Alasan Ilmiah di Balik Kecanduan Berselancar Tanpa Tujuan di Internet

Penjelasan Ilmiah Mengenai Kebiasaan Mengecek Ponsel atau Menjelajah Internet

Apakah Anda sering mengecek ponsel atau sekadar menjelajah internet tanpa tujuan karena tidak tahu apa yang harus dilihat? Hal ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Hasil penelitian yang telah terbit di jurnal PNAS mengungkap bahwa kebiasaan ini dilakukan karena otak manusia membutuhkan pengetahuan, entah apakah informasi itu penting atau tidak.

Para ilmuwan dari Hass School of Business UC Berkeley menjelaskan bahwa informasi dapat merangsang sistem penghargaan dopamin manusia. Ini mirip dengan efek yang terjadi ketika kita mengonsumsi junk food, minuman beralkohol, atau mendapat uang. Dopamin adalah salah satu zat kimia di otak (neurotransmiter) yang berperan mempengaruhi emosi, gerakan, sensasi kesenangan dan rasa sakit. Dopamin memegang peranan penting dalam banyak fungsi tubuh manusia.

“Bagi otak, informasi ibarat hadiah. Terlepas dari informasi itu bermanfaat atau tidak,” kata penulis penelitian dan ahli neuroekonomi Ming Hsu. “Ini sama seperti otak kita yang menyukai kalori kosong dari junk food.”

Memahami Saraf Rasa Ingin Tahu

Ming Hsu dan timnya melakukan penelitian untuk memahami lebih dalam tentang rasa ingin tahu. Mereka mencoba menjawab dua pertanyaan utama:

  1. Dapatkah kita mencocokkan pandangan ekonomi dan psikologis tentang rasa ingin tahu, atau kenapa orang mencari informasi?
  2. Seperti apa rasa ingin tahu di dalam otak?

Banyak ahli ekonomi menganggap keingintahuan berorientasi pada tujuan konkret. Dengan kata lain, keingintahuan membantu manusia untuk membuat keputusan yang menguntungkan. Sementara dari pandangan psikolog, rasa ingin tahu berfungsi untuk memenuhi keinginan diri, yakni mengetahui suatu hal.

Penelitian Mengenai Rasa Ingin Tahu

Untuk melihat bagaimana saraf rasa ingin tahu bekerja, mereka mengumpulkan sejumlah peserta penelitian untuk bermain judi. Selagi responden bermain judi, para ahli memindai otak mereka. Dalam permainan tersebut, para peserta diminta membuat keputusan untuk mengeluarkan uang seberapa banyak demi mendapat informasi peluang menang.

Dalam beberapa kasus, informasi itu sebenarnya berharga, dan dalam kasus lain, ada yang menganggap informasi itu tidak begitu berharga. Namun studi menunjukkan, peserta mencari informasi berdasarkan manfaat dan antisipasi dari manfaatnya. Maksudnya, meski sebagian besar pilihan didasarkan pada berapa banyak uang yang bisa dimenangkan oleh mereka jika mengetahu informasi yang ditawarkan, tetapi banyak peserta memilih untuk melihat informasi terlepas dari target uang yang dimenangkan tersebut.

“Mereka melakukan antisipasi yaitu memilih membayar untuk sebuah informasi untuk memperbesar peluang menangnya bagi mereka, dan antisipasi (informasi) tersebut sebagai hadiah yang lebih menyenangkan atau dianggap lebih berharga,” kata Hsu.

Hubungan Neuron Antara Informasi dan Uang

Ketika pemindaian otak dianalisis, para peneliti menemukan bahwa informasi yang berkontribusi pada pengetahuan peluang menang judi, berhasil mengaktifkan bagian otak yang sama yang bertanggungjawab untuk penilaian, disebut Striatum dan Ventromedical Prefrontal Cortex (VMPFC). VMPFC merupakan area otak atau tempat sistem hadiah penghasil dopamin distimulasi.

VMPFC juga merupakan tempat dopamin dilepaskan melalui pemikiran dan keinginantahuan tentang makanan, narkoba, dan uang. Dengan memanfaatkan teknik pembelajaran mesin yang dikenal sebagai Support Vector Regression, para peneliti menemukan kode saraf yang sesuai dengan respon otak terhadap uang dan kode saraf terhadap rela membayar demi sebuah informasi dalam penelitian di atas adalah sama.

Ini berarti sejauh menyangkut apa yang ada di otak manusia, alhasil sebuah informasi dapat ditransmisikan ke dalam uang. “Kita dapat melihat ke dalam pemikiran di otak dan memberi tahu seberapa besar seseorang itu menginginkan sepotong informasi, dan kemudian kita terjemahkan aktivitas otak itu ke dalam jumlah uang,” ujarnya.

Kecanduan Informasi Internet

Penelitian ini berpotensi mengungkap kenapa begitu banyak orang yang terhubung ke internet dan menjadi kecanduan internet. Di mana hal ini membuat manusia terus-menerus mencari informasi di internet, terlepas dari penting atau tidak terhadap kehidupannya.

“Sama seperti junk food, ini mungkin situasi di mana mekanisme adatif yang sebelumnya dieksploitasi sekarang, karena kita memiliki akses yang belum pernah terjadi sebelumnya ke keinginantahuan yang baru,” ucapnya. Kecanduan internet telah dilihat sebagai masalah dan kebiasaan yang sulit dibuang. Namun, penelitian ini secara tidak langsung mengungkap kenapa manusia tidak bisa berhenti dari kecanduan internet. Bahkan hal itu bisa jadi karena hubungan kecanduan informasi dari internet sebagai sistem rangsangan terhadap kinerja dopamin di otak sangatlah kuat.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *