Liburan Mendadak ke Garut: Kebersamaan Keluarga dan Pertemuan Sahabat Lama



Setelah berlibur ke Talaga Bodas, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel. Perut kami terasa keroncongan, sehingga saya mencari informasi tentang rumah makan prasmanan sunda yang ada di Garut melalui media sosial. Kebetulan rumah makan tersebut terlewati, sehingga kami pun mampir. Nama rumah makannya adalah Sugema Raya, yang berlokasi di jalan Karangpawitan Desa Situ Gede Garut.

Desain interiornya sangat kental dengan nuansa sunda yaitu menggunakan ornamen bambu dan tempatnya terasa nyaman. Karena saya dan adik belum melaksanakan shalat dhuhur, kami langsung ke belakang menuju toilet dan mushola. Musholanya tidak terlalu luas tetapi bersih dan dindingnya juga terbuat dari bambu. Selesai shalat, kami kembali ke depan dan melewati area makan untuk lesehan berbentuk saung yang terbuat dari bambu dan atapnya terbuat dari jerami.

Suami dan yang lainnya sudah menempati meja dan sedang duduk menunggu kami. Setelah saya datang, kami pun mengambil makanan sendiri. Jenis makanannya sangat lengkap dan banyak pilihan. Semuanya tertata rapi di meja, ada aneka olahan daging, ikan, tahu, tempe, osengan sayur, urap, karedok, sambal cibiuk dan sambal matah, gorengan seperti mendoan atau perkedel, aneka pepes, olahan telur, sate maranggi serta lalapan segar.

Saya mengambil nasi, karedok, ikan asin dan tahu bubuk, sedangkan suami mengambil karedok leunca, goreng ikan mas kecil, dan lalapan. Ananda dan yang lainnya mengambil olahan daging seperti empal, gepuk dan opor ayam serta goreng mendoan dan perkedel jagung. Untuk minumnya kami mengambil teh tawar hangat. Saat kami duduk, ada petugas yang datang menghitung semua makanan kemudian kertas yang berisi total yang harus dibayar diberikan kepada kami. Harganya termasuk murah yaitu Rp 150.000,00 untuk 6 orang.

Selesai makan, saya pun membayar dan kami pun segera melanjutkan perjalanan. Saat kami keluar, banyak pengunjung yang mulai berdatangan ke rumah makan tersebut. Kata tukang parkir rumah makan ini ada 2, yang utama yaitu berada di Jl. Suherman, Ciateul Tarogong Kidul Garut dan katanya di sana lebih ramai. Saya lihat di IG ataupun di tiktok, banyak yang mereviu dan merekomedasikan rumah makan ini.

Pukul 14.30 kami sampai di hotel, dan beristirahat di kamar. Tak lama hujan turun sampai sore, rencana kami untuk berkunjung ke pemandian air panas setelah ashar gagal. Sambil menunggu hujan reda, saya menyeduh teh manis dan kopi untuk dinikmati bersama dengan camilan yang kami bawa dari rumah.

Saya ingat ada teman waktu SMA yang tinggal di sini, saya pun mengirim pesan kepadanya. Kami masih suka berkomunikasi di grup alumni SMA. Teman saya langsung menjawab, dan mengirim lokasi rumahnya. Saya mengajak suami untuk berkunjung ke rumahnya, dan beliau setuju untuk pergi ke sana nanti malam.

Pukul 16.30 hujan pun berhenti. Suami mengajak ananda untuk berenang di kolam yang terletak di depan kamar. Karena anandanya masih tidur-tiduran, suami turun ke kolam terlebih dahulu. Sepuluh menit kemudian barulah ananda mengikuti ayahnya, dan berenang berdua. Kebetulan ananda dulu pernah les renang sewaktu masih SD, sehingga bisa berenang dengan beberapa gaya. Suasana di kolam masih sepi, hanya ada mereka berdua sehingga serasa berenang di kolam pribadi.

Saya memperhatikan di gazebo yang ada di pinggir kolam, sambil mengambil foto dan video. Sudah lama suami dan ananda tidak sedekat ini, karena sejak ananda duduk di kelas XI SMA sudah memiliki kesibukan sendiri dan sudah susah untuk diajak pergi bersama. Tak lama keponakan pun ikut berenang, dan pengunjung lainnya mulai berdatangan ke kolam ini. Ananda sangat akrab dengan keponakan, tetapi sekarang sudah jarang bertemu karena keponakan sedang kuliah di Bandung. Kebetulan keponakan sedang pulang ke Cibadak, sehingga saya ajak. Ananda dan keponakan berenang sambil bercanda dan tertawa, bahkan keduanya dulu-duluan untuk sampai ke pinggir dan suami yang memberikan aba-aba. Kebersamaan dan keakraban terasa sekali antara suami, ananda dan keponakan.

Suami duluan naik dari kolam untuk mandi, sedangkan ananda dan keponakan masih berenang. Barulah setelah suami selesai, ananda dan keponakan bergantian untuk mandi. Saat magrib, suami dan sopir melaksanakan shalat di mushola sedangkan saya dan yang lainnya melaksanakan shalat di kamar. Kemudian kami siap-siap keluar untuk mencari makan, tujuan kami yaitu “Bakso Iga Garut” yang berlokasi di Jl. Pembangunan. Hanya sekitar 10 menit kami sudah sampai di sana.

Saya memesan bakso mie tektek, ananda memesan bakso keju, sedangkan yang lainnya memesan mie ayam campur bakso. Tak lama kemudian pesanan kami pun datang. Untuk mie bakso tektek ini, komposisinya selain mie, bakso, dan sayuran juga dicampur dengan telur, tahu dan diberi potongan cabe rawit. Saat dimakan terasa segar apalagi kuahnya panas, sangat cocok dimakan saat cuaca dingin sehabis hujan seperti ini. Kata suami rasa mie ayamnya juga enak, harga semangkok bakso dan mie ayam di sini berkisar antara Rp 20.000 — Rp 30.000,00.

Selesai makan bakso, saya memberikan kabar kepada teman akan berkunjung sekarang karena ternyata letak rumahnya tinggal lurus dari tempat ini. Kurang lebih 15 menit perjalanan, kami sudah sampai di rumah teman saya. Kami disambut olehnya di depan rumah, kami pun bersalaman sambil cipika cipiki. Terakhir kami bertemu 13 tahun yang lalu, saat mengadakan reuni kelas di Sukabumi. Kami berdua waktu SMA bersahabat dengan akrab, bahkan punya geng sendiri. Saat masuk ke dalam rumah, ada suaminya yang merupakan teman sekelas juga. Kalau dengan suaminya, saya baru bertemu lagi sekarang sejak lulus SMA. Mereka pacaran saat kelas 3 SMA, kemudian kuliah di tempat yang sama dan setelah lulus langsung menikah.

Obrolan kami pun mengalir dengan seru, mengenang zaman SMA dulu dan menceritakan bagaimana mereka bisa sampai tinggal di Garut. Selama setengah jam kami berada di sana, tetapi sudah cukup untuk melepas rasa kangen dan mengenang zaman dulu semasa sekolah. Kata teman kalau main lagi ke Garut, menginap saja di rumahnya sehingga tidak perlu membayar hotel. Kami pun segera berpamitan untuk kembali ke hotel.

Malam itu kami beristirahat, tetapi saya tidak bisa tidur nyenyak karena keponakan yang satu lagi mengirimkan kabar sedang sakit panas. Keponakan sedang menyusun skripsi, pada hari Seninnya akan melaksanakan seminar kolokium dan hari Rabunya akan mengikuti ujian komprehensif. Keponakan ini merupakan kakak dari keponakan yang ikut ke Garut.

Keesokan harinya pukul 07.00 kami semua sudah siap-siap dan segara sarapan di lobi hotel. Kami makan di satu meja, suasana sarapan sangat ramai dengan pengunjung lainnya. Pukul 08.00 kami meninggalkan hotel, dan atas saran dari teman semalam kami menuju objek wisata Tepas Papandayan. Jarak dari hotel ke sana kurang lebih 20 km, kami menuju ke sana mengikuti petunjuk dari Goggle map. Dari informasi di media sosial, di sini ada pemandian air panas dan pemandangan di belakangnya langsung gunung Cikuray sehingga bila cuaca cerah akan menghasilkan foto yang estetik. Selain ada pemandian air panas, juga ada jalur trekking untuk naik ke gunung.

Setelah 1,5 jam perjalanan kami pun sampai, tetapi di jalan yang menuju ke arah Tepas Papandayan kami dicegat oleh petugas katanya tempat parkir di sana sudah penuh, dan kalau mau bisa naik ojeg untuk sampai di tujuan. Kurang lebih 15 menit kami menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda kendaraan bisa bergerak ke sana. Sementara kendaraan yang datang semakin banyak. Mungkin karena sedang liburan, sehingga pengunjung menjadi membludak. Akhirnya kami memutuskan untuk putar balik saja kembali ke pusat kota Garut untuk membeli oleh-oleh dan langsung ke Bandung untuk menengok keponakan yang sedang sakit.

Setelah menengok keponakan dan memberi semangat kepadanya, kami pulang dan sempat mampir ke rumah kakak ipar di Cianjur untuk numpang shalat magrib. Kami sampai di Cibadak pukul. 21.30, alhamdulillah perjalanan yang kami lakukan lancar dan bisa sampai ke rumah dengan selamat.

Liburan ke kota Garut selama 2 hari walaupun dadakan tetapi memberikan kesan bagi kami sekeluarga. Selama di sana kami bisa mencicipi kuliner yang ada, menikmati kebersamaan bersama keluarga dan saya pun bisa bertemu dengan sahabat lama. Sepertinya perlu dijadwalkan kembali untuk liburan ke kota Garut saat cuaca cerah dengan melakukan perencanaan terlebih dahulu, supaya waktu yang dimiliki dapat dimanfaatkan lebih maksimal, destinasi yang ingin dikunjungi bisa lebih banyak, sehingga kebersamaan yang tercipta menjadi lebih berkesan dan bermakna.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *