Ayah yang Hangat di Dalam dan Luar Rumah

Kualitas Laki-Laki Sejati Terletak di Rumah

Kualitas seorang laki-laki sebenarnya terlihat dari bagaimana ia bertindak di rumah. Segala hal yang dilakukan di luar rumah hanyalah topeng, persona, branding yang tidak nyata. Ia mungkin tampak ramah dan baik di depan orang banyak, tetapi ketika berada di rumah, sikapnya bisa jauh berbeda. Standar kemuliaan seorang laki-laki bukanlah dari karir atau prestasinya di luar, melainkan dari kepemimpinannya, tanggung jawab, kasih sayang, dan cinta kepada keluarga, khususnya istrinya.

Akun IG @Fit*nkar pernah bercerita tentang pengalamannya saat masih bujangan. Ia pernah bergabung dalam sebuah pengajian di Jakarta Selatan. Peserta-pesertanya rata-rata sudah menikah. Saat itu, ia sering dibecandakan agar segera menikah. Setelah menikah, teman-teman di pengajian datang termasuk ustadnya. Dari sirkel pertemanan ini, ia mendengar dinamika kehidupan berumah tangga.

Salah satu kisah yang ia dengar adalah tentang seorang lelaki yang di luar rumah selalu ramah dan tersenyum. Namun, ketika di rumah, ia justru bersikap kasar terhadap pasangannya. Ia awalnya sulit percaya dengan cerita tersebut. Hingga suatu hari, ia menemukan lelaki yang mirip dengan kisah tersebut.

Lelaki ini dikenal sebagai sosok yang royal dan menjaga martabat dalam pergaulan. Saat pergi bersama, ia selalu membayar ongkos taksi lebih dulu. Tapi, di luar kehangatan itu, ia sering emosian di rumah, mudah marah, dan tidak selektif dalam ucapan. Hal ini membuat istri dan anak-anak merasa tidak nyaman.

Tugas utama seorang kepala keluarga adalah mengayomi seluruh anggota keluarga. Sayangnya, banyak ayah yang menyerah dan meninggalkan tanggung jawab. Mereka mengalami kekecewaan hidup dan tidak memiliki semangat untuk menghadapinya. Sikap pengecut seperti ini akan berdampak buruk pada masa tua mereka.

Maka, para ayah yang tetap bertahan dan setia menunaikan tugasnya layak dipuji. Mereka berjuang dengan sabar, rela berkorban tanpa batas waktu. Ayah yang tidak mengabaikan tugasnya adalah lelaki yang penuh kebaikan.

Sementara itu, tugas para istri adalah menjaga rumah dan memastikan suami serta anak-anak betah. Sebagai belahan jiwa, istri dituntut untuk lebih banyak mengalah dan melayani suami sepenuh hati. Peran masing-masing harus saling melengkapi agar tali pernikahan tetap kuat.

Jadi, jangan merasa bahwa salah satu pihak yang paling berkorban. Masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Rumah yang harmonis adalah hasil dari kerja sama antara suami dan istri.

Ayah yang mencari nafkah jangan merasa berkuasa dan semena-mena. Berlakulah dengan baik karena anak dan istri bukan beban, melainkan amanah yang dipercayakan. Semesta tidak pernah salah dalam menguji manusia, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Para lelaki yang menjadi ayah telah disiapkan dan kokohkan raga serta mentalnya. Jadikan tugas keayahan sebagai medan juang untuk meraih kemuliaan. Karena ayah sejati adalah yang ramah di dalam dan luar rumah.

Ayah Sejati yang Ramah di Dalam dan Luar Rumah

Ada seorang dosen di Surabaya yang memiliki kesibukan mengajar cukup padat. Dulu, ia tinggal di gang yang sama dengan saya. Sering berkunjung dan mengenal baik keluarganya. Meski tidak disampaikan secara langsung, ada hal yang saya tidak setujui dengan pak dosen.

Ketidaksetujuan tersebut adalah ia menomorduakan keluarga demi kegiatan lain. Misalnya, ia lebih memilih datang ke pengajian meskipun anak sedang sakit dan butuh dibawa ke dokter. Uang yang dimilikinya digunakan untuk sedekah di pengajian, padahal istri membutuhkan uang untuk belanja dapur. Saya mengetahui cerita ini saat pak dosen keceplosan menceritakan hal tersebut sambil berangkat ke pengajian.

Sejak malam itu, saya menjaga jarak dan tidak gampang berbagi kabar, terutama jadwal pengajian. Agar pak dosen yang seharian mengajar, malam hari bisa kumpul bersama keluarga. Namun, kebiasaan pak dosen tidak berubah. Ia tetap pergi ke pengajian, bahkan tanpa ada saya di dalam sirkel pertemanannya.

Setelah menikah, saya menyadari bahwa anak dan istri sangat bergantung pada saya. Hal ini wajar, dan saya tidak menepiskannya. Saya tidak ingin mengulang kesalahan pak dosen, yang eksis di luar tapi mengorbankan di dalam. Saya tidak ingin mengutamakan ego pribadi dan mengabaikan keluarga.

Sekarang, meski tidak terlalu intens, beberapa kali saya berkomunikasi dengan pak dosen dan keluarganya. Pak dosen yang sudah pensiun dan tua, menyesali tindakannya di masa lalu. Citra diri sebagai family man di depan teman-teman berbanding terbalik dengan kenyataan. Penilaian orang luar tidak berarti jika kehadiran di dalam tidak dirasakan.

Anak pak dosen kini sudah menikah dan cenderung cuek pada ayahnya. Namun, mereka sangat perhatian pada ibunya. Ini menjadi pelajaran berharga bagi saya. Karena ayah sejati adalah yang ramah di dalam dan luar rumah.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *