NASA perkenalkan teleskop baru, berburu 100.000 planet luar angkasa



NASA mengungkapkan gambar pertama dari Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman, yang telah selesai dibangun dan siap menjalani misi ilmiah besar. Misi ini mencakup pencarian planet ekstrasolar serta pemetaan Galaksi Bima Sakti. Teleskop generasi baru ini juga diharapkan bisa membantu menjawab misteri alam semesta, termasuk sifat materi gelap dan energi gelap yang masih menjadi teka-teki bagi para ilmuwan.

NASA menyatakan bahwa peluncuran teleskop Roman kemungkinan akan lebih cepat dari jadwal awal, sehingga pengumpulan data bisa dimulai sebelum akhir 2026. Nancy Grace Roman adalah teleskop unggulan NASA berikutnya setelah Teleskop Luar Angkasa Hubble yang diluncurkan pada 1990 dan James Webb Space Telescope (JWST) yang meluncur pada 2021. Observatorium ini dinamai dari astronom Nancy Grace Roman, sosok perintis yang pernah menjabat sebagai kepala astronom pertama NASA pada 1960–1962.

Roman dirancang untuk bekerja bersama Hubble dan JWST, bukan menggantikan teleskop yang sudah ada. Tinggi teleskop Roman adalah 12,7 meter. Foto terbaru yang dirilis pada 4 Desember memperlihatkan Roman berdiri tegak di ruang bersih Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland. Teleskop ini memiliki tinggi sekitar 12,7 meter dan bobot 4.166 kilogram. Pembangunan Roman dimulai pada Februari 2016 dan proyek ini masih sesuai anggaran awal sebesar 4,3 miliar dollar AS.

Setelah diluncurkan, Roman akan ditempatkan sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi di titik Lagrange L2 Matahari-Bumi. Lokasi tersebut merupakan titik stabil secara gravitasi, tempat JWST serta teleskop Gaia dan Euclid milik Badan Antariksa Eropa juga beroperasi.

“Penyelesaian observatorium Roman membawa kita pada momen penting bagi badan ini,” kata Wakil Administrator NASA Amit Kshatriya dalam pernyataan resmi. “Ilmu pengetahuan transformatif bergantung pada rekayasa yang disiplin, dan tim ini telah mewujudkan sebuah observatorium yang akan memperluas pemahaman kita tentang alam semesta.”

Julie McEnery, astrofisikawan di NASA Goddard sekaligus ilmuwan proyek senior Roman, menyebut Roman berada di ambang penemuan besar. “Dalam lima tahun pertama misi, diharapkan akan mengungkap lebih dari 100.000 dunia jauh, ratusan juta bintang, dan miliaran galaksi,” ujar McEnery.

Apa yang akan dilakukan Roman?

Roman dilengkapi dua instrumen utama yang menjadi kunci misi ilmiahnya dalam lima tahun pertama. Instrumen pertama adalah Wide Field Instrument (WFI), kamera 288 megapiksel yang dipasang pada cermin berdiameter 2,4 meter. WFI mampu menangkap citra definisi tinggi dalam cahaya inframerah, termasuk objek-objek yang terlalu redup untuk dilihat mata manusia.

Salah satu target utama Roman adalah menyusun peta pusat Galaksi Bima Sakti paling detail melalui Survei Bidang Galaksi. Program tersebut diperkirakan memakan sedikitnya 25 persen dari total waktu pengamatan Roman. Roman juga akan mengamati gugusan galaksi yang jauh serta “ruang hampa kosmik” raksasa. Pengamatan itu diharapkan dapat membantu ilmuwan memahami identitas materi gelap dan energi gelap.

Sementara itu, instrumen kedua adalah Koronograf yang berfungsi menghalangi cahaya bintang jauh. Teknologi ini memungkinkan Roman memotret planet ekstrasolar yang biasanya tertutup silau bintang induknya. Hingga September 2025, para ilmuwan telah menemukan lebih dari 6.000 planet ekstrasolar dalam sekitar 30 tahun. Roman diperkirakan dapat menemukan lebih dari 15 kali lipat jumlah tersebut hanya dalam lima tahun.

Jika target itu tercapai, Roman akan menjadi salah satu lompatan terbesar dalam pencarian planet di luar Tata Surya. “Pertanyaan ‘Apakah kita sendirian?’ adalah pertanyaan besar,” kata Feng Zhao, peneliti di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di California sekaligus manajer Instrumen Koronograf Roman. Zhao menilai perangkat itu bisa membawa manusia selangkah lebih dekat untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Kapan Roman akan diluncurkan?

Selama beberapa tahun, jadwal peluncuran Roman ditetapkan pada Mei 2027. Namun, awal tahun lalu muncul rumor bahwa Roman bisa meluncur lebih cepat dari target. Pada 5 Januari 2026, dalam pertemuan ke-247 American Astronomical Society di Phoenix, Arizona, tim proyek mengonfirmasi peluang peluncuran lebih awal tersebut. Tanggal peluncuran paling awal yang disebutkan adalah 28 September, menurut laporan Space News.

Roman akan diluncurkan menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX dari Kennedy Space Center NASA di Florida. Sebelum peluncuran, teleskop perlu diangkut sekitar 1.450 kilometer dari Goddard menuju Florida. Pengiriman dijadwalkan berlangsung pada Juni dan ketepatan waktunya akan menjadi indikator penting untuk memastikan peluncuran pada September.

NASA menyebut proses persiapan setelah Roman berada di orbit diperkirakan memakan waktu sekitar 90 hari sebelum pengumpulan data dimulai. Jika peluncuran benar terjadi pada 28 September, Roman kemungkinan mulai mengirim data sekitar 27 Desember.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *