Daerah  

Operasi Penyelamatan Banjir Bandang di Siau Sitaro Berakhir, Dua Korban Hilang

Penutupan Operasi SAR di Pulau Siau

Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) bencana di Kabupaten Kepulauan Sitaro resmi ditutup pada hari ke-14 pelaksanaannya, Minggu (18/1/2026). Dua korban atas nama Andres Pianaung dan Leonel Pianaung dinyatakan hilang seiring dengan berakhirnya masa operasi SAR. Penutupan operasi ini ditandai dengan pelaksanaan Apel Penutupan Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Kepulauan Sitaro yang dipimpin langsung oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Sitaro dan diikuti oleh seluruh unsur Tim SAR Gabungan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Manado sekaligus Kepala Basarnas Sulawesi Utara, George Mercy Randang, S.IP., M.A.P., menyampaikan bahwa hingga Minggu, 18 Januari 2026, pukul 16.00 WITA, Tim SAR Gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan kedua korban meskipun upaya pencarian telah dilakukan secara maksimal sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

“Seluruh potensi SAR telah dikerahkan dan pencarian dilakukan secara menyeluruh baik di darat maupun pesisir. Namun sampai dengan batas waktu operasi SAR ditambah 7 hari jadi 14 hari Pencarian Menyesuaikan 14 hari tanggap darurat yang dikeluarkan oleh pemerintah Kabupaten Sitaro, kedua korban belum berhasil ditemukan,” ujar George Mercy Randang.

Dengan dilaksanakannya apel penutupan tersebut, maka operasi SAR resmi dihentikan. Adapun hasil akhir operasi SAR bencana di Kabupaten Kepulauan Sitaro mencatat 76 orang selamat, 17 orang meninggal dunia, dan 2 orang dinyatakan hilang. Basarnas bersama seluruh unsur terkait menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam operasi SAR, serta mengucapkan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban yang terdampak bencana.

Peristiwa Banjir Bandang yang Mengguncang Daerah

Banjir bandang terjadi pada Senin tanggal 05 Januari 2026, sekitar pukul 02.00 WITA, setelah daerah tersebut dilanda hujan dengan intensitas tinggi. Bencana ini mengakibatkan ratusan warga terdampak. Wilayah yang terdampak meliputi Kampung Bahu, Peling, Laghaeng, Batusenggo, Bumbiha, Paseng, dan Bandil.

Kesaksian warga Detik-detik Banjir Bandang Menerjang menjadi bagian dari cerita mencekam yang dialami oleh warga Siau maupun Sulut. Senin (5/1/2026) dini hari seharusnya adalah waktu di mana orang-orang masih lelap dalam tidur. Namun tidak dengan warga Desa Bahu Sondang, Kecamatan Siau Timur, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Subuh itu, mereka terbangun karena dengar bunyi arus air yang menderu kencang lagi berisik. Dalam sekejap, banjir besar menerjang pemukiman. Beberapa warga meninggal. Sementara tiga lainnya hilang dan belum ditemukan hingga kini.

Rafles Tatoya (55) warga setempat menceritakan detik-detik bagaimana tejadinya peristiwa mencekam itu kepada Tribun Manado. Tim Tribun Manado bertemu dengannya di lokasi pengungsian, di Museum Ulu Siau, Kecamatan Siau Timur, Selasa (6/1/2026). Meski pun belum lama mengalami musibah, ia tampak tegar. Ia masih mengingat betul apa yang terjadi pada subuh itu.

“Waktu itu saya sedang tidur di rumah bersama istri dan anak saya. Lalu terbangun karena dengar ada suara seperti suara batu keras,” ujar dia. Ia pun bergegas keluar untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.

“Saat itu saya lihat di luar air sudah penuh di selokan. Kencang,” terang dia. Ia lantas kembali ke dalam rumah untuk mengambil senter. Bertepatan saat dirinya mendapat senter, tiba-tiba aliran listrik terhenti. Lampu mati, seketika itu juga suasana langsung berubah gelap gulita dan semakin mencekam.

Saat senter dinyalakan, ia kaget. Air dengan cepat sudah menuju rumahnya. “Dan memang saat terjadinya banjir itu, air cepat sekali masuk rumah. Airnya besar sekali,” terang dia. Dirinya pun langsung cepat-cepat kembali ke dalam rumah dan mengajak istri beserta anaknya untuk segera keluar mencari tempat yang lebih aman.

“Saya tarik tangan anak dan istri saya. Saya langsung ajak mereka keluar,” ujar dia. Saat proses menyelamatkan diri itu, dalam kondisi panik ia sempat terjatuh hingga kaki kirinya mengalami luka. Dalam benaknya hanya ada satu lokasi yang aman untuk situasi seperti ini, yakni Gunung Sempele yang berada tak jauh dari pemukiman mereka.

“Saat tiba di sana. Gunung itu masih sepi belum ada orang lain cuman ada saya dengan istri dan anak saya,” ujar dia. Sejam kemudian, warga sudah banyak yang ikut menyelamatkan diri di gunung tersebut. Rafles Tatoya menuturkan, meski ia dan keluarga berhasil menyelamatkan diri, namun rumah mereka habis disapu banjir.

“Rumah saya sudah hancur,” pugkas dia.


Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *