Bisnis  

Dari 10 Ekor Bebek, Taufiq Kini Produksi 10 Ribu Telur Asin dengan Limbah

Kisah Sukses Peternak Bebek di Kebumen

Di tengah tantangan ekonomi yang semakin berat, banyak orang mencari jalan alternatif untuk menghidupi keluarga. Salah satu contohnya adalah Taufiq, seorang peternak bebek asal Dusun Pagebangan, Desa Bulurejo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Dengan usaha yang dimulai dari nol, ia berhasil membangun bisnis ternak bebek yang kini mampu memproduksi ratusan hingga ribuan telur asin setiap hari.

Awal Mula Bisnis

Taufiq lahir pada 20 Agustus 2024. Saat itu, ia kehilangan pekerjaan dan harus mencari jalan baru untuk menghidupi keluarga. Di tengah kesulitan tersebut, ia melihat peluang di sekitar lingkungannya. Enceng gondok yang tumbuh subur dan limbah ikan yang melimpah menjadi bahan baku utama dalam usahanya.

Awalnya, ia hanya memiliki 10 ekor bebek. Namun, dengan ketekunan dan pengalaman, jumlah ternaknya berkembang menjadi 100 ekor. Pada masa awal pemeliharaan, ia menggunakan pakan pabrikan, namun setelah bebek berusia 21 hari, ia beralih ke enceng gondok dan limbah kepala ikan sebagai pakan utama.

Mengembangkan Usaha

Taufiq tidak berhenti sampai di situ. Ia kemudian belajar memproduksi telur asin. Ia berguru kepada seorang pelaku usaha telur asin di Soka, Kebumen. Setelah lima bulan, produksi telur asin pun dimulai dan hasilnya jauh melampaui ekspektasi.

Saat ini, total produksi telur asin Taufiq telah menembus lebih dari 10.000 butir per bulan, dengan rata-rata 300 hingga 500 butir per hari. Telur asin tersebut dijual secara grosir dengan harga berkisar Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per butir. Meski margin keuntungan tidak terlalu besar, perputaran usaha tetap stabil dan berkelanjutan.

Permintaan telur asin meningkat tajam seiring hadirnya program Makan Bergizi dari pemerintah (MBG). Produk telur asin buatan Taufiq kini diburu dari berbagai daerah, mulai dari Purworejo, Kebumen, hingga Wonosobo.

Keterlibatan Warga Sekitar

Taufiq juga aktif mengajak warga sekitar serta anggota kelompok ternak kecil agar ikut berkembang bersama. Banyak tetangga yang awalnya hanya punya 10 sampai 100 ekor bebek, sekarang ikut ambil telurnya. Ini juga sebagai pemberdayaan peternak yang belum besar.

Pada musim liburan dan bulan Rajab, permintaan telur asin melonjak lebih tajam. Kondisi tersebut membuat Taufiq harus bekerja ekstra. Ia kerap dibantu rekan-rekan dari Ansor dan Banser untuk mencari enceng gondok atau memberi pakan saat dirinya berhalangan.

Kisah Lain: Budidaya Ikan Patin di Jombang

Selain peternakan bebek, budidaya ikan patin di Kabupaten Jombang juga menunjukkan tren positif. Nilai jual komoditas air tawar ini melonjak signifikan, membawa dampak langsung pada peningkatan pendapatan para pembudidaya.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga ikan patin di tingkat peternak merangkak naik hingga menyentuh angka Rp25.000 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal yang sebelumnya bertahan di kisaran Rp20.000 per kilogram.

Kenaikan ini seiring meningkatnya kebutuhan pasar menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Suasana panen tampak sibuk di sejumlah kolam budidaya, salah satunya milik Muslik Fanani, pembudidaya patin di Desa Sumbersari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang.

Dari satu kolam berisi sekitar 3.000 ekor ikan, ia mampu menghasilkan panen lebih dari satu ton patin siap kirim ke pasar. Dengan harga sekarang, hasilnya sangat terasa. Biaya pemeliharaan sejak penebaran benih sampai panen sekitar Rp11 juta per kolam. Kalau harga stabil di Rp25.000, peternak jelas mendapatkan keuntungan.

Muslik mengelola sembilan kolam dengan pola panen bergilir setiap enam hingga tujuh bulan. Ia mengaku, selain faktor harga, keberhasilan panen juga ditentukan oleh perawatan kolam yang disiplin, mulai dari pengelolaan air hingga pemantauan kualitas lingkungan budidaya.

Kondisi serupa dibenarkan oleh Saiful, pedagang pengumpul ikan patin yang rutin mengambil hasil panen dari wilayah Jombang. Menurutnya, lonjakan harga terjadi hampir merata di sentra-sentra budidaya patin.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *