Energy Tbk. (SMMT)

Emiten batu bara ini telah menuntaskan akuisisi PT Bara Enim Sejahtera pada Juli 2025. Tujuan dari pengambilalihan ini adalah memberikan kendali langsung maupun tidak langsung atas 100% kepemilikan saham di PT Triaryani (TRA). PT Triaryani memiliki cadangan batu bara sebesar 273 juta MT dengan karakteristik batu bara rendah sulfur dan abu.

6. PT ABM Investama Tbk. (ABMM)

ABMM melalui anak usahanya mengumumkan akan mengakuisisi saham PT Piranti Jaya Utama senilai US$57 juta atau setara dengan Rp939,36 miliar. Transaksi ini dilakukan oleh anak perusahaan PT Reswara Minergi Hartama (RWA), yang melakukan penandatanganan perjanjian pengikatan jual beli saham (PPJB) atas saham-saham pada PT Piranti Jaya Utama (PJU).

7. Pertamina

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) resmi mengakuisisi 24,5% hak partisipasi di Blok Bobara dari Petroliam Nasional Berhad (Petronas). Aksi korporasi ini ditandai dengan ditandatanganinya Farm-Out Agreement (FOA) untuk Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract/PSC) Blok Bobara. Wilayah Kerja Bobara memiliki potensi sumber daya gas dan minyak bumi signifikan.

Subholding Pertamina lainnya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), juga mengakuisisi saham PT Patra SK sebesar 14% dari SK Enmove Co., Ltd. Selain itu, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) mengakuisisi 20% saham perusahaan energi hijau asal Filipina, Citicore Renewable Energy Corporation (CREC), dengan nilai investasi sebesar US$120 juta atau setara Rp1,96 triliun.

8. Sinar Mas Group

Frontier Resources, perusahaan terafiliasi Sinar Mas Group, diketahui berencana mengakuisisi Hyundai LNG Shipping, salah satu perusahaan pengangkut gas alam cair (LNG) terbesar di Korea Selatan. Nilai transaksi dari penjualan Hyundai LNG Shipping kepada Frontier Resources diperkirakan mencapai sekitar 3,8 triliun won Korea Selatan atau sekitar Rp43,05 triliun.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *