Pengalaman Makan di Warung Acil Inun, Rumah Makan Khas Kutai di Samarinda
Liburan sekolah yang telah berlalu segera berakhir. Sebelum kembali ke Bandung, saya dan keluarga mengunjungi sebuah rumah makan khas Kutai di Samarinda. Beberapa tahun lalu, kami pernah mencicipi makanan di tempat ini dan terkesan dengan rasanya yang lezat dan otentik. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, lokasi rumah makan tersebut berubah.
Kini, Warung Acil Inun sudah pindah alamat dan hanya menerima reservasi. Hal ini membuat kami tidak bisa datang begitu saja tanpa memesan terlebih dahulu. Meskipun begitu, cara penyajian makanan tetap memperhatikan kesegaran dan kualitasnya. Makanan disajikan secara dadakan agar pengunjung dapat menikmati hidangan yang baru saja dimasak.
Salah satu menu andalan di Warung Acil Inun adalah sambal raja. Sambal ini merupakan ciri khas dari wilayah Kutai. Dulu, sambal raja biasa disajikan untuk para raja atau tamu kehormatan. Kini, masyarakat umum juga bisa menikmati sambal raja di sini.
Sambal raja terdiri dari campuran bahan-bahan seperti terong, kacang panjang, mangga, jeruk limau, bawang merah bakar, dan udang. Di tengah cobek, terdapat potongan telur. Meskipun tidak terasa pedas, sambal ini memiliki rasa unik karena kombinasi sayur, buah, dan protein.
Selain sambal raja, nasi bakepor juga menjadi salah satu menu favorit. Nasi bakepor mirip dengan nasi liwet Jawa Barat, namun dengan penambahan santan sehingga rasanya lebih gurih. Nasi ini dimasak menggunakan kastrol hingga bagian bawahnya berkerak.
Menu Khas Kutai Lainnya
Selain sambal raja dan nasi bakepor, kami juga mencoba hidangan khas Kutai lainnya. Salah satunya adalah sanga cabe mandai atau tumis cabe mandai. Mandai adalah kulit cempedak yang direndam dalam larutan garam. Setelah dipotong kecil-kecil dan digoreng, mandai ditumis dengan bumbu yang membuat rasanya lebih enak.
Hidangan lain yang sangat lezat adalah ikan lais goreng. Ukurannya kecil, teksturnya renyah dan garing, membuat saya ingin mengambilnya berkali-kali. Rasanya seperti kerupuk ikan.
Warung Acil Inun juga menyediakan berbagai jenis sambal gami. Sambal gami berbeda dari sambal biasa karena dimasak dengan cobek dari tanah liat. Selain bumbu, pada sambal gami juga dimasukkan berbagai jenis ikan dan seafood. Saat disajikan, aroma sambal gami yang masih mendidih di atas cobek membuat hidangan ini sangat menggugah selera.
Untuk melengkapi makanan, kami juga memesan sayur keladi dan terong bakar. Sayur keladi terdiri dari talas dan sayuran hijau lainnya, sedangkan terong bakar disajikan dengan sambal di cobek.
Penghargaan yang Menjadi Bukti Kualitas
Setelah selesai makan, saya melihat beberapa piala di meja. Piala-piala ini merupakan penghargaan yang diperoleh Warung Acil Inun dari berbagai lomba. Salah satunya adalah Juara 1 Lomba Masak Khas Kutai yang diadakan pada tahun 2019. Hal ini membuktikan bahwa masakan di sini benar-benar lezat dan layak diakui.
Makan di Warung Acil Inun sebelum pulang menjadi penutup dari wisata kuliner kami di Samarinda. Rasa otentik dan variasi menu yang lengkap membuat kami ingin kembali lagi suatu hari nanti.












