Daerah  

Ikon Baru Dukuh Zamrud di Balik Anggaran Rp1 Miliar

Pembangunan Gapura Utama Dukuh Zamrud, Bekasi



Pembangunan gapura utama Perumahan Dukuh Zamrud di Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, telah menjadi topik perbincangan publik. Proyek yang dibiayai hampir Rp 1 miliar dari APBD Kota Bekasi 2025 ini memicu debat antara kebutuhan penataan kawasan dan pertanyaan mengenai urgensi di tengah masalah infrastruktur lain.

Di balik sorotan tersebut, warga Dukuh Zamrud menyebut bahwa gapura bukanlah proyek dadakan, melainkan hasil aspirasi yang telah lama diperjuangkan sejak kawasan perumahan tak lagi dikelola oleh pengembang. Aspirasi warga yang diusulkan ke DPRD Kota Bekasi adalah salah satu bentuk upaya untuk menata kawasan agar lebih tertata dan indah.

Aspirasi Warga yang Diusulkan ke DPRD

Koordinator Seksi Forum Komunikasi Warga Zamrud (FKWZ) sekaligus warga setempat, Heru Rilano (52), menjelaskan bahwa gagasan pembangunan gapura muncul setelah pengelolaan perumahan diserahkan kepada pemerintah daerah. Ia mengatakan:

“Dukuh Zamrud ini sudah tidak ditangani developer. Sudah diserahkan ke pemda. Warga merasa perlu ada ikon dan penataan agar kawasan ini lebih tertata dan indah.”

Aspirasi tersebut kemudian disampaikan warga kepada anggota DPRD Kota Bekasi, Agus Rohadi, untuk diperjuangkan melalui mekanisme pemerintah daerah. Heru menambahkan:

“Lewat aspirasi warga, ini disampaikan ke Pak Agus Rohadi untuk dijadikan usulan ke Pemerintah Kota. Salah satunya ya pembangunan gapura ini.”

Anggaran dan Spesifikasi Jadi Sorotan

Proyek gapura ini tercatat memiliki pagu anggaran Rp 997 juta, dengan nilai kontrak sekitar Rp 877 juta. Heru menjelaskan bahwa besarnya anggaran berkaitan dengan spesifikasi bangunan yang dirancang tahan lama. Ia menuturkan:

“Yang bikin istimewa itu karena semuanya menggunakan struktur yang kokoh. Kemudian juga dari sisi arsitekturnya. Kami juga bikin pagar sebagai gerbang masuk bagi warga ataupun non-warga. Itu kenapa sampai sebesar itu nilainya.”

Ia menegaskan bahwa struktur gapura dirancang mengikuti standar nasional. “Untuk struktur, sesuai SNI dari Kementerian PUPR, harapannya bisa bertahan minimal 30 tahun. Tapi untuk cat dan eksterior tentu perlu perawatan berkala,” jelas Heru.

Pro dan Kontra di Tengah Warga

Heru tidak menampik adanya kritik dari sebagian masyarakat, terutama yang mempertanyakan prioritas pembangunan gapura di tengah kondisi sejumlah jalan yang masih rusak. Namun, ia menegaskan proses sosialisasi telah dilakukan sebelum proyek berjalan.

“Dukuh Zamrud melalui RW setempat sudah dikumpulkan terlebih dahulu. Dari belasan RW yang hadir, 100 persen itu setuju. Mereka mendukung pembangunan gapura ini,” ujarnya.

Menurut Heru, pembahasan desain juga melibatkan perwakilan warga dari masing-masing RW di blok perumahan. Sebagai warga, ia mengaku puas dengan hasil fisik gapura, meski tetap menyimpan catatan kritis.

“Secara fisiknya, puas karena kami jadi punya kebanggaan. Kalau secara kasat mata dari jauh, itu bagus hasil kerjanya. Tapi secara transparansi kerja tidak puas. Masih banyak hal-hal yang perlu direvisi atau dikoreksi,” ucap Heru.

Respons Wali Kota Bekasi

Menanggapi polemik tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menyebut setiap proyek pembangunan daerah melewati proses perencanaan yang melibatkan masyarakat dan legislatif. Ia mengatakan:

“Jadi saya kira kalau soal urgensi dan sebagainya ditanyakan kepada yang mengusulkan.”

Tri menjelaskan bahwa usulan pembangunan dapat masuk melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang), pokok-pokok pikiran DPRD, hingga diajukan dengan pendekatan teknokratis. “Pada intinya, kalau sudah menjadi kesepakatan di dalam yang kemudian ditetapkan melalui Perda kesepakatan bersama, kami pemerintah tentu akan melaksanakan,” ujar Tri.

Fungsi dan Wajah Baru Dukuh Zamrud

Berdasarkan pantauan di lokasi, gapura Dukuh Zamrud memiliki lebar sekitar tiga meter dengan bentang sisi kiri dan kanan masing-masing lima meter. Pembangunan dimulai pertengahan Oktober 2025 dan rampung pada akhir Desember 2025.

Di bagian tengah gapura disediakan ruang untuk petugas keamanan. Sementara di sisi kanan depan berdiri tembok setinggi sekitar dua meter bertuliskan “Dukuh Zamrud” berbahan aluminium. Area tengah juga dilengkapi pot besar dan tanaman sebagai elemen estetika.

Kini, gapura tersebut bukan hanya menjadi penanda kawasan, tetapi juga simbol perdebatan tentang prioritas pembangunan kota dan bagaimana aspirasi warga diterjemahkan dalam kebijakan anggaran daerah.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *