Bisnis  

Lintah Darat Berjas untuk Kalangan Atas

Lintah Darat Berjas: Fenomena yang Mengancam Kesejahteraan Ekonomi

Lintah darat tidak hanya menargetkan masyarakat berpenghasilan rendah yang terdesak kebutuhan ekonomi. Mereka juga mempermainkan golongan masyarakat berpunya dengan modus yang sangat terstruktur dan profesional. Bukan sekadar penjaja uang dengan kantor sederhana, mereka memiliki kantor yang bagus, pendingin udara, mobil mewah, dan sering kali nongkrong di kafe atau hotel lounge dengan pakaian bermerek.

Di tempat-tempat seperti ini, “konsumen” bisa menemui dan mengajukan pinjaman. Tidak hanya dalam jumlah ratusan ribu atau sejuta dua juta, melainkan ratusan juta hingga miliaran rupiah. Prosesnya bisa dilakukan melalui kaki tangan “bos” tersebut. Lintah darat berjas memiliki persediaan banyak uang tunai hingga miliaran rupiah, bukan cek. Prosesnya cepat dan tidak perlu dokumen yang rumit seperti jika mengajukan pinjaman ke bank.

Perbedaan dengan Bank Keliling

Sama seperti bank keliling, proses berutang ke rentenir ini cepat dan tidak memerlukan setumpuk dokumen. Namun, bedanya adalah adanya bunga yang dikenakan. Lintah darat berjas mengenakan bunga 5 persen per bulan dari pokok pinjaman, setara 60 persen setahun. Sementara itu, bank keliling menerapkan bunga 300 persen per tahun. Ini membuat bunga yang dikenakan sangat tinggi dan bisa membuat peminjam terjebak dalam utang yang semakin besar.

Saya sedikit banyak mengetahui seluk beluk lintah darat berjas karena tidak sengaja masuk ke dalam pusaran bisnis kotor itu. Bunga yang dikenakan sangat mencekik, potongan dana tidak manusiawi, dan cara-cara kejam digunakan jika peminjam wanprestasi.

Pengalaman Pribadi dalam Bisnis Kotor

Ceritanya, bisnis kuliner tempat saya bekerja berpindah kepemilikan. Kafe dijual kepada seorang pengusaha. Karena kepemilikan baru, semua karyawan resign dan menerima pesangon. Namun, pemilik baru menahan saya, chef kepala, dan beberapa pegawai kunci agar tetap menjalankan operasional usaha. Saya pikir, tidak apa-apa. Toh hanya sementara dan saya sedang merancang usaha kuliner baru.

Singkat cerita, saya menjadi second layer dari pemilik baru dan sangat mengenal pribadi dan lingkaran usahanya. Bisnisnya meliputi:

  • Perusahaan Jasa Pengiriman Tenaga Kerja Indonesian (PJTKI)
  • Perusahaan entertainment pengiriman duta budaya ke Jepang
  • Membangun restoran & karaoke Jepang di Melawai Jakarta Selatan
  • Membangun usaha importir umum, memasukkan mobil Completely Built-up (CBU). Saya ikut membidani pendiriannya

Kerja saya rangkap-rangkap. Mengelola kafe, terlibat dalam seleksi tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri, mengurus tetek bengek impor di Pelabuhan Tanjung Priok, ikut membangun karaoke dan sistemnya. Capeklah, tapi duitnya banyak.

Usaha Sampingan sebagai Kreditur

Pemilik baru usaha –bos saya– sangat kaya. Konon, harta dikumpulkan dari hasil usaha pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Terbesar adalah dari bisnis pengiriman “duta budaya” ke Jepang. Duta budaya adalah wanita usia 18-25 tahun yang memiliki kemampuan berkesenian tradisional (menari, memainkan alat musik, dan sebagainya). Setelah dipilih, dilatih, dan beradaptasi di asrama, mereka dikirim ke Jepang.

Saya duga, bisnis ini merupakan pendapatan utama. Selain itu, dari hubungan ini ia terkoneksi dengan mafia Jepang. Bagaimana kisahnya, nanti cerita lengkapnya. Saya perlu mengumpulkan ingatan.

Ia memiliki usaha sangat menghasilkan, rumah mewah di atas lahan 5.000 meter persegi, mobil-mobil mewah, kantor-kantor mentereng, keistimewaan sebagai nasabah prioritas di beberapa bank papan atas. Berhenti sampai di situ? Tidak. Ia punya usaha sampingan sebagai kreditur kepada yang membutuhkan. Tentu saja, usaha peminjaman uang ini tidak legal.

Proses Pinjaman yang Cepat dan Licik

Kelebihannya, ia mampu menyediakan uang tunai ratusan hingga miliaran rupiah pada jam berapapun, yang tersimpan di brankas satu kantornya. Proses pengajuan tak dibatasi jam operasional, jam berapa saja di luar waktu istirahatnya. Ia pengidap insomnia. Beberapa kali membangunkan saya pada dini hari, untuk menemaninya ngopi di lounge sebuah hotel bintang lima.

Syarat peminjaman mudah, asal ada agunan bernilai cukup yang ditinjau pada hari itu juga. Jika semuanya memenuhi syarat, peminjam dapat menerima uang dengan menandatangani surat perjanjian dan kuitansi. Selain berisi angka, nilai terbilang, dan nama-nama, pada surat bukti penerimaan tertulis “uang titipan.” Bukan “uang pinjaman.”

Skema Penipuan yang Rumit

Bila peminjaman menyangkut uang tidak banyak dan tempo tidak lama, perikatan cukup dengan penyerahan dokumen agunan, perjanjian, kuitansi. Jika jumlahnya banyak dan waktu peminjaman lebih dari tiga bulan, perikatan agunan dilakukan di hadapan notaris.

Pemilik toko mebel besar di Kota Bogor mengagunkan lahan pabrik kasur busa, untuk mendapatkan pinjaman ratusan juta rupiah. Perikatan di notaris/PPAT, saya lupa prosesnya. Kira-kira, kreditur dan peminjam membuat Perjanjian Jual Beli Tanah (PPJB). Bila peminjam wanprestasi –tidak memenuhi kewajiban pembayaran setelah lewat waktu, maka PPJB akan jatuh menjadi Akta Jual Beli (AJB). Dengan AJB, kreditur segera melakukan balik nama sertifikat. Utang dianggap lunas.

Biasanya, nilai jual objek pajak melampaui jumlah kewajiban. Meskipun begitu, tidak ada pengembalian atas kelebihan nilai. Skemanya, NJOP tanah dan bangunan diagunkan jauh lebih tinggi daripada besaran utang. Licik ya?

Pengalaman Langsung dalam Transaksi Utang

Saya mengalami langsung transaksi utang jumlah kecil. Ipar teman saya membutuhkan uang cepat sebesar seratus juta rupiah, yang akan dikembalikan satu minggu kemudian. Agunan persil di daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Peninjauan dan pemeriksaan menyatakan bahwa agunan sangat bagus. Memenuhi syarat. Tanpa perikatan di hadapan notaris. Cukup menyerahkan sertifikat tanah serta menandatangani perjanjian dan kuitansi.

Prosesnya cepat. Pagi berbicara dengan saya, pada senja hari ia menerima uang. Tidak seratus juta, tapi delapan puluh lima juta rupiah. Lha kok? Pinjaman Rp100.000.000 dikenakan bunga 5 persen per bulan atas pokok. Sebulan atau kurang, tetap bayar bunga. Biaya administrasi 10 persen dari pokok pinjaman. Bunga dan biaya administasi dibayar di muka, dengan cara dipotong dari pinjaman.

Peminjam terima = Rp100.000.000 — [(5 persen x Rp100.000.000) + (10 persen x Rp100.000.000)] = Rp100.000.000 – Rp15.000.000 = Rp85.000.000. Nyedot darah banget, ya? Dari “biaya administrasi 10 persen, saya memperoleh “komisi” dari kreditur sebesar Rp4.000.000 setara 4 persen dari pinjaman.

Di situlah saya merasa bersalah. Kapok, tidak mau lagi jadi perantara untuk siapapun dalam mengakses lintah darat itu. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa saya. Aamiin.

Alasan Orang Kaya Mendatangi Lintah Darat

Syukurlah, ipar teman saya memenuhi janji. Seminggu kemudian membawa Rp100.000.000 sebagai pengembalian. Ia “rugi” lima belas juta rupiah dalam seminggu.

Lintah darat berjas. Konsumennya dari kalangan masyarakat kelas menengah sampai atas. Mereka terpaksa meminjam uang ke rentenir. Bukan karena desakan ekonomi yang mendasar, seperti kebutuhan untuk bertahan hidup (pangan, bayar kontrakan, beli sepatu anak) dan pendidikan serta kesehatan.

Saya memperkirakan sebagian alasan mereka mendatangi rentenir:

  • Memerlukan pinjaman dengan realisasi sangat cepat tanpa proses berbelit.
  • Nasabah “busuk” di mata bank. Ditolak bank untuk mendapatkan pinjaman karena rekam jejak buruk, telah melampaui batas kredit, usaha dinilai tidak layak, atau penilaian risiko lainnya.
  • Perlu menutup peluang bisnis yang berpotensi menghasilkan keuntungan besar, maka kecepatan pembayaran menjadi krusial.
  • Memperoleh kesempatan mendapatkan/membeli aset harga murah dalam waktu sangat terbatas.
  • Dan alasan sangat mendesak lainnya untuk, misalnya membayar utang atau kebutuhan sekolah anak di luar negeri.

Maka, kelompok atas yang tidak terkendala persoalan kebutuhan pokok mendatangi lintah darat berjas, untuk mendapatkan pinjaman cepat tak berbatas jumlah dan waktu.

Harini Umar

Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *